
"Om, Tante," Sapa Nandita ketika memasuki rumah masa kecil sang bunda.
"Eh Ta, sudah datang rupanya." Sambut Tante ayu dengan ramah.
Nandita mendekati ruang keluarga dimana para paman dan tantenya berkumpul.
Ia meletakkan beberapa tas belanja di sofa tempat ia duduk. Meski ia bukan penakut, tapi ada dalam situasi seperti ini membuat nyalinya sedikit menciut.
Melihat wajah Nandita yang terlihat tegang, om Putra menggodanya.
"Gak usah tegang gitu mukanya, kami bukan debt kolektor yang mau nagih cicilan tv kok." Kekehnya.
Nandita tersenyum canggung.
"Hee ngga kok om. Biasa aja." Ucapnya
"Oh ya, ini Dita bawa coklat sama beberapa pernak pernik." Ia lalu menyodorkan paper bag berisi oleh-olehnya dari Paris.
"Waah banyak sekali Ta, habis berapa uang kamu ini?" Tante Ayu takjub dengan apa yang Nandita bawa untuk mereka.
Ada coklat, teh, parfum, juga tidak lupa miniatur menara Eiffel di dalam paper bag itu
"Itu bukan Dita sendiri kok yang beli Tan, ada beberapa yang dibelikan Louis sama kak Bian. Terus parfumnya, itu mas Gunadh yang pilihkan untuk om." Ucap Nandita hati-hati.
"Oohh, bilang makasih sama Gunadh ya. Sama itu juga, siapa nama tunangannya Bian?" Tanya Tante ayu yang memang lebih cerewet dibanding Tante Sarah.
"Louis Tante."
"Ya, itu bilang makasih sama Louis." Ucapnya lagi.
"Ya Tante, nanti Dita sampaikan." Ucap Nandita.
Syukur ada Tante Ayu yang bisa mencairkan suasana. Kalau tidak, otot leher Nandita pasti sudah tegang sedari tadi karena terus ditatap oleh om Damar.
Tante ayu merapikan barang-barang yang Nandita bawa. Kemudian pamit untuk membantu Tante Sarah di dapur menyiapkan minuman.
__ADS_1
"Jangan keras-keras sama Dita. Kasihan dia tertekan" Bisiknya pada sang suami sebelum mengangkat tubuhnya dari kursi tempat ia duduk.
Om Damar hanya menatap sang istri sekilas, kemudian kembali fokus ke arah Nandita.
"Kamu tahu kenapa om minta kamu datang?" Tanya laki-laki yang kini menjabat sebagai Kapolsek tersebut.
"Gak tahu sih om, cuman tadi pagi aku diberi tahu sama bunda soal apa yang terjadi selama aku gak di sini." Sahutnya.
"Bunda kamu cerita apa?" Om Damar persisi seperti seorang penyidik, dengan tatapannya yang mengintimidasi.
"Katanya ada gosip kalau aku ini pelakor. Sampai-sampai, kakek shock mendengarnya hingga beliau masuk rumah sakit." Jawab Nandita dengan tenang.
"Hanya itu?" Tanya om Damar lagi. Nandita menganggukkan kepalanya.
Om Damar menarik nafas. Mencari kalimat yang tepat, namun sulit ia temukan.
"Bukan hanya itu Ta, gosip soal kamu yang jadi pelakor itu beredar di medsos hingga membuat usaha kamu juga kena imbasnya. Omset kamu bulan ini mengalami penurunan, terutama dari pelanggan yang kenal secara pribadi dengan anggota keluarga kamu." Kini giliran om Alan yang membuka suara.
Ia diberi tahu oleh kakaknya tentang masalah ini.
"Masa sih om? Dita belum cek soalnya. Sampai sejauh itu ya?" Gumamnya, seolah bertanya pada diri sendiri.
"Ya sejauh itu." Sahut om Damar dengan suara ketus.
"Kok bisa? Apa hubungannya sama masalah Dita om?"
"Karena orang-orang tahu kamu bagian dari Dapur Kita. Orang merasa, untuk apa memberi kamu keuntungan padahal kamu bukan panutan." Cerca om Damar.
"Jadi om percaya kalau aku melakukan itu?" Tanya Nandita dengan wajah memerah.
"Ya siapa yang tidak akan percaya kalau bukti yang beredar seperti itu? Bahkan anaknya Gunadh pun membenarkan kalau kamu ingin merebut ayahnya dari dia juga mommynya. Ada kok videonya." Ucap om Damar berapi-api.
Hati Nandita mencelos, bagai diremas oleh tangan tak kasat mata, perih, sakit, luka yang tak berdarah.
Kenapa Mira setega itu pada dirinya?
__ADS_1
"Om punya videonya?" Nandita bertanya dengan suara bergetar. Ia merasa bodoh karena sejak liburan dirinya hanya sesekali melihat media sosial. Dan tidak mengetahui berita yang beredar selama ini. Bahkan semenjak ada Gunadh, hampir tidak pernah ia membuka media sosialnya. Bagi Nandita, media sosial hanyalah sarana untuk promosi usahanya. Sangat jarang ia memposting urusan pribadi.
Ia hanya aktif di whatsapp. Sesekali melihat story' di sana. Harinya sibuk dengan jalan-jalan, belanja, serta menikmati udara Paris yang baru pertama ia datangi.
"Sayang sekali om gak sempat simpan videonya. Tapi mungkin masih ada di Instagram sepupu kamu si Tasya." Sesal om Damar.
'ooh jadi Tasya yang nyebarin, pantas saja orang-orang percaya.' Ucapnya dalam hati.
"Sekarang jelaskan pada kami disini. Apa benar yang diceritakan wanita itu dan anaknya?" Lanjut om Damar lagi ketika Tante Sarah dan Tante Ayu bergabung.
Nandita menarik nafas seraya memejamkan mata. Ingin meminta bantuan pada Gunadh, tapi laki-laki itu tidak bisa dihubungi.
Dengan terpaksa Nandita menjelaskan fakta sesuai yang dirinya ketahui dan alami.
"Sebenarnya Dita gak berhak membuka aib orang om, Tante, tapi ini demi nama baik Dita dan semua yang kena imbasnya." Nandita mengambil ponselnya.
"Ini kan wanita itu?" Tanya Nandita menunjukkan foto Safira tengah mendorong kursi roda Namira.
"Benar dia mantan istrinya mas Gunadh. Tapi dia sudah bercerai sekitar empat tahun yang lalu. Jauh sebelum Dita kenal mas Gunadh. Menurut cerita mas Gunadh, dia selingkuh dengan saingan bisnis mas Gunadh ketika anaknya berusia tiga atau empat tahun. Setelah perceraiannya itu, dia pergi ke luar negeri ikut kekasihnya. Sementara Mira diasuh oleh ayahnya. Karena mas Gunadh yang mendapatkan hak asuhnya. Gak tahu kenapa, saat mas Gunadh dekat sama Dita, wanita itu datang lagi. Alasannya ingin bertemu dengan anaknya. Dita tahu dia gak suka sama Dita, dan Dita juga tahu dia ingin balikan sama mas Gunadh. Tapi mas Gunadh gak mau. Sampai pas Mira kecelakaan, mereka sebagai orang tua secara bergantian menjaga Mira di rumah sakit. Dita tahu itu. Dan Dita mencoba mengerti." Nandita menjeda ceritanya. Mencari pesan-pesan Safira yang dikirim ke nomornya beberapa waktu lalu.
"Ini, dia kirimin Dita foto-foto mereka dengan isi pesan yang om bisa baca sendiri. " Nandita menyerahkan ponsel miliknya pada om Damar.
Om Damar menscroll chat tersebut dari atas, dari sana ia bisa menilai kalau si pengirim pesan memang berniat memanas-manasi. Bukan seperti istri yang tersakiti, tapi lebih ke pamer karena berhasil mendekati objek yang diperebutkan.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu gak balas pesan-pesannya?"
"Untuk apa om? Dita pikir dia hanya akan iseng ganggu Dita secara pribadi. Jadi Dita gak tanggepi. Dita gak tahu dia akan melangkah hingga sejauh ini." Ucap Nandita pelan.
"Lalu anak itu? Kenapa dia menyetujui apa yang dikatakan ibunya?" Om Damar masih mencecar Nandita dengan pertanyaan. Sementara ponsel Nandita beralih ke tangan om Alan dan om Putra.
"Mas Gunadh gak pernah cerita ke anaknya, alasan kenapa mereka pisah. Dia gak mau Mira kecewa sama mommynya, sebab gimanapun Safira tetap ibu yang harus Mira hormati. Itu sebabnya gadis itu selalu mencari mommynya. Hingga saat mereka ketemu, Mira seakan buta dan tuli pada sekitar. Fokusnya hanya sang mommy. Apapun kata mommynya, Mira pasti turuti."
"Huuuhhh rumit sekaliii tunanganmu itu Ta ..." Keluh om Damar.
"Om masih percaya sama apa yang mereka katakan?" Tanya Nandita ragu.
__ADS_1
Om Damar dan yang lain hanya diam menatap Nandita dengan ekspresi wajah tak bisa diartikan.