Nanditha

Nanditha
EGO


__ADS_3

Nandita menghubungi sang adik, namun tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya ia memutuskan menghubungi bunda Santi, ingin memastikan apa yang terjadi terhadap kakeknya.


Video call itu tersambung setelah dua kali Nandita mengulang.


"Halo anak bunda ..." Wajah bunda Santi muncul di layar ponsel. Nandita tersenyum melihat reaksi wanita yang telah melahirkannya.


"Kamu masih tidur Ta? Jam berapa di sana?"


"Baru bangun ini Bun ... Jam setengah 8, capek banget soalnya kemarin habis jalan-jalan."


"Kapan kamu balik?"


"Besok kayanya. Pesawat jam 11 malem kalo gak salah. Kenapa? Bunda masih ada yang mau dibeli?"


"Gak ... Gak usah. Kamu habis banyak duit pasti itu. Habis tabungan kamu nanti."


"Ya gak lah Bun ... Orang waktu ini aku ditraktir sama Louis, trus habis itu mas Gunadh nyusul ke sini. Uang aku aman jadinya."


"Gunadh ke sana?"


Kaget bunda Santi dengan mata melotot.


Nanditha mengerutkan kening melihat reaksi sang bunda yang menurutnya berlebihan.


"Memangnya kenapa Bun? Dia sama Satya ke sini. Tapi kami beda kamar kok, aku tetep kamarnya sama Candra. Satya sama mas Gunadh baru beda kamar mereka." Terang Nandita, takut kalau sang bunda salah paham.


"Bukan itu ..." Bunda Santi bingung harus menjelaskan seperti apa.


"Sudahlah lupain aja. Kamu ada apa nelepon pas baru bangun begini?" Ucapnya kemudian


"Bun ... Kakek sakit apa? Aku liat Ikha, dia bikin story' lagi sama kakek."


"Ooh itu, kakek sempat drop kemarin. Mungkin ada yang dipikirkan sama kakek, jadi kesehatannya terganggu."


"Ooo" Nandita ber- o ria.


"Bund ... Bunda sama ayah jaga kesehatan ya jangan banyak pikiran. Apalagi Dita jarang bisa jagain kalian. Perasaan Dita dari kemarin gak enak, gak tau kenapa." Mengungkapkan kegalauan hatinya pada sang ibu.


"Iya Ta, kamu juga jaga kesehatan. Hati-hati ya."


Cukup lama gadis itu berbincang dengan sang bunda, hingga Candra memberinya kode untuk segera mandi. Barulah Nandita mengakhiri obrolan jarak jauh itu.


"Kita mau kemana lagi sekarang?"


Tanya Satya ketika mereka sudah berkumpul untuk sarapan.


"Kayanya semua wisata yang jadi daftar udah kita kunjungi semua. Kemana ya?"

__ADS_1


Nandita menimpali.


"Jangan terlalu cape hari ini. Besok kan kita udah mau balik, biar gak tepar di tengah jalan." Ucap Gunadh.


Mereka diam sejenak, ketika pelayan membawakan pesanan mereka. Mereka menikmati sarapan yang kesekian kalinya di hotel yang sama.


Drt


Drt


Ponsel Gunadh bergetar, tanda pesan masuk.


M : "Dad ... Kapan pulang?"


Pesan dari sang anak, membuat Gunadh melebarkan bibirnya sejenak.


G : "Besok sayang, tapi lusa baru sampai. Kamu mau dibelikan apa?"


M : " Apa ya ... Terserah Daddy aja."


M : "Eh ... Sepatu jalan Dad, sisanya terserah Daddy."


G : "Ok."


Saking asiknya berbalas pesan dengan senyum di bibirnya, tanpa sadar dirinya menjadi perhatian dari wanita di sampingnya.


"Eh ee udah kok." Candra gugup karena sejak tadi ia juga memperhatikan sikap dua anak manusia di depannya. Yang satu tidak peka, yang satu gengsian.


Satya pun menyelesaikan suapan terakhirnya ketika mendengar ucapan Nandita. Sementara Gunadh masih sibuk dengan benda pipih di tangannya.


Nandita menunggu respon Gunadh, lima menit, sepuluh menit, Gunadh masih asik sendiri.


Tidak tahan, Nandita akhirnya membuka suara.


"Mas masih lama ya? Kalau gitu kita pergi duluan ya. Mas lanjut aja." Ucap wanita itu sedikit ketus. Sejujurnya ia merasa cemburu.


Gunadh mengangkat wajahnya. Menoleh ke samping dimana Nandita duduk. Kemudian beralih ke arah Satya dan Candra yang seolah menunggu film di bioskop yang akan segera tayang.


"Kalian sudah selesai?" Mata Gunadh mengarah ke piring masing-masing yang memang sudah kosong. Sementara miliknya bahkan belum habis setengahnya.


"Lanjut aja dulu makannya. Kami tunggu kok." Satya menengahi, sebab Nandita tidak memberi reaksi apapun.


"Sorry ya tadi Mira yang kirim pesan. Minta dibelikan sepatu sama printilan lainnya." Gunadh merasa tidak enak hati.


"Gak apa-apa kok, lanjut aja." Candra berkata dengan tersenyum. Sementara Nandita hanya diam saja tanpa merespon sama sekali.


Melihat Nandita hanya diam saja, Gunadh berinisiatif memanggilnya.

__ADS_1


"Yank ... Kok diem aja?" Tanya Gunadh yang hanya ditanggapi dengan senyum tipis oleh Nandita.


"Terus aku mesti gimana? Masa di sini aku teriak-teriak?" Nandita menjawab dengan candaan, namun ditanggapi berbeda oleh Gunadh.


"Aku udah selesai, kita mau kemana sekarang? Tanya laki-laki itu dengan suasana hati yang sedikit buruk.


🌟🌟🌟


Mereka berempat pergi menuju outlet-outlet brand ternama asal negara tersebut.


Mulai dari Dior, Chanel, LV, dan Cartier. Satya dan Candra melihat lihat desain perhiasan yang sekiranya bisa mereka jadikan inspirasi untuk pernikahan mereka. Berbeda dengan Nandita dan Gunadh, yang seolah ada tembok tinggi yang membatasi.


Satya dan Candra yang menyadari itu, mencoba mencari cara agar bisa mencairkan suasana yang mendadak tidak enak itu.


"Ta, antar aku ke toilet yuk ..." Pinta Candra


"Yuk." Ucap Nandita singkat.


Nandita berjalan melewati Gunadh, tanpa mengatakan apapun.


Wajah Gunadh mengeras menahan kesal. Satya yang melihat itu pun berinisiatif mendekati laki-laki yang usianya lebih tua darinya itu.


"Sabar aja ... Dita kalau lagi ada beban pikiran emang suka begitu. Dia kaya punya dunia sendiri yang susah dimasukin orang lain." Seolah bisa membaca isi hati Gunadh, Satya menasihati laki-laki itu.


"Memangnya ada masalah apa?" Gunadh penasaran.


"Aku gak tahu pasti. Yang aku dengar dari Candra, kakeknya saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Dia kan baru-baru ini dekat dengan kakeknya, mungkin itu yang jadi beban pikirannya." Terang Satya lagi.


Meski egonya menolak, Gunadh mencoba mengerti dengan sikap Nandita itu.


Hal yang sama juga Candra lakukan ketika di dalam toilet. Ia berusaha mengingatkan Nandita bahwa sikap wanita itu pada Gunadh adalah keliru.


"Sorry Ta, bukan maksud aku ikut campur sama urusan kalian. Tapi kamu sahabat aku. Aku gak mau kamu nyesel. Sikap cuek kamu sama Gunadh bisa jadi masalah nantinya." Omel Candra.


"Sebenarnya, ada apa sih Ta? Kenapa kalian sampai diem-dieman kaya tadi. Liburan kita udah mau selesai lho, masa kamu mau bikin kisah sedih diujung liburan ini?"


Nandita menghela nafas berat. Mendekati wastafel, ia mencuci wajahnya yang sedari tadi terasa tegang. Berharap air dari keran itu mampu menyegarkan, bukan hanya wajah tapi juga pikirannya.


"Aku gak ngerti Ndra. Sejak kemarin pikiranku kacau, perasaan aku gak enak. Aku udah coba alihkan, tapi kaya ada sesuatu yang mengganjal gitu lho. Tadi pagi kamu kan tahu aku habis teleponan sama bunda. Tau kakek di rumah sakit, aku jadi kepikiran. Belum lagi aku sempat baca story' Mira, aku kaya kesindir gitu lho. Terus tadi mas Gunadh bahas soal Mira, entah kenapa mood aku jadi gak baik. Aku jadi inget gimana Mira mempermalukan aku waktu itu." Wajah frustasi Nandita tertangkap oleh Candra.


"Aku ... Egois gak sih aku ini Ndra?"


"Bukan egois Ta, tapi mencoba untuk bertahan. Kalau bicara soal egois, bukan hanya kamu, Mira juga melakukan hal yang sama. Dia juga meminta kamu korbankan kebahagiaan kamu sama Gunadh, agar mommynya bisa balik lagi. Itu juga egois namanya. Itu makanya aku bilang ke kamu, ceritain semua sama Gunadh ... Biar dia yang putuskan sendiri gimana baiknya. Tapi yang terpenting sekarang, perbaiki sikap kamu sama dia. Kamu gak kasihan, dia lho nyusul kita ke sini. Itu bukan hal yang mudah."


Nandita menganggukkan kepala. Membenarkan ucapan sahabatnya, Nandita mencoba bersikap lebih manis lagi dengan Gunadh.


Setelah keduanya menyadari ego masing-masing, akhirnya hari itu kembali terlewati dengan senyuman.

__ADS_1


Tanpa diketahui Nandita, Gunadh membelikan kekasihnya itu beberapa barang branded yang memiliki kemiripan dengan yang dibeli untuk Mira.


__ADS_2