
Terimakasih,,,
Kamu bukan hanya penyemangat ku, tapi kamu juga penasihat ku.
"Gimana sayang? Suka gak?" Tanya Gunadh, ketika Mira menghampirinya saat istirahat.
"Uuh capek Dad,, padahal dulu waktu onty ngajarin aku di rumah, gak kaya gini. Di sini onty lebih galak, lebih serius." Keluh Mira pada sang Daddy.
Gunadh hanya bisa tersenyum, tanpa tau harus berkomentar apa.
Memang begitulah seharusnya sebagai pelatih. Harus menunjukkan wibawa agar disegani, agar didengarkan oleh muridnya. Bukan berarti seorang pelatih tidak boleh akrab dengan muridnya, tapi bisa menempatkan kapan dia bersikap tegas, kapan bisa bersenda gurau.
Beda halnya ketika Nandita melatih Mira dulu saat di rumahnya. Meski latihan dengan serius, namun saat itu Nandita adalah penjaga Mira, bukan pelatihnya.
Pasti ada rasa takut dalam hatinya untuk melakukan hal yang lebih ekstrim. Apalagi Gunadh yang dulu, selalu takut bila Mira kenapa-napa. Berbeda dengan sekarang, ia kini sudah lebih terbuka pikirannya tentang bela diri.
"Mas,,, diri kita tanggung jawab kita sendiri. Biarkan Mira bertanggung jawab atas dirinya, atas tubuhnya. Jangan semua serba dibatasi, hingga dia tidak tahu sejauh mana kemampuan dirinya." Itu kalimat Nandita dulu, saat mereka berdua berdebat soal Namira. Saat Gunadh tidak setuju Nandita melatih sang anak silat.
"Dad,,,!" Sentakan Namira membuyarkan lamunan Gunadh.
"Daddy gitu aah,, aku ngomong gak di dengerin." Gadis itu merajuk
"Maaf,,, tadi Daddy kurang fokus. Tapi Daddy denger kok apa yang kamu bilang."
Mira masih diam saja, masih merasa kesal dengan sang Daddy yang tadi mengacuhkannya.
"Mira sini,,,." Nandita memanggil.
Dengan mood yang sedikit rusak, Namira mendekat. Kakinya di hentak dengan wajah masih ditekuk.
"Kenapa mukanya jelek begitu?" Nandita menggodanya
"Daddy nyebelin, aku ngomong gak didenger. Malah asyik bengong, entah ngelamunin apa." Keluh Mira, sembari ikut duduk di samping Nandita.
Nandita tersenyum, lucu melihat tingkah Mira yang manja.
"Mungkin Daddy kamu lagi mikirin kerjaan, tau sendiri kan tiap hari kerjaannya banyak. Jadi maklumin aja. Daddy kan udah tua, biasa seperti itu." Gurau Nandita pada Mira, berharap gadis itu tidak marah lagi.
"Ya udah,, latihan lagi yuk. Habis itu kita jalan-jalan." Ajaknya lagi sambil meraih tangan Mira.
'Awas kamu yank,,, berani-beraninya bilang aku tua di depan anak.' Gunadh bergumam, namun hatinya menghangat melihat keakbraban dua gadis kesayangannya.
🌟🌟🌟
"Yeeeiiii,,,,!!! Pantaaaiiiii!!!" Seru Mira, saat Gunadh baru saja mematikan mesin mobilnya.
Gadis itu bergegas turun, tanpa menunggu dua orang yang duduk di depannya.
"Mira tunggu,, pake sunscreen dulu!" Teriak Nandita.
"Udah tadi di mobil!!" Sahut gadis itu, sambil terus berlari menuju bibir pantai.
Nandita melanjutkan mengoles krim pelindung pada bagian tubuhnya yang terbuka.
"Tar dulu,, kamu masih punya hutang sama aku." Gunadh memegang tangan Nandita, saat gadis itu hendak membuka pintu mobil.
Alis Nandita mengkerut, bingung dengan ucapan Gunadh padanya.
"Tadi kamu cuekin aku pas di kost, terus di tempat latihan kamu gosipin aku sama Mira. Aku merasa dirugikan, kamu bilang aku tua." Ucap Gunadh, membuat Nandita bengong.
"Gak jelas kamu mas,,." Ucap Nandita, kembali mencoba membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Gak akan bisa kamu buka yank, sebelum kamu bayar kerugian aku." Senyum licik Gunadh membuat Nandita meremang.
"Mas,,, Mira udah jauh itu. Nanti ada apa-apa lagi." Nandita kesal juga lama-lama pada laki-laki di depannya ini.
"Makanya cepat bayar hutang kamu, biar cepat nyusul Mira." Rajuk Gunadh.
"Huuuh,,," Nandita menghembuskan nafas kasar.
"Maunya apa?"
"Cium dulu,,. Kamu cuekin aku dari baru datang. Aku gak terima."
"Mas,,,! Lama-lama kamu makin mesum ya,,. Gak mau aku!"
"Ya udah kalau gak mau, kita di sini aja sampai sore. Gak usah keluar, gak usah main di pantai."
"Mira sendirian mas!!" Boleh gak sih Nandita cubit pria ini?
"Udah tua, kelakuan kamu kaya anak kecil tau! Gak ingat umur,,,."
"Terserah,,,." Gunadh tetap pada pendiriannya.
Nandita menghela nafas dalam lagi. Mungkin kalau kelakuan Gunadh selalu seperti ini, ia bisa cepat tua juga karena selalu dibuat kesal.
Mengalah, hanya itu solusinya. Mau tidak mau, Nandita harus melakukan yang Gunadh mau.
Cup
"Sudah,,. Sekarang buka pintunya cepat."
"Ini lagi sekali yank.... Please....." Menunjuk bibir dengan mata penuh mermohonan.
Cup
Ya sudah lelah, ingin segera menyegarkan hati dan pikiran. Berdebat pun Gunadh yang akan menang, jadi untuk apa? Hanya akan membuang waktu saja.
"Makasih yank,,." Ucap Gunadh tulus, sambil mencium tangan Nandita.
Setelahnya barulah ia membuka pintu mobil, yang tadi dikunci otomatis.
Tingkahnya memang kekanakan.
Entahlah, dia seperti menemukan tempat ternyaman untuk mengungkapkan segala rasa yang selama ini ia pendam sendiri.
Itu sebabnya ia terlalu posesif pada Nandita. Sebab ia tidak ingin kembali kehilangan.
Sebisa mungkin ia akan membuat Nandita selalu bersamanya.
"Onty,,, sini,,,. Balapan buat istana pasir." Mira yang sudah lebih dulu bermain, menyeret langkah Nandita agar segera mendekat.
"Panas Mira,,. Nanti agak sorean main pasirnya. Sekarang cari makan dulu yuk..." Nandita mengelus perutnya, tanda lapar.
"Yaa,,, gak seru donk..."
"Cari makan dulu sayang,, habis ini kita bikin istana berdua, kita kalahkan onty Dita." Gunadh ikut menimpali.
"Beneran Daddy mau ikutan?" Mata Namira berbinar.
"Benar,,, makanya kita cari makan dulu, biar ada tenaga."
Akhirnya mereka menuju tempat makan yang banyak berjejer di sekitar pantai tersebut.
__ADS_1
Pilihan mereka jatuh pada warung makan lesehan yang menyediakan aneka menu laut.
Gunadh memesan banyak menu, begitu juga Mira. Melihat itu, Nandita hanya menambahkan pesanannya dengan nasi putih, dan minuman segar.
"Kamu gak pesan yang lain?" Tanya Gunadh heran.
"Nanti aku icip punya kalian aja mas."
Nandita yakin, dua orang itu hanya lapar mata saja, sehingga memesan banyak makanan.
Ia tidak mau, nanti semua pesanan itu tidak habis di makan. Itu sebabnya ia sengaja tidak memesan apa-apa.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka datang.
Benar saja, pesanan mereka memenuhi meja yang di sediakan.
"Makanan segini banyak, memang kalian bisa habiskan semua? Coba kalau aku ikut pesan tadi, mau diletakkan di mana lagi makanannya?" Komentar Nandita, membuat Gunadh hanya bisa tersenyum kuda.
"Pisah dulu mana yang mau dimakan mas,, sisanya nanti biar bisa dibawa pulang." Titah Nandita lagi.
Gunadh dan Mira yang sudah bersiap menyantap hidangan, menghentikan gerakan tangan mereka, dan menoleh ke arah Nandita.
Nandita yang tidak sadar dengan tatapan keduanya, tetap sibuk memisahkan masing-masing setengah porsi makanan tersebut, dan menggabungkan menjadi satu.
"Kalian kenapa?" Tanya gadis itu, saat menyadari tidak ada pergerakan dari dua orang di sampingnya.
"Kenapa di gabung-gabung gitu onty? Kita kan mau makan?" Tanya Mira polos.
"Ooh" Baru Nandita sadar, sikapnya menjadi perhatian bagi pasangan ayah dan anak itu.
"Ini makannya nanti kalau yang ini sudah habis kita makan, biar gak tercampur. Nanti kalau gak habis biar kita bisa bawa pulang." Ucapnya sambil menunjuk makanan yang sudah ia pisah-pisahkan.
"Kalau kamu mau, nanti kita bisa pesan lagi. Gak usah bawa pulang makanan sisa begini." Gunadh merasa risih dengan sikap Nandita
Nandita yang peka, meras tidak enak dengan sikap spontannya itu. Ia yang terbiasa hidup sederhana, membeli sesuatu seperlunya, melihat makanan yang banyak dan sudah pasti akan bersisa, merasa sayang.
"Maaf mas,, aku gak biasa seperti ini. Maaf kalau aku berlebihan." Ucapnya penuh sesal.
"Sayang,, bukan gitu,,,. Maksud aku, ini udah tersaji, nanti kalau kamu mau kita bisa pesan lagi." Gunadh berkata lembut, namun belum paham maksud Nandita. Tapi ia tahu saat ini Nandita merasa tidak enak hati padanya.
"Udah onty,, makan aja, nanti keburu sore, kita gak bisa lama-lama di pantainya."
Mira tidak sabar, melihat tingkah dua dewasa yang ada di sebelahnya.
"Makan ya,, nanti kita ngobrol lagi." Gunadh meremas lembut tangan Nandita yang ada di sampingnya, di bawah meja.
Akhirnya mereka makan. Meski awalnya suasana terasa canggung, namun setelah beberapa saat, sebab Mira yang terlihat bersemangat, suasana kembali mencair.
Hingga sore mereka menikmati suasana pantai. Bukan hanya makan dan bermain pasir, mereka juga akhirnya bermain air mengikuti pengunjung yang lain.
"Mas maaf ya soal yang tadi." Ucap Nandita saat dalam perjalanan pulang.
Mira sudah tidur dengan nyenyak di kursi belakang. Jadi mereka bisa bebas bicara, tanpa takut Mira mendengar.
"Aku gak tau mas mikir apa soal sikap aku itu, hanya saja aku tau mas gak nyaman." Gunadh masih mendengarkan tanpa menyela sedikit pun.
"Mas,, aku lahir dari keluarga sederhana, tinggal di lingkungan yang juga biasa saja. Aku gak suka liat makanan dibuang sia-sia. Mungkin karena dulu orang tuaku mendidik aku seperti itu. Kebiasaan itu kebawa sampai sekarang." Nandita menghela napas sebelum kemanjutkan kalimatnya.
Gunadh mulai paham jalan pikiran Nandita. Ia jadi merasa tidak enak, sebab sempat berpikir yang bukan-bukan tentang gadisnya.
"Apalagi semakin dewasa, aku semakin mengerti tentang perjuangan hidup. Saat aku mengeluh dengan ikan, tempe, dan sayur yang disajikan di rumah, di luar sana banyak temanku yang sangat bersyukur, hanya dengan bisa makan nasi beras, meski menjadikan minyak kelapa dan garam saja sebagi lauknya."
__ADS_1
Gunadh malu sendiri mendengar penuturan Nandita. Tadi ia sempat berpikir, kalau Nandita bersikap memalukan dengan reaksi yang dia anggap berlebihan. Namun itu reaksi spontannya, karena alam bawah sadar Nandita selalu mengingat tentang kesederhanaan hidup yang dijalaninya duku.
Gunadh tak dapa berkata apa-apa. Dia hanya mampu menggenggam erat tangan gadis di sampingnya. Dengan perasaan haru, dan kekaguman yang semakin membuat dia jatuh cinta.