
Tidak berselang lama, menu sarapan yang mereka pesan pun datang.
Louis cukup pengertian, dengan memesan makanan cukup banyak. Sebab orang yang diajak sarapan adalah orang Indonesia semua. Dimana tidak akan kenyang bila belum makan nasi, sehingga bila dihidangkan makanan sejenis roti tidak akan cukup 1 porsi.
"Selamat makan ..." Seru mereka kompak ketika sudah siap dengan menu masing-masing di depannya.
"Gimana ceritanya sih kalian berdua bisa sampai sini? Gak bilang-bilang lagi." Nandita masih penasaran. Pasalnya Gunadh sempat menyampaikan kalau ia tengah sibuk dengan proyek barunya sehingga tidak bisa datang menyusul.
Gunadh dan Satya saling tatap kemudian tersenyum.
"Ini tuh ide pacarmu. Pas kalian berangkat kan aku sama dia pulang barengan. Kita ngobrol di perjalanan. Kata dia pingin nyusul kamu, tapi kerjaannya masih banyak. Terus aku kasih ide untuk nyusul kamu pas kerjaannya udah beres." Satya bercerita.
"Trus kamu kenapa bisa ikut?" Kini Candra yang penasaran
"Dia yang ajakin." Satya menunjuk Gunadh dengan dagunya.
"Jadi itu, makanya kamu nanya detail banget soal aku sama Dita nginep di mana, sama nama hotelnya apa gitu?"
Satya menganggukkan kepalanya.
"Kirain emang Gunadh aja yang mau Dateng." Candra memanyunkan bibirnya.
"Jadi kamu udah tau kalo mas Gunadh bakal ke sini?" Kini Nandita bertanya pada Candra
Yang ditanya hanya tersenyum kuda.
"Iya Satya bilang, mas Gunadh bakal kasih kamu kejutan. Tapi belum tahu pastinya kapan, dan dia gak bilang mau ikut." Antara gemas dan senang Candra menjelaskan.
Obrolan mereka berlanjut hingga sarapan selesai.
Gunadh, Satya, dan Louis asyik bercerita tentang bisnis sembari menunggu para perempuan tengah bersiap. Mereka hendak melakukan tour singkat sebelum nanti mengantar Bianca kembali ke bandara untuk bertugas.
Kunjungan pertama mereka ke Sacrè Cœur.
Dari namanya saja sudah mengandung makna, hati sakral. Tempat wisata di Paris yang romantis ini memang indah dan unik.
Sacrè Cœur dengan gerejanya Saint-Pierre yang tertua di Paris, tempat ini sangat menawan untuk dikunjungi. Dibangun sebagai tempat beribadah umat Kristiani pada 1875 dan dikenal sebagi bukit sakral.
Louis sebagai tour guide dadakan kali ini.
__ADS_1
Sacrè Cœur yang berada di daerah Montmartre, merupakan tempat para seniman jalanan mengabadikan karyanya.
Daerah Montmartre memang sangat tersohor, banyak museum, galeri seni, dan cafe juga restaurant ada di sana.
Banyak foto mereka abadikan di tempat itu. Gambaran kebahagiaan mereka bisa menikmati liburan bersama. Dan ini untuk pertama kalinya.
"Mungkin gak kita bisa kesini lagi ya?" Tanya Nandita ketika mereka tengah beristirahat di sebuah kafe, menikmati minuman hangat yang mereka pesan.
"Kenapa gak? Nanti kalau kamu mau, kita bisa bulan madu ke sini lagi. Kamu jatuh cinta ya sama tempatnya?"
Nandita bersemu merah. Tidak berharap Gunadh menjawab dengan kalimat seperti itu, namun ia cukup senang mendengarnya.
"Mas." Ucapnya dengan rasa malu yang tidak bisa ditutupi.
"Jangan mendahului kami. Bianca kan perempuan tua yang harus menikah dulu." Ucap Louis dengan bahasa yang berantakan.
Satya yang baru saja meneguk kopi, hampir saja menyemburkannya kembali ketika mendengar kalimat perempuan tua dari bibir Louis.
" Kak Bian dikatain tua." Ucapnya yang memang sudah mengenal Bianca dari dulu. Sehingga untuk menggoda wanita dengan wajah lebih jutek dari Nandita itu, dia tidak merasa takut.
"Maksudnya dia aku lebih tua dari Dita, jadi aku yang harus lebih dulu nikah." Terang Bianca yang sudah paham dengan maksud ucapan Louis.
"Ooh ... Kirain dia ngatain kakak."
"Oh ya, katanya kamu sama Candra udah tunangan, kapan mau disahkan?"
"Tunggu dulu lah kak, masih persiapan. Kami pengennya gak dikejar waktu." Ucap Satya
Bianca tersenyum mendengarnya.
Benar, pernikahan itu bukan hanya soal restu dan kesiapan finansial saja. Lebih dari pada itu, mental dan komitmen juga harus diperhatikan.
Kembali dari Montmartre mereka menyusuri sungai Seine dengan menyewa kapal.
"Beda ya suasananya ketika kita kemari pertama kali." Ucap Candra menghadap ke belakang, dimana Nandita dan Gunadh duduk bersampingan. Sementara dirinya pun duduk bersebelahan dengan Satya.
"Kalian udah dapat naik kapal ini?" Kini giliran Gunadh yang bertanya.
"Udah, diajak sama Ahmed." Ucap singkat Candra. Sementara Nandita hanya diam saja, sambil memainkan jemari Gunadh yang bertaut di jarinya.
__ADS_1
"Bagaimana Ahmed menemani kalian?" Tanya Louis yang mendengar nama orang kepercayaannya disebut.
"Dia sangat baik. Memberi pelayanan pada kami dengan luar biasa. Bahkan kami sering merasa gak enak, karena dia menjadikan kami seperti tamu agung. Terimakasih untuk semua kemudahan yang kamu siapkan untuk kami selama di sini." Ucap Nandita
"Iya, dia itu meskipun kaku tapi sangat baik dan sopan." Kini giliran Candra yang berkomentar
Louis hanya menganggukkan kepala. Merasa puas dengan apa yang dikatakan oleh dua wanita di depannya.
"Lancar banget kamu muji orang lain yank. Aku juga bisa kok melayani kamu. Mau pelayanan yang seperti apa?" Gunadh merasa cemburu, sebab Nandita memuji laki-laki lain di depannya.
"Apaan sih mas, orang aku ngomong kenyataan. Lagian sejak kapan kamu pernah melayani aku?" Nandita menjawab dengan suara lirih, seperti yang Gunadh lakukan. Tidak ingin obrolan mereka didengar yang lain.
Mereka asyik melihat pemandangan sekitar, dimana bangunan-bangunan bertingkat berjejer rapi di sisi kiri kanan sungai.
Banyak juga kapal-kapal yang bersandar di dekat jembatan, mungkin sedang menanti penumpang.
Sungai Seine dinikmati bukan hanya dengan menyebrang di tengahnya, namun banyak juga warga lokal maupun wisatawan yang menikmati dari atas jembatan maupun berjalan santai di pinggir sungai yang memang di sediakan ruang untuk para pejalan kaki.
"Habis ini kamu mau kemana lagi liburannya sayang?" Tanya Gunadh yang tahu mimpi kekasihnya ingin traveling keliling dunia.
"Belum tahu mas, Belanda mungkin? Atau Italia. Aku ingin merasakan salju secara langsung. Doain aja agar aku bisa kerja lebih banyak lagi, biar bisa mewujudkan keinginan."
Gunadh tersenyum.
"Selalu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kita. Untuk mimpi kamu juga keinginanku." Gunadh menatap mesra wajah Nandita.
Entahlah disaat seperti ini, benar kata pepatah. Ketika jatuh cinta, dunia serasa milik berdua. Tanpa penghuni lain sekalipun itu ngontrak.
Melihat wajah tersipu Nandita, Gunadh rasanya ingin segera memiliki gadis di sampingnya itu secepat mungkin.
"Rasanya aku tuh pengen kurung kamu di kamar tau ga sih yank. Kamu tuh bikin aku gemas." Goda Gunadh di telinga sang kekasih.
"Apaan sih mas ..." Wajah Nandita semakin memanas, mendengar godaan dari Gunadh. Refleks tangannya memukul bahu laki-laki yang usianya lebih tua darinya itu. Namun dengan cepat Gunadh meraih tangan Nandita, tatapan mata keduanya saling beradu. Menciptakan gelenyar aneh diantara mereka.
Perlahan wajah mereka saling mendekat, Nandita yang ikut terbawa suasana pun tanpa sadar menutup mata. Mereka lupa, kalau kini tengah berada di atas kapal, dimana penumpangnya bukan hanya mereka berdua.
Candra dan Satya mungkin tidak melihat, sebab mereka ada di kursi depan Nandita. Dan mereka pun tengah sibuk berdua, entah membahas apa.
Namun yang di belakang Nandita, tidak mungkin akan diam saja.
__ADS_1
Saat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, tangan Bianca dengan cepat menghalangi pertemuan dua b ibir yang ingin menyatu.
"Ini memang luar negeri, dimana tidak akan ada yang perduli kita mau berbuat apa. Tapi jangan lupa, kakak masih di sini untuk mengawasi kalian." Ucapnya dengan wajah datar dan tatapan mata fokus ke depan.