Nanditha

Nanditha
MENJADI TAMU


__ADS_3

Memantapkan hati, menyiapkan diri.


Dengan menarik nafas dalam, Gunadh memasuki hotel dimana acara pertunangan Nandita akan digelar.


Meski gemuruh di dadanya seolah menghentikan langkah, pria itu mencoba meredamnya dengan mengepalkan tangannya erat.


Tidak ingin terlihat lemah, ia ingin menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.


Ia hadir bukan untuk mengacaukan, bukan untuk membuat air mata gadis itu menetes lagi, ia datang dengan doa tulus, berharap gadis yang dicintainya bisa tersenyum bahagia.


Meski sesak selalu hadir, menyadari hari ini adalah hari terakhirnya melihat Nandita. Sebab kedepan, ia tidak akan sanggup menemui gadis itu lagi.


Benar kata Satya, dirinya bukan anak remaja, yang hanya bisa berlari ketika masalah dan kenyataan pahit menghampiri.


Ia harus bisa berdiri. Perih dan luka ini harus ia hadapi.


Mungkin ini adalah untuk terakhir kalinya ia akan bertatap muka dengan Nandita. Gadis ceria yang ia seret ke dalam rumitnya takdir hidup yang ia jalani.


'huuuh baiklah, biarkan ini menjadi akhir dari cerita kita, semoga kamu bahagia dengan pria yang bisa membuatmu tertawa.' batinnya menatap dekorasi indah yang nampak begitu megah dari tempatnya berdiri.


Jantung Gunadh berdegup kencang, menatap sekitar dengan sedikit rasa ragu. Benarkah ini tempatnya?


Di sini kah ia harus mengucap selamat tinggal pada gadis biji ketumbarnya?


Perasaan berdebarnya teralihkan oleh rasa janggal yang ia rasakan kini. Ia meraih ponselnya, memastikan pesan yang dikirim Satya.


'benar, memang putih dress code nya. Tapi kenapa yang lain menggunakan pakaian hitam?' batin Gunadh.

__ADS_1


Pria dengan status duda itu, seakan berat melangkahkan kakinya, takut salah, dan malah menjadi pusat perhatian. Hal yang ia hindari saat ini. Tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan banyak pasang mata yang hadir dalam acara tersebut.


Merasa salah kostum, ia hendak berbalik, namun sepertinya nasib baik belum memihak pada pria malang itu.


"Gunadh," suara seorang pria yang tidak asing di telinganya, menyapa dengan hangat sembari menepuk pundaknya.


"A a yah" dengan terbata ia menyapa pria yang ada di hadapannya itu.


"Kamu apa kabar nak? Kapan tiba di sini?" Tanya ayah Darma menatap lembut Gunadh.


Pria itu tersenyum kecut.


Tidakkah ayah Darma dapat melihat lingkar hitam di bawah matanya? Apakah masih terlihat baik-baik saja? Masihkah perlu berbasa-basi menanyakan kabarnya?


"Syukur ayah ketemu kamu di sini. Jadi ada teman ngobrol." Kekeh ayah Darma, tidak menyadari reaksi kaku Gunadh, yang mungkin merasa tidak nyaman saat ini.


Melihat liar ke berbagai arah, entah untuk mencari apa.


"Ini katanya banyakan teman-teman kerjanya Nandita, beberapa ada rekan bisnis Murat dan Eby. Semuanya tersenyum ramah sama ayah, tapi ayah merasa tidak nyaman. Mungkin karena ayah nggak terlalu faham bahasa mereka." Ayah Darma terus saja bicara, dengan tangan merangkul pundak Gunadh.


Senyum laki-laki itu seolah tanpa beban, bercerita pada pria malang yang sebentar lagi akan menangis darah menyaksikan gadis pujaannya memakai cincin pengikat dari orang lain.


'kenapa ayah jadi banyak bicara begini sih, kenapa nggak kalem seperti biasanya aja?' batin Gunadh yang merasa enggan menanggapi curhatan pria paruh baya itu.


Sementara ayah Darma melirik sekilas raut wajah Gunadh, yang tanpa ekspresi. Ada senyum tipis yang samar terbit di sudut bibirnya, yang tidak Gunadh sadari.


Ayah Darma mengajak Gunadh menuju meja di mana sang istri dan keluarga uncle Murat berada. Memperkenalkan laki-laki itu sebagai tamunya dari Indonesia.

__ADS_1


"Mungkin beberapa dari kalian sudah tau siapa pria di sampingku ini, tapi sat ini dia ada di sini sebagai tamuku." Ucap ayah Darma dengan bahasa Inggris yang cukup fasih.


Ingin Gunadh berteriak lantang, kalau dirinya bukan hanya tamu biasa yang jauh-jauh terbang melintasi benua, hanya untuk menyaksikan pertunangan ini.


"Saya Gunadh, pria yang sangat Nandita cintai dan sangat mencintai gadis itu." Ucap Gunadh mengulurkan tangan.


"Saya kemari untuk menjemputnya, membawanya pulang ke tempat, di mana dia seharusnya menghabiskan sisa waktunya. Bukan bersama pria asing, tapi bersama saya, di rumah saya." Dengan seringai menyebalkan Gunadh tetap tidak menurunkan tangannya, masih terukur ke arah pria paruh baya yang duduk di samping onty Eby.


"Jangan macam-macam kamu di sini! Ingat kamu hanya pendatang! Menghilangkan kamu selamanya dari hadapan kami, bahkan dari permukaan bumi ini, akan sangat mudah kami lakukan." Sahut pria itu dengan emosi.


Dihempasnya tangan Gunadh yang terulur, pria itu bangkit hendak menghampiri Gunadh.


Seorang nenek yang masih terlihat bugar di usia senjanya pun ikut bangkit, menatap tajam ke arah Gunadh.


Belum sempat wanita itu berkata, onty Eby mendahuluinya.


"Sayang sudaaah ... Jangan di ladeni. Ingat ini acara penting keponakan kita." Onty Eby memegang lengan suaminya, menahan agar tidak terjadi baku hantam di acara tersebut.


Namun Gunadh yang emosi, justru lebih dulu menghajar pria yang masih gagah di usianya yang tidak lagi muda itu.


"Mas Gunadh ...!" Teriakan seorang gadis dari belakang menghentikan gerakannya.


Gunadh menoleh, namun belum sempat ia bernafas, sebuah tamparan yang terasa sangat panas mendarat di pipinya.


Gundah tersentak, refleks tangannya menyentuh pipi.


"Nak Gunadh ada apa?" Suara lembut bunda Santi, menyapa indera pendengarannya, membuat pria itu tersenyum kaku.

__ADS_1


__ADS_2