
Obrolan mereka di dengar oleh orang yang juga duduk lesehan di sebelah mereka. Karena lampu remang, membuat satu sama lain tidak bisa melihat orang di sekitar dengan jelas.
Candra dan Satya secara kebetulan juga tengah menikmati malam mereka di tempat yang sama.
Awalnya Satya yang kebetulan melihat Gunadh, hendak menyapa laki-laki itu. Namun Candra menahannya.
"Nggak usah panggil mereka. Ntar gabung lagi. Aku masih kesel liat si Mira itu." Ketus Candra.
Satya pun tidak bisa membantah ucapan wanita yang saat ini sering mengalami mood swing itu.
"Mau cari tempat makan yang lain?" Tanya-nya hati-hati, takut membuat Candra marah.
"Untuk apa? Kamu pikir aku takut sama mereka?" ketus Candra dengan wajah tidak sedap dipandang.
"Nggak gitu maksud aku sayang ... Kan tadi kamu bilang, kalau masih kesal liat muka Mira, aku nggak mau kamu nggak bisa menikmati makanannya kalau suasana hati kamu lagi nggak baik." Calon papa itu harus mengeluarkan alasan yang tepat untuk istrinya yang tengah mengidam.
Bila salah satu kalimat saja, maka ia harus bersiap mendengar tangisan pilu istrinya sepanjang malam.
Satya dan Candra menikmati hidangan mereka lebih dulu dibanding Gunadh dan Mira. Ketika
Satya sibuk dengan makanannya, hal berbeda dilakukan oleh Candra. Wanita itu menyuap nasinya dengan sangat pelan, seakan takut kalau ada yang mendengar suara sendok beradu di dalam mulutnya.
Ia memasang telinganya dengan benar. Sedikit mencondongkan tubuhnya ke belakang, dimana ia dan Gunadh saling berhadapan punggung.
Meski mulutnya mengaku kesal, namun rasa ingin tahunya juga besar. Ingin mendengar apa saja yang ayah dan anak itu obrolkan.
Apalagi saat ia mendengar nama Nandita disebut oleh Mira, rasa penasarannya semakin menjadi.
"Yank ..." Satya yang baru sadar akan tingkah istrinya menegur wanita itu.
"Ssst ..." Candra memberi kode dengan menempelkan jari telunjuk di ujung bibirnya.
Satya menggeleng, melarang istrinya melakukan itu.
"Mereka lagi ngomongin Dita ..." Bisik Candra mencondongkan tubuhnya ke arah sang suami.
"Jangan kepo yank ... Nggak baik, apalagi ada anak kita di perut kamu. Jangan sampai dia mempelajari hal buruk dari mamanya, dari sejak ia di dalam kandungan." Nasihat Satya.
__ADS_1
"Ini bukan mau aku yank ... Ini maunya anak kamu. Dia lagi pengen jadi detektif untuk onty Dita-nya. Siapa tau ada yang punya niat, nyakitin dia lagi kan?" Candra dengan lancar membela diri.
Satya hanya bisa pasrah. Semenjak hamil, tingkah istrinya semakin bar-bar tapi sensitif. Candra yang dulu sudah galak, kini semakin galak. Bahkan soal sensitivitas, ia menjadi berkali lipat dari sebelum hamil.
"Sambil dimakan donk itu nasinya, katanya kangen sama makanan di sini." Ujar Satya.
Candra mengangguk. Ia menuruti perintah sang suami, menyuap nasinya dengan lahap. Namun tubuhnya tetap condong ke dekat Gunadh.
🌟🌟🌟
"Kasihan juga si Mira itu ya yank ... Kayanya dia nyesel banget udah bikin Nandita pergi jauh ... Sampe nangis lho dia pas lagi ngomongin Dita." Candra membahas soal hasilnya menjadi seorang pencuri dengar, di warung nasi goreng tadi.
Satya yang masih fokus dengan jalan, hanya bisa menjawab dengan deheman.
"Yank ... Kamu dengerin nggak sih?" Rajuk Candra.
"Iya yank ... Denger kok ..." Sahut Satya, membuat Candra semakin bersemangat untuk bercerita.
Setibanya di rumah baru mereka, Candra buru-buru masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Setelahnya ia mengambil ponsel yang sejak tadi betah berada di dalam tas.
Ia mengirim foto punggung seseorang ke sebuah nomor luar negeri.
Ia tahu, pemilik nomor yang ia kirimi pesan tidak mungkin akan membalas saat itu juga.
Nandita masih bekerja di jam seperti ini. Perbedaan waktu lima jam dari kotanya dengan Turkey membuat komunikasi dua sahabat itu sering terhambat.
"Lagi apa Yank?" Satya yang masuk belakangan ke dalam kamar, bertanya pada istrinya yang tengah terkikik menatap layar ponselnya.
"Besok si Dita pasti heboh deh, nanyain ini siapa." Ucapnya, sembari memperlihatkan sebuah foto punggung seseorang dalam remang-remang.
"Memangnya itu siapa?" Tanya Satya penasaran.
"Fotonya mas Gunadh ... Aku tadi pura-pura selfie, padahal foto dia." Candra terkikik geli.
"Hapus yank ..." Titah Satya dengan wajah datar.
Setelah menikah dan kemudian hamil, bukan hanya Candra yang berubah, tetapi suaminya juga. Satya menjadi jauh lebih cemburuan, dibanding sebelum mereka menikah.
__ADS_1
Senyum Candra memudar, menyadari kesalahan yang tidak sengaja diperbuatnya.
"Maaf ..." Cicitnya, kemudian menuruti apa kata sang suami.
Mereka berdua berbaring saling berhadapan. Candra merrabba dada bidang suaminya dengan ujung jari telunjuknya yang lentik.
"Kalau dipikir lagi, kasihan juga si Mira itu ya yank ...." Ucapnya dengan tatapan sedih.
"Udah lah dari kecil nggak dapet kasih sayang yang utuh, terus diperalat sama mommy-nya sendiri. Orang yang mestinya melindungi dia. Sekarang, harus menghadapi kenyataan kalau mommy-nya terlibat kasus seperti itu." Tanpa sadar Candra menitikkan air matanya.
Satya meraih tubuh istrinya, membawanya dalam dekapan.
"Ssshhh jangan dijadikan beban pikiran sayang ... Setiap orang punya cobaannya masing-masing. Punya hutang karma berbeda, yang harus mereka bayar dari kehidupannya terdahulu. Kita doakan saja agar semua bisa melewati cobaan hidupnya masing-masing ya ..." Satya mengangkat wajah Candra, memastikan sang istri mendengar ucapannya.
Kemudian laki-laki itu mengecup kening calon mama muda itu dengan sayang.
"Sekarang bobo ya ..." Ucapnya sembari mengusap lembut, punggung wanita itu.
^_________^^_________^^_________^
jangan lupa
vote,
like,
komen,
kembang, kopi, pisau, kursi pijat, sama iklan sangat ditunggu yaaaa.
GunTha sayang kalian 😘😘😘
eeh hampir lupa, mampir di karya kedua emak ya ...
kisah seorang gadis biasa, yang menjalin hubungan dengan anak majikannya sendiri.
__ADS_1
dikhianati, patah hati, mati rasa dan akhirnya pasrah dengan sebuah perjodohan yang tidak pernah ia duga.
silahkan mampir ya ...