
Aslan menatap punggung Nandita yang berlalu meninggalkannya di taman seorang diri. Pria dengan jambang di wajahnya itu, tersenyum tipis mengingat aktingnya beberapa saat lalu.
Ia merogoh ponsel, untuk menghubungi seseorang.
"Done onty. Tugas aku udah selesai." Ucapnya ketika seorang wanita menyapanya di seberang sana.
"Terimakasih nak. Lalu dimana dia sekarang?"
"Dia meninggalkanku sendiri di taman onty. Aahh dia memang sungguh menyebalkan." Sungutnya namun dengan kekehan di akhir kalimat.
"Apa dia baik-baik saja?" Lanjut wanita di seberang.
"Dia terlalu angkuh untuk terlihat rapuh di mata orang lain onty, tapi aku yakin saat ini ia sedang sakit kepala, memikirkan cara untuk membawa laki-laki itu kemari." Tawa Aslan membuat onty Eby menggelengkan kepala.
"Apa yang kamu lakukan hingga bisa membuat Nandita seperti itu?" Tanya wanita cantik itu.
"Tapi onty janji jangan mengatakan apapun pada Oma dan opa ya ...." Aslan mengingatkan istri dari pamannya itu, sebelum ia menceritakan obrolan yang terjadi antara dirinya dan Nandita.
"Astagfirullah Aslan ... Kenapa kamu sampai bicara seperti itu ...!" Jerit onty Eby.
Alsan sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya, sebab teriakan dari wanita yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri itu begitu kencang.
"Ya kan aku harus terlihat meyakinkan, onty ... Kalau nggak, Nandita pasti akan menganggap ucapanku nggak serius," kilahnya membela diri.
"Ya tapi nggak juga sampai seperti itu ...." Ucap onty Eby lirih.
"Nggak apa onty, toh itu tidak terjadi. Ya sudah ya, aku mau balik dulu."
"Iya, kamu hati-hati nak. Makasih sudah bantu onty."
"Ya, sama-sama onty."
Aslan memutus sambungan telepon. Pria itu menuju tempat dimana mobilnya terparkir.
Aslan tersenyum, melangkah dengan kedua tangan ia masukkan ke kantung celana jinsnya. Melewati jalan setapak tempat biasa orang-orang berolah raga di sore hari.
Sesekali matanya melirik ke arah hamparan bunga warna-warni, yang terlihat seperti permadani yang membentang di alam terbuka. Keindahan yang tak akan membuat mata bosan memandangnya.
Dalam kepalanya menari kenangan saat pertama mengenal Nandita. Gadis yang lebih tua dua tahun darinya itu memang cukup menarik perhatian Aslan.
Tubuh gadis itu tidaklah besar, tapi tidak juga terlalu kecil. Tingginya hampir sebahu Aslan yang memiliki tinggi 175cm.
Tatapan gadis itu begitu teduh, meski bisa Aslan rasakan kehampaan di sana. Senyumnya pun sama, ada getir yang coba Nandita balut dengan sempurna.
Nandita yang awalnya cukup tertutup, hanya menjawab seperlunya saat ditanya, juga selalu menolak bila diajak keluar rumah, membuat Aslan tertantang untuk mendekati gadis itu.
Ia sempat berprasangka buruk pada nandita. Menganggap kalau dia hanya gadis munafik yang ingin mencari simpati.
Namun seiring berjalannya waktu, Aslan bisa merasakan ketulusan dari diri gadis itu. Pikiran buruknya soal Nandita yang munafik dan palsu, perlahan musnah. Apalagi ketika ia tanpa sengaja melihat gadis itu berlatih bela diri, di halaman belakang rumah onty Eby dan paman Murat-nya. Aslan semakin terpesona oleh gadis itu.
Ia pun memberanikan diri untuk mengutarakan cintanya. Namun sayang, harapannya sia-sia. Nandita menolak dengan alasan gadis itu masih ingin sendiri.
__ADS_1
"Maaf Aslan, aku masih nyaman dengan kesendirianku. Nggak ada niat di hatiku untuk menjalin hubungan istimewa dengan siapapun di sini." Tolaknya kala itu, yang membuat Aslan kecewa.
Ia kemudian meminta tolong pada onty Eby-nya untuk mau mendekatkan keduanya.
"Kamu yakin akan serius dengan Nandita? Dia bukan wanita sembarangan yang bisa kamu pacari, lalu kamu putuskan saat sudah bosan." Ucap onty Eby.
"Aku yakin onty." Sahutnya tegas.
"Siap untuk menikahinya?" Tanya wanita itu lagi.
Aslan melemas,
"Ayolah onty ... Aku masih muda ... Pernikahan terlalu jauh untukku saat ini." Sahutnya dengan wajah sedih.
"Kalau begitu, ya sudah. Jangan dekati dia lagi. Kalian memiliki prinsip hidup berbeda, akan sangat sulit untuk disatukan." Onty Eby memberi saran.
Namun di luar dugaan, Oma dan opa yang mendengar sekilas obrolan mereka justru berharap Nandita benar-benar akan menjadi cucu menantu mereka. Setiap ada kesempatan, mereka pasti berusaha mendekatkan Aslan dengan gadis Indonesia itu.
🌟🌟🌟
Onty Eby menunggu kedatangan Nandita di ruang keluarga.
"Selamat sore onty," sapa Nandita begitu memasuki rumah tersebut.
"Sore sayang ... Tumben telat sampai rumah." Wanita paruh baya itu pura-pura tidak tau.
"Tadi masih ada perlu di luar, onty." Sahut gadis itu.
Nandita berlalu, menuju kamarnya di lantai dua.
Onty Eby menyiapkan teh dan camilan untuk mereka nikmati berdua. Kebetulan suaminya sedang ke luar kota, jadi ia bisa lebih leluasa berbincang dengan anak dari sahabatnya itu.
Menunggu kurang lebih tiga puluh menit, gadis dengan rambut sebahu itu pun turun menggunakan pakaian santai namun tetap sopan.
Bila di Indonesia Nandita biasa menggunakan baju kaos lengan pendek dan celana pendek selutut ketika berada di rumah, di sini ia sebisa mungkin menggunakan pakaian yang lebih tertutup. Celana panjang, dengan atasan lengan panjang atau di bawah siku adalah pakaian sehari-harinya.
"Duduk Dita," titah onty Eby yang memang sudah menunggu sejak tadi.
"Sudah kamu pikirkan apa yang onty ucapkan tadi pagi?" Tanya wanita dua anak itu.
"Onty, maaf kalau aku mengecewakan onty, Oma juga opa, tapi aku nggak bisa menerima Aslan." Ucap Nandita tenang.
"Kenapa? Apa yang kurang dari anak itu? Dia mapan, tampan, dia juga pekerja keras. Bukankah dia layak untuk dicintai?"
"Iya, justru itu onty. Aslan terlalu sempurna untuk aku sakiti. Siapa aku berani mempermainkan perasaannya?"
"Maksud kamu?"
"Seperti yang onty tau, aku kemari bukan karena satu alasan. Selain untuk mencari pengalaman bekerja, aku juga ingin menyembuhkan hatiku yang terluka. Aku nggak mau menjadikan Aslan sebagai pelarian ku onty ...." Sahut Nandita menatap manik mata coklat milik onty Eby.
"Apakah luka itu belum sembuh?"
__ADS_1
Nandita menggeleng.
"Aku nggak tau onty. Aku juga bingung harus bagaimana." Gadis itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Ada yang mau kamu ceritakan sama onty?" Wanita itu akhirnya bisa menemukan cara untuk mengetahui isi hati Nandita lebih dalam lagi.
Nandita kembali menoleh.
"Onty sudah pernah bilang sama kamu bukan, jangan anggap onty orang lain. Apapun masalah yang mengganjal di hati kamu, kasih tau onty, biar kita cari solusinya bersama." Tutur lembut wanita itu.
"Onty ... Ada banyak hal yang menari di kepalaku. Semua yang terjadi saling bertolak belakang, membuat aku bingung dan bimbang."
"Jelaskan satu-satu." Ucap wanita itu sambil menuang teh khas Turki ke atas cangkir yang sudah ia siapkan. Tidak lupa, wanita itu juga membuka toples berisi camilan berupa kue kering berbentuk cincin bernama Simit, dan meletakkannya di atas piring.
Makanan itu adalah favoritnya semenjak ia baru menginjakkan kaki di negara itu puluhan tahun lalu.
Nandita meneguk teh yang disiapkan onty Eby, sebelum ia memulai ceritanya.
^_________^^_________^^_________^
masih semangat kan kesayangan GunTha?
yuk
vote,
like,
komen,
jangan lupa gift dan iklannya juga ya ...
seperti biasa, aku mau promo lagi nih 😁😁😁
intip karya kawanku ya ... nikmati ceritanya 😘😘😘
***
Di balik diamnya seorang istri ada penyesalan yang sangat mendalam.
Zhia Valensia yang sudah merasa lelah dengan sikap sang suami akhirnya memilih untuk diam. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang di lakukan suaminya dan memilih untuk mengejar karirnya kembali.
Rayyan Ardinata sosok suami yang masih suka kebebasan. Dia selalu menghabiskan waktunya dengan nongkrong bersama teman temannya. Hingga akhirnya dia terkejut dengan sikap istrinya yang akhirnya memilih untuk diam dan tidak perduli lagi dengan apa yang dia lakukan.
Hingga akhirnya Rayyan mengambil suatu keputusan besar. Dia membawa selingkuhannya ke runah besar mereka untuk melihat bagaimana istrinya.
Namun, Rayyan langsung saja terkejut ketika melihat reaksi sang istri ketika melihatnya sedang bercumbu di dalam kamar mereka.
Mulai dari saat itu Rayyan langsung saja bertekat untuk merebut hati Zhia kembali.
__ADS_1
Akankah Rayyan dapat meluluhkan hati sang istri yang telah mati?