Nanditha

Nanditha
POSESIF


__ADS_3

Egois kah aku? Kalau aku ingin memilikimu seorang diri. Aku ingin, tatapan matamu hanya tertuju padaku, tanpa kamu alihkan ke hal lain. Maaf caraku mencintaimu terlalu berlebih, sebab aku takut, ada orang lain yang membuatmu lebih tertarik.


Hari pertama kembali ke sekolah, berjalan dengan lancar. Tidak ada proses belajar mengajar, semua masih menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah setelah satu bulan libur.


"Miss Nandita,,, di panggil kepala sekolah,." Ucap salah satu teman sejawatnya.


"Ya miss,,, terimakasih,,." Senyum ramah ia tunjukkan pada pemilik suara yang baru saja memanggilnya. Mengikuti langkah perempuan paruh baya tersebut, menuju ruang kepala sekolah.


tok


tok


tok


Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, barulah gadis itu masuk ke ruang pimpinan tertinggi sekolah tersebut.


"Selamat pagi Bu,,." Mencakupkan tangan di depan dada, Nandita menyapa dengan sopan.


"Ya selamat pagi Miss,,,." Kepala sekolah juga melakukan hal yang sama.


"Silahkan duduk dulu Miss,,,."


Nandita duduk di hadapan kepala sekolah.


"Ibu memanggil saya?"


Kepala sekolah mengangguk.


"Begini,,, rencananya di sekolah kita akan ada ekskul tambahan. Ada tari, silat, juga teater. Nah karena Miss merupakan mantan atlet silat, kami berniat memberi Miss kesempatan untuk bisa melatih siswa di sini untuk ekskul pencak silat." Kepala sekolah yang terlihat galak tersebut, menyampaikan alasannya setelah Nandita duduk di hadapannya.


"Untuk honornya, nanti diinformasikan setelah melalui rapat. Untuk saat ini, yayasan baru memerintahkan agar mencari pelatih masing-masing kegiatan, yang dianggap berkompeten di bidangnya." Nandita menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih atas kesempatan dan kepercayaannya Bu,, maaf boleh saya tahu kapan kegiatan ekskul dimulai?"


"Mmmm paling setelah belajar mengajar berjalan normal."


"Boleh saya pikirkan dulu Bu? Sebab saat ini saya memiliki pekerjaan lain di luar mengajar di sini."


"Ooh ya tentu,,. Silahkan dipikirkan dulu. Mungkin Minggu depan akan dirapatkan, saat itu saya harap Miss sudah memiliki jawabannya."


"Baik Bu,,,. Ada lagi yang ingin ibu sampaikan?"


"Oohh tidak, silahkan kembali ke ruangan anda Miss." Ucap kepala sekolah tersebut.


Nandita kembali ke ruang kerjanya. Menyelesaikan beberapa persiapan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar nanti.


Pukul 11.00 Gunadh datang, berbarengan dengan bel tanda pulang sekolah berbunyi. Memang, siswa pulang lebih awal sebab belum ada kegiatan belajar.


"Siang....." Sapaan singkat yang Gunadh berikan


"Mas,,,,." Senyum merekah Nandita, menyambut laki-laki tampan di hadapannya.


"Kok udah pada bubar yank?" Tanya Gunadh, sesaat setelah ya duduk di kursi, depan meja kerja Nandita.


"Ya kan belum mulai belajar...." Jawab Nandita


"Jalan yuk...." Ajak laki-laki itu.

__ADS_1


"Kemana?"


"Kamu mau kemana?"


"Ke hatimu,,." Candaan garing Nandita, yang justru membuat Gunadh tertawa senang. Bagaimana tidak senang? Selama ini, mana pernah gadis itu mengucapkan kata-kata gombal seperti itu.


Gunadh merasa, Nandita sudah benar-benar nyaman dan menerima dirinya, seutuhnya.


"Aku cium boleh gak sih yank?" Ucap Gunadh, sebab gemas melihat tingkah Nandita.


"Apaan sih mas, gak lucu deh bercandanya,,." Mulut Nandita mengerucut, menandakan ia kesal dengan kalimat yang Gunadh lontarkan padanya. Tubuhnya refleks mundur, dengan tangan menyilang di dada, tandanya ia waspada.


Reaksi Nandita yang terlihat takut, membuat tawa Gunadh semakin keras.


"Mas,,, pelanin ketawanya.... Ini di sekolah."


"Eeh ya maaf-maaf. Habisnya kamu tuh lucu tau. Umur berapa sih? Pacar minta cium aja, ekspresinya udah kaya mau diapa-apain aja,,." Kelakarnya


"Apa hubungannya urusan umur sama kamu minta itu?"


"Itu apa?" Goda Gunadh lagi


"Ya itu,,, udah Aaahh aku mau pulang." Nandita yang salah tingkah, bangkit, mengambil tas dan berlalu menuju pintu. Meninggalkan Gunadh yang masih duduk di depannya.


Ketika ia hendak membuka pintu ruang kerjanya


Greb


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya, sandaran kokoh terasa dibelakang tubuhnya. Nandita membatu, tak tau harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya, ada laki-laki yang menyentuhnya seperti ini.


"Maaf yank aku lancang, tapi biarkan seperti ini sebentar saja. Aku rindu, sangat rindu kamu. Gak puas rasanya hanya liat wajah kamu, rindu aku gak bisa terobati hanya dengan itu."


Gunadh tersadar, akhirnya melepaskan lilitan tangan nya dari tubuh Nandita.


"Maaf yank..... Aku lepas kontrol." Gunadh juga merasa canggung.


Akhirnya mereka keluar bersama-sama. Rencananya, mereka akan mencari makan sekaligus jalan-jalan menghabiskan waktu. Motor Nandita terpaksa harus ia tinggal, sebab Gunadh ngotot mengantarkan Nandita ke kost dengan mobilnya.


"Titip aja sama satpam yank.... Tinggal kuncinya di sana, nanti biar orang suruhan ku ambil di sini. Masa baru ketemu udah pisah lagi...." Gunadh merajuk


Nandita enggan berdebat, detak jantungnya masih belum normal sisa kejadian tadi. Akhirnya ia pun pasrah mengikuti maunya Gunadh.


Di dalam mobil, keheningan terjadi. Nandita lebih diam dari biasanya. Entah kenapa, dekapan itu masih membayang di benaknya. Rasanya hangat, menenangkan, merasa terlindungi, dan meskipun ingin menolak, tapi faktanya ia suka dengan hal itu.


Murahan kah dia?


Dosa kah itu?


Ia pun tak mengerti, sebab ini pengalaman pertama.


Ting


Ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk. Seseorang mengiriminya pesan teks. Ia segera membuka isinya, rupanya dari Candra, temannya.


C : "Waaaaahhh jualan kuliner nih....🤤🤤🤤" Rupanya gadis itu melihat statusnya tadi pagi di WhatsApp.


N : "Komen aja,, beli donk....🤭🤭🤭" Balasnya berniat bercanda

__ADS_1


C : " Boleh,,,, tapi beneran enak kan?"


N : "Enak donk..... Kalau mau coba, ada dikost. Mampir aja, sekalian ambil oleh-oleh waktu ini. Belum sempat aku ke rumah kamu buat bawain 😁😁😁"


C : " Niat banget ya beliin oleh-oleh, sampe lupa ngasihnya,,,. Padahal liburan berapa Minggu udah?" Sindir Candra.


N : " Sorry,,,, waktu ini ketinggalan dikost. Aku pulang gak bawa motor, dianter mas Gunadh, gak enak kalau minta balik untuk ambil itu doang...."


Gadis itu sibuk berkirim pesan, membuat kaki-laki di sampingnya menjadi kesal sendiri.


Saat menunggu balasan pesan dari Candra, ia tak sengaja menoleh ke samping, tempat kemudi. Wajah Gunadh tertekuk, dengan sorot mata dingin.


Gadis itu heran, kenapa dengan kekasihnya itu? Cepat sekali perubahan suasana hatinya. Tadi aja ceria, kenapa sekarang seperti orang kesal begitu.


"Asyik bener main ponsel, sampe lupa ada orang di sampingnya." Ketus Gunadh berkata


"Ini mas,,, Candra yang chat." Baru Nandita tau, rupanya perkara ponsel yang bikin Gunadh kesal.


"Kan bisa nanti balasnya yank..... Sekarang waktu kamu buat aku dulu.... Aku kangen, udah aku bilang tadikan?" Gunadh menekan tiap kata, menandakan keseriusan ucapannya.


Malas berdebat, Nandita hanya diam dan menganggukkan kepala saja.


Baru ia tahu, Gunadh seposesif ini. Sanggupkah dia dengan semua aturan dan larangan laki-laki itu?


🌟🌟🌟


Sore harinya, Candra datang bersama Kiara.


"Kak Dita,,, Kia kangen,,,,." Gadis SMA itu memeluk erat tubuh Nandita. Sudah lama mereka tidak pernah bertemu sebab sibuk dengan kegiatan masing-masing. Paling hanya Candra yang sesekali mampir dikost Nandita, itupun sebelum musim liburan semester.


"Kakak juga kangen tau,,,. Kenapa gak pernah ikut main ke sini sama kak Candra?" Tanya gadis itu, setelah mempersilahkan tamunya duduk lesehan di atas karpet.


"Dia kan sibuk sama kak Satya,,,,. Udah kaya truk gandeng, kemana-mana harus bersama." Dengus Kiara, menatap sinis sang kakak.


"Ini aja ya kak, kalau aku gak ngambek, gak bakal aku yang diajak kemari." Lanjutnya lagi


"Yeee kan kamu sekolah dek.... Kakak juga kan sama Satya jarang ketemu. Masa giliran ketemuan, direcokin kamu,!" Candra tak mau kalah.


"Eeeehh kalian ini, kemari minjam tempat buat berantem doang?" Nandita menyodorkan minuman kemasan, yang baru ia ambil dari kulkas pada dua tamunya.


Mereka ngobrol cukup lama. Kiara bahkan sampai ketiduran di kasur Nandita, saking bosannya mendengarkan sesi curhat dua wanita yang berbeda generasi dengannya itu.


"Laki-laki emang gitu Ta kalau udah bucin,,. Kita kaya udah jadi hak paten milik dia. Tapi semua harus dikomunikasikan. Biar hubungan kalian itu enak. Gak ada yang tertekan satu dengan yang lain. Gak ada yang merasa paling, tapi harus saling.


Ngerti nggak maksud aku?" Nandita yang memang belum paham, hanya menggeleng.


"Merasa paling cinta, paling berkorban, paling tersakiti, paling mengerti. Yang sebenarnya adalah ego kita, untuk mendapat pengakuan dari pasangan. Cobalah untuk saling mengerti, saling menghargai, saling mencintai. Buat komitmen, sampai batas mana sesuatu bisa ditoleransi. Harus ada komunikasi. Jangan kamu pendam segala keluhan kamu tentang dia, di hati kamu sendiri. Itu gak baik. Bicarakan baik-baik, agar gak terjadi bom waktu." Nasihat Candra pada sahabatnya itu.


Nandita menyimak semua yang Candra katakan. Ia yang sama sekali belum pernah memiliki komitmen dengan laki-laki, memang harus banyak belajar dari pasangan lain.


Tapi masih dalam batas wajar. Hal-hal yang lebih pribadi, akan ia selesaikan sendiri. Seperti soal hubungannya dengan Mira, ia tidak membaginya pada Candra. Cukup bundanya saja yang tau masalah yang ia hadapi soal itu.


^_________^^_________^^_________^


Maaf ya,,, jadwal up nya berantakan. Musim sakit, anak-anak Nia giliran cari dokter. Panas, batuk,pilek.


Jaga kesehatan kalian ya,,,, agar selalu fit beraktifitas.

__ADS_1


Oh ya,,,, terimakasih sudah setia temani perjalanan Nandita ya,,,. Jangan lupa dukungannya, agar Nia semakin semangat untuk berkarya. Ditunggu like n komennya, juga hadiah dari kalian😘😘


Pelukku untukmu sahabat onlineku🤗🤗🤗


__ADS_2