Nanditha

Nanditha
VIDEO CALL


__ADS_3

Nandita disibukkan dengan urusan dokumen dan segala hal yang berhubungan dengan rencananya ke luar negeri. Ia sudah menentukan negara mana yang akan menjadi tujuannya.


Turkey akan menjadi tempatnya memulai babak baru kehidupan.


Sedang berusaha mengikhlaskan perjalanan cintanya berakhir tanpa kepastian, lelah berharap Gunadh akan datang mencarinya. Bahkan hingga satu bulan berlalu, laki-laki itu tidak sekalipun berniat menghubunginya.


Deburan ombak dan kelip lampu nelayan semakin menyiksanya dengan rindu. Nandita memeluk tubuhnya erat, mencoba memberi kehangatan dengan jemari mungilnya membelai lembut kedua sisi lengan.


"Obat terbaik rasa sakit, adalah kerelaan. Cara terbaik melupakan, adalah membiarkan kenangan itu menari sesuka hati ditiap tempat yang kamu temui. Biarkan perihmu menawar rasa kagum hingga nanti semua hambar tanpa rasa." Nandita menulis setiap kehampaan hatinya dalam buku kecil yang ia bawa selalu dalam tasnya.


Drt


Drt


Drt


Ponsel Nandita berdering nyaring. Panggilan video dari grup keluarga.


Nandita mencari tempat yang lebih terang. Ia menuju sebuah warung bakso di sekitar pantai.


Setelah menemukan tempat duduk yang tepat, barulah ia menerima panggilan tersebut.


"Haaaiiii" Sapanya ketika wajahnya sudah muncul di layar persegi tersebut.


"Lagi ngapain kamu, lama bener angkat telepon." Sungut Bianca.


"Masih cari tempat yang bagus kak, biar kalian puas lihat wajah ayu ku." Ucapnya.


Bianca dan Malikha memutar bola matanya malas


"Kamu lagi di mana Ta?" Tanya sang bunda yang duduk di samping Malikha. Ikut berdesak melihat kamera.


"Lagi di warung bakso Bun ... Ini lagi nunggu pesanan." Sahutnya.


"Warung bakso mana dek? Kok berisik kayanya?" Bianca


"Emang Deket pantai kak ..." Nandita mengarahkan ponselnya ke arah pantai


"Tuuh, bagus kan suasana malam di pantai. Hati tenang walau tak punya uang." Ucapnya menirukan lagu jaman dulu.


"Kos-kosanmu kan jauh dari pantai? Ngapain masih keluyuran malem-malem?" Sang bunda mengeluarkan tatapan peringatan.


Sudah satu bulan lebih Nandita pindah ke luar kota. Memfokuskan diri belajar, pelatihan, dan mengurus dokumen keberangkatan.


"Tadi habis kursus Bun, suntuk makanya main ke sini. Habis makan bakso langsung balik kok."


"Benar ya ... Jangan kemana-mana lagi. Ingat sebentar lagi kamu berangkat."


"Ya Bun ..."

__ADS_1


Bunda Santi kemudian tidak terlihat lagi. Membiarkan tiga anaknya berbagi cerita, sementara dia melanjutkan aktifitasnya kembali.


"Gimana kursusnya Ta?" Sang kakak bertanya


"Yaah begitulah kak. Banyak yang harus Dita pelajari dari nol banget."


"Jalanin aja, jangan patah semangat. Ingat, itu pilihan kamu." Nasihat sang kakak.


"Semangat kak, demi ketemu bule Turkey." Sahut Malikha.


Mata Bianca mendelik ke arah Malikha.


"Bula bule Bula bule kamu, belajar yang bener. Ingat baru semester awal kamu tuh." Omelnya pada si bungsu.


"Iya, kan Ikha bilangnya kak Dita bukan Ikha sendiri. Gitu aja ngomel" sungut Malikha dengan bibirnya maju beberapa centi.


"Iya sama aja dek, kamu ngomong gitu karena kamu alami sendiri kan? Udah terpesona sama cowo ganteng?" Bianca memang lebih ketat aturannya dibanding Nandita.


"Biarin lah kak yang penting gak ganggu fokus belajarnya. Jangan dikekang banget juga, nanti dia malah ngumpet-ngumpet." Nandita dengan bijak menengahi. Sementara Malikha hanya menunduk memainkan jemari tangannya.


"Gak semua orang bisa seperti kamu kak. Fokus belajar, gak kenal kata cinta hingga lulus kuliah. Asal pacarannya sehat, kan bisa jadi motifasi dia untuk belajar juga." Lanjutnya lagi.


"Terserahlah ya, asal jangan aja bikin malu keluarga. Ingat, kamu masih semester awal. Masih panjang perjalanan kamu." Bianca


"Ya kak ..." Sahut Malikha singkat.


Pelayan warung bakso itu menghampiri Nandita. Membawa nampan berisi pesanan gadis itu, dengan senyum yang tak pernah surut dari bibirnya


"Makasih mba ..." Sahut Nandita pun tak kalah ramah.


"Eeh kalian mau gak? Uuhh endul banget ini ..." Nandita mengarahkan kameranya ke arah mie ayam bakso yang baru dihidangkan. Mengalihkan topik agar suasana kembali cair.


"Jauuh dek ..." Sahut Bianca


"Kirim ke aku mentahnya aja kak, biar beli di sini aja" Malikha


"Itu sih maunya kamu ..." Cibir Nandita.


" Nanti deh kakak kirim, lewat wa ya ..." Lanjutnya lagi


"Gak! Aku tahu, kakak mau kirim fotonya aja kan?"


"Ya sudah sana, makan dah kamu. Kakak juga siap-siap mau kerja ini. Ikha, jangan begadang ya ... Inget belajar yang rajin. Besok kakak beliin pesanan kamu." Bianca


"Benar ya kak ... Kalo gitu Ikha tutup ya. Bye kak Dita ... Bye kak Bian ..." Malikha memutus sambungan video dengan wajah berbinar.


"Kamu hati-hati di jalan dek ... Udah malam kan di sana?"


"Ya kak ..." Sahut Nandita dengan mulut dipenuhi mie ayam.

__ADS_1


Panggilan berakhir. Nandita melanjutkan makannya. Setelah membayar, gadis itu kemudian kembali ke kostan dengan suasana hati yang lebih baik.


Ia yang awalnya datang ke pantai karena ingin menikmati kesepian dan kerinduannya pada Gunadh, malah berakhir di warung bakso.


Hilang sudah acara melow yang ia rencanakan.


Namun ia bersyukur, sebab keluarganya selalu ada untuknya, bahkan di saat mereka terpisah jarak sekalipun.


Entah disadari atau tidak, mereka saling menjaga satu sama lain dalam keadaan apapun.


Hingga saat Nandita merasa kesepian dan ingin menikmati kesendiriannya, keluarganya melakukan video grup membahas hal-hal kecil membuat gadis itu lupa akan kesedihannya.


🌟🌟🌟


Gunadh menjalani harinya dengan fokus bekerja dan bekerja.


Tidak ingin hatinya lemah dan terus merengek merindukan Nandita.


Ia harus keras pada dirinya sendiri. Harus bisa mengenyahkan perasaan yang tumbuh subur untuk gadis yang dulu ia sebut biji ketumbar itu.


"Maafin Mira Dad ... Gara-gara Mira Daddy sama onty Dita jadi marahan" Ucap Mira sesaat setelah Mira dan Safira pergi dari rumahnya.


Hati Gunadh merasa sakit. Bukan anaknya yang salah. Nandita yang terlalu arogan dan tidak bisa melihat situasi.


"Bukan salah kamu sayang. Daddy gak apa-apa kok. Kamu gak usah pikirkan itu ya." Ucapnya lembut pada sang anak. Mencoba meyakinkan Mira kalau dirinya baik-baik saja.


"Daddy kenapa jarang pulang?" Kembali anak itu bertanya, setelah mereka sama-sama diam selama beberapa menit.


"Daddy lagi sibuk banget sayang, ada masalah di beberapa proyek yang Daddy jalankan. Dan itu harus Daddy urus langsung." Gunadh mencoba menjelaskan sesederhana mungkin agar Mira bisa mengerti.


"Sekarang udah selesai?" Mira


"Baru beberapa sayang, Daddy masih harus urus sisanya. Mungkin beberapa Minggu ke depan Daddy akan jarang ada di rumah. Kamu gak apa-apa kan?"


"Ya dad ... Mira gak apa-apa kok. Kan Mira udah gede sekarang." Sahut gadis itu.


Dan dari saat itu hingga kini, Gunadh selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Hanya beberapa kali ia mengajak Namira keluar menikmati hari libur berdua. Selebihnya, tidak perduli libur ataupun tanggal merah ia akan tetap bekerja tak kenal waktu.


Beberapa kali ia ingin mendatangi Nandita, namun egonya begitu tinggi. Hingga niat itu segera ia kubur dalam-dalam.


'Dia yang harusnya datang dan minta maaf. Bukan aku. Dia yang dengan teganya membuat Mira menangis, jadi harusnya dia juga minta maaf pada Mira.' Ucapnya menasihati diri ketika rasa rindu merayunya untuk menemui Nandita.


Apakah ia tidak benar-benar mencintai Nandita?


Salah.


Justru rasa cintanya pada Nandita membuat ia berharap terlalu tinggi pada gadis itu.


Berharap Nandita bisa menjadi pasangannya sekaligus ibu sambung terbaik untuk Mira.

__ADS_1


Namun kenyataannya? Nandita nya berubah. Tidak lagi Nandita yang ia kenal dulu. Yang selaku sabar dan sayang pada Mira.


Dan lebih membuatnya kecewa ketika Nandita berbuat kasar di depan anak itu, dan Nandita tidak mau mengakui kesalahannya.


__ADS_2