Nanditha

Nanditha
TAK BERDAYA


__ADS_3

Pemuda tampan dengan alis tebal itu, berjalan menuju sofa di mana dua wanita beda usia menatapnya dengan cara berbeda.


Aslan yang hanya menggunakan celana pendek dan kaos putih tipis itu, duduk di dekat Nandita.


"Benar kan? Kamu kekasihku saat ini." Pernyataan itu membuat Nandita kesal. Kenapa laki-laki di hadapannya ini begitu tega menjebaknya dalam situasi yang semakin rumit.


"Aslan," panggil Nandita dengan tatapan kecewa.


"Kenapa kamu tega menjebakku seperti ini?"


"Siapa yang menjebak? Benar bukan? Dengan kamu menerima aku hadir dihari-harimu, bukankah itu berarti kamu menerima diriku?"


Nandita menggeleng.


"Aslan ... Bukankah itu ...."


Gadis itu tidak dapat melanjutkan kalimatnya.


"Sudah. Cukup. Oma tidak mau lagi mendengar drama kalian." Oma menghentikan ucapan Nandita yang menggantung. Ia menatap Nandita dengan pandangan sedikit berbeda dari biasanya.


"Nandita, jujur Oma tersinggung dengan penolakan kamu, juga kebohongan kamu. Tapi untuk kali ini Oma maafkan. Sebab Oma tau, cucu Oma begitu mencintai kamu. Kedepannya, Oma tidak ingin ada hal seperti ini lagi. Dalam keluarga ini, sebuah hubungan bukan untuk dipermainkan. Jadi hargai hubungan kalian." Ia kemudian bangkit meninggalkan dua anak manusia dengan ekspresi berbeda di wajah mereka.


🌟🌟🌟


Terik matahari di musim semi, memang tidak terlalu menyengat menerpa wajah gadis bercelana jins hitam itu. Namun sejuk yang dihadirkan semilir angin, tidak juga mampu meredam gemuruh kecewa yang menyesakkan dadanya.


Nandita melangkah seorang diri, memeluk sling bag kulit yang setia menemaninya.


Ia pergi dari rumah Oma dengan segumpal sesal, kesal, juga rasa tak berdaya.


Kenapa serumit ini hidup yang harus ia hadapi?


Menuju halte terdekat, gadis itu merasa enggan kembali ke rumah onty Eby saat ini. Ia memutuskan mencari rute berbeda, mencari tempat yang lebih tenang untuk bisa berpikir jernih.


Laju kendaraan yang ditumpanginya, membawa Nandita menyusuri jalan berkelok dengan pemandangan alam yang memanjakan mata. Hiruk penumpang lain, tidak membuatnya terganggu. Ia betah dengan lamunannya.


Turun di satu terminal, gadis itu melangkah pasti menyusuri jalan seorang diri, menuju sebuah tempat yang sering ia kunjungi bila resah menghampiri.


Nandita mengistirahatkan tubuhnya di salah satu bangku yang tersedia. Pandangannya lurus ke depan, namun pikirannya melanglang ke banyak tempat. Sesekali ia terpejam, ketika semilir angin menerpa wajah mulusnya.

__ADS_1


Kembali terngiang ucapan Aslan yang membuatnya tidak mampu melanjutkan obrolan.


"Apa maksud kamu Aslan? Kenapa tidak berterus terang? Aku jauh-jauh datang kemari ingin mengatakan yang sebenarnya pada Oma. Kenapa kamu mengacaukan semuanya?"


Pria itu tak bergeming.


"Aku nggak nyangka kamu ngelakuin ini sama aku. Cinta itu nggak bisa dipaksa Aslan, sekalipun aku menerimamu, kamu hanya akan mendapat tubuhku tapi bukan hatiku." Nandita mencoba memberi Aslan pengertian, menahan kesal yang bercokol di hatinya.


Bolehkah ia lupa kalau dirinya tengah berada di negara orang? Ingin ia meninju wajah rupawan yang menatapnya tanpa dosa itu. Namun sekali lagi, ia tak berdaya di negeri ini.


"Apa yang kamu harapkan dengan mengucapkan kebohongan ini? Jangan kira aku akan diam saja. Oma harus tahu semuanya. Aku akan mengatakan semua pada oma." Nandita bergegas bangkit hendak menyusul wanita tua itu. Segala kesal sudah ia tumpahkan pada Aslan. Kini tinggal memberanikan diri bicara yang sebenarnya. Sudah tidak perlu lagi ia merasa sungkan atau menjaga perasaan orang lain saat ini.


"Pergilah, ceritakan semuanya. Dan bukan hanya kamu yang akan dibenci Oma, tapi pasti onty Eby juga kena imbasnya." Dengan santai pria itu berkata, membuat Nandita membeku.


"Apa maksud kamu?"


"Sudah jelas bukan? Apapun yang kamu lakukan, akan mempengaruhi sikap Oma terhadap onty Eby. Oma wanita penyayang, iya. Tapi dia tidak akan lebih menyayangi orang lain dibanding kelurganya sendiri. Mengerti maksudku bukan?"


Seringai tipis terbit di sudut bibir pria itu.


"Kekecewaan Oma padamu, bisa saja akan dilampiaskan pada onty Eby. Bagaimanapun juga, kamu ada di sini karena dia. Jadi dia yang harus bertanggung jawab atas tindakanmu."


Nandita kehabisan kata. Mulutnya tertutup rapat. Hanya tatapan nanar yang ia berikan untuk Aslan.


Ia pun kemudian melangkah menuju dapur, hendak berpamitan pada Oma dan opa.


Tanpa berkata apapun lagi, ia meninggalkan Aslan di ruang tamu itu dan melangkah keluar rumah.


Dering ponsel dalam tas yang masih setia dalam dekapannya itu, mengusik Nandita hingga tersadar dari lamunan.


"Halo onty," sahutnya setelah menerima panggilan.


"Nandita, kamu di mana? Kata Oma kamu sudah kembali sejak tadi?"


"Maaf onty, aku lupa kabarin. Aku lagi di bukit. Mungkin sore baru balik." Sahutnya.


"Ooh. Kamu sama siapa ke sana? Sendiri? Hati-hati ya nak ...."


"Iya onty, jangan khawatir."

__ADS_1


Panggilan itu kemudian berakhir.


Nandita menarik nafas berat, sesak yang menggelayut seakan menyempitkan saluran udara di rongga dadanya.


Apakah tinggal di negeri orang, melemahkan dirinya? Kenapa begitu takut akan resiko yang belum tentu terjadi?


Tapi bagaimana bila itu benar-benar terjadi? Kenapa harus melibatkan onty Eby dalam urusan perasaan dan hubungan yang tidak ia terima ini?


Ponselnya kembali berdenting, tanpa pesan masuk.


💌 : "Tebak aku lagi sama siapa?" Isi pesan Candra, sungguh membuatnya malas membalas. Sahabatnya itu, semenjak hamil sangat suka melakukan hal receh yang tidak penting.


💌 : "Siapa" balas Nandita seadanya. Bahkan tak ia sematkan tanda baca dalam ketikannya, sebab sejujurnya ia enggan.


Deg


Sebuah foto dikirim oleh calon ibu muda itu.


Terlihat Gunadh tengah tersenyum menatap Satya. Senyum mempesona namun tersirat kehampaan di sana.


💌 : "Aku tahu kamu kangen sama dia, jadi aku berbaik hati mengirimi gambarnya. Siapa tau bisa mengobati rindu mu. 🤭🤭" Candra memberi keterangan di bawah foto itu.


Nandita mengusap lembut gambar pada benda pipihnya itu.


Laki-laki ini yang ia inginkan, tapi kenapa tak kunjung datang menemuinya?


Apakah rindu ini hanya miliknya? Tidakkah rasa yang sama juga Gunadh rasakan untuknya saat ini?


💌 : "Aku lagi nggak baik-baik aja saat ini." Tanpa sadar Nandita menulis pesan itu pada Candra.


Sebenarnya ia ingin berkeluh pada Gunadh, namun ia tak mampu. Dan melihat foto pria itu membuatnya tanpa sengaja mencurahkan isi hatinya.


Dering ponsel tanda panggilan masuk, menarik kembali gadis itu dari pesona Gunadh.


"Ta, kamu kenapa? Lagi di mana ini?" Wajah khawatir Candra jelas terlihat, apalagi saat menyadari kalau Nandita tengah berada di luar rumah.


"Haa?" Nandita masih belum paham dengan pertanyaan sahabatnya.


"Kamu lagi di mana?!" Kesal Candra

__ADS_1


"Ooh, aku lagi di bukit." Sahutnya sambil mengarahkan kamera, mengedarkan ke beberapa sudut.


"Kamu kenapa? Ada masalah apa? Apa ada yang menyakitimu?" Tidak perduli dengan pemandangan yang ditampilkan Nandita, Candra kembali menanyakan keadaan sahabatnya.


__ADS_2