
Debaran ini,,,, bisakah kamu jelaskan padaku apa artinya?? Sebab aku yang buta dan mati rasa tidak mengerti. Saat tatapan mata dan sentuhan tangan memberi energi yang tak pernah aku miliki.
Tidak ada yang berubah selama ini. Hari berganti, roda kehidupan terus berputar.
Bila kemarin Nandita merasa mimpi nya masih sangat jauh untuk ia gapai, kini ia harus bersyukur pada Tuhan, sebab jalan nya di mudahkan.
Uang gaji nya sebagai guru ia gunakan untuk kehidupan sehari-hari. Sementara uang hasil mengasuh Mira, sengaja tidak pernah dia ambil. Target nya tahun ini ia akan merasakan perjalanan pertama nya ke negeri orang.
Kalian tahu berapa yang ia dapat kan dari Gunadh setiap bulan nya?? Hampir mencapai angka 15juta. Dan kini sudah berjalan tiga bulan. Belum lagi ATM dari sang kakek. Namun ia berusaha untuk tidak mengotak atik uang di dalam nya sama sekali.
Hubungan Nandita dengan Gunadh pun semakin dekat, bukan sebagai sepasang kekasih, melainkan sebagai pengasuh dan bos.
Saat ia senggang tidak jarang Nandita yang di minta untuk menemani Mira di rumah gadis itu. Sehingga intensitas bertemu nya dengan Gunadh menjadi semakin sering. Dari pertemuan-pertemuan itu Nandita merasakan kenyamanan bersama Gunadh. Namun ia berfikir hal itu adalah sesuatu yang biasa.
"Mas,,,, aku mau bikin jus mangga ya,, pinjam dapur." Nandita ijin pada Gunadh sebab saat ini ia sedang bermain di rumah laki-laki itu
"Oohh silahkan,,,. Buatin aku juga boleh??"
Gunadh bertanya.
"Ya boleh,, ini aku bawa mangga lumayan banyak, kemarin ayah bawain dari rumah."
Ia menunjuk kantung kresek yang baru saja ia ambil dari motor nya.
Ia berjalan menuju dapur, membuat jus untuk dirinya juga untuk Gunadh dan Mira sekalian.
Setelah selesai, ia membereskan semua peralatan agar kembali ke tempat semula.
"Ini mas,," Nandita menyodorkan gelas besar berisi jus tersebut.
"Waaaahh terimakasih Dita,,,." Dengan wajah cerah Gunadh menerima jus tersebut. Sifat yang belakangan baru diketahui Nandita dari Gunadh, laki-laki itu murah senyum bila pada orang terdekat.
"Miraaa,,,, ini jus nya,,,." Panggil Gunadh pada sang anak.
"Biar aku yang bawain." Nandita hendak berlalu
"Udaah kamu duduk di sini aja,, ada yang mau aku obrolin." Gunadh meminta gadis itu agar duduk di kursi rotan di sebelahnya. Kebetulan mereka sedang duduk santai di taman belakang rumah besar milik Gunadh.
Mira berlari dari arah taman.
"Makasi onty,,,," senyum ceria gadis itu menular pada Nandita yang juga ikut tersenyum.
"Onty,,, jadi ya bilangin sama daddy soal yang kaemarin,," bisik nya pada Nandita, lalu kembali ke arah taman dengan membawa serta jus mangga nya.
"Bisikin apa dia??" Tanya Gunadh ingin tahu
"Mmmm dia kepengen bisa bela diri,,,." Jawab Nandita ragu
Alis Gunadh berkerut, memandang curiga pada sosok Nandita.
"Kamu pengaruhin dia biar belajar kekerasan begitu??" Tanya nya dengan wajah tidak senang.
__ADS_1
"Kok nuduh gitu sih mas?? Aku ga pernah ya pengaruhin Mira soal begitu,,,!!" Seru Nandita tidak terima.
Memang di sini posisinya dia adalah karyawan Gunadh, tapi itu tidak resmi. Tidak seperti karyawan kantor pada umum nya. Jadi ia berani berpendapat selayaknya orang dekat bagi Gunadh. Sebab dari awal Gunadh memintanya untuk menemani Mira, bukan mengawal anak gadis nya.
"Lagipula apa untung nya buat aku ngajarin Mira bela diri?? Kalau bukan karena aku merasa itu juga penting untuk dia aku juga ogah...!!" Nandita kesal pada Gunadh.
"Nanti mas bilang aja sendiri sama anaknya kalau mas ga bolehin dia belajar silat. Aku ga mau liat muka kecewa nya dia. Baru aja dia kelihatan ceria, sekarang udah dibikin kecewa lagi. Lagian ya mas,,, belajar bela diri itu bukan berarti kita jadi orang yang kasar. Itu penting untuk perlindungan diri, apalagi perempuan sangat rentan dengan tindak kejahatan. Pelecehan seksual juga kekerasan. Mas ingat kejadian dulu kan?? Gimana jadinya kalau saat itu yang nemuin Mira bukan aku atau orang lain yang bisa bela diri?? Bukan aku merasa hebat, tapi memang itu faktanya." Nandita bicara panjang lebar dan Gunadhyia hanya bisa menyimak saja.
"Kamu cerewet juga ya,,,,." Gunadh menanggapi singkat sembari menarik sedikit rambut Nandita yang duduk di samping nya. Respon Gunadh yang sungguh diluar ekspektasi Nandita.
"Baiklah,,,, akan aku pikirkan nanti." Jawab Gunadh sembari berlalu dari hadapan Nandita.
Laki-laki itu pergi menuju ruang kerja nya.
Entah kenapa akhir-akhir ini hatinya merasa tidak tenang bila berdekatan dengan Nandita.
Ada getar yang tidak biasa, namun ia coba untuk menyangkal nya.
Ia masih belum siap memulai hubungan yang baru.
Dan belum tentu juga Nandita memiliki perasaan yang sama padanya. Gadis itu susah ditebak. Sikapnya selalu baik dan ramah pada semua orang. Belum lagi hubungan nya dengan sang mantan istri dulu, cukup membuat ia trauma untuk kembali percaya pada wanita.
🌟🌟🌟
Hari ini hari pertama Mira berlatih silat dengan Nandita. Banyak aturan dari Gunadh agar Mira boleh belajar bela diri. Salah satunya, pelatih nya adalah Nandita sendiri dan mereka latihan di rumah Gunadh sendiri. Alasan nya agar duda satu anak itu lebih mudah mengawasi katanya.
Nandita hanya manut saja, ia masih belum paham maksud terselubung laki-laki itu.
Kalau dipikir lagi, bukan kah Nandita bukan guru silat?? Dia adalah atlet.
Mira bisa belajar bela diri dan ia bisa sering bertemu Nandita. Dasar bos licik.
"Hhhuuhhh,,,, mestinya aku dapet gaji lebih besar ini. Pekerjaan aku bertambah sekarang." Gadis itu bicara di samping Gunadh namun tatapan matanya ke tempat yang berbeda.
Gunadh yang tadi pikiran nya menerawang entah kemana, kini menoleh ke arah gadis itu.
"Ngomong aja langsung,, ga usah nyindir gituuuu." Katanya sembari menarik rambut Nandita
"Iiisssh mas kenapa sih suka banget tarik-tarik rambut aku?? Botak nanti aku nya,,,." Nandita kesal, wajah nya merengut.
"Habisnya,,, pake acara nyindir,. Kamu mau gaji berapa??"
"Berapa yang mas mau kasih??"
"Lah kamu lah yang tentuin,, gimana sih....? Lagian matre banget,, bukan nya uang kamu udah banyak ya??"
"Yeeee bukan matre mas namanya,,,, tapi memanfaatkan ketrampilan. Lagian uang aku ga lebih banyak dari mas. Kalo mas ga mau kasi kenaikan gaji,, tanda nya mas pelit." Nandita tidak terima dikatakan matre.
" Aku masih harus kumpulin banyak uang mas biar bisa jalan-jalan ke luar negeri heeheee"
Jelas Nandita sambil tersenyum malu.
__ADS_1
Gunadh pun menanggapinya dengan senyum manis nya.
"Memang kamu mau jalan-jalan ke mana??"
"Ke mana aja mas,,, yang ada salju nya. Itu impian aku dari kecil mas,, pengen menghirup udara luar negeri" Nandita membuka kedua tangan nya lebar dengan mata terpejam. Membayangkan saat dirinya merasakan udara sejuk dan dingin nya salju yang turun ke bumi. Persis seperti turis-turis yang ia lihat dalam video yang dulu sering ia tonton.
Gunadh menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Nandita yang seperti anak kecil.
'semoga mimpi kamu segera terwujud Dita' doanya dalam hati.
Hari sudah beranjak sore, saat Nandita ingin pamit untuk kembali ke kostnya. Namun Mira selalu menahan nya. Ada saja alasan gadis itu. Entah kenapa akhir-akhir ini Mira begitu manja padanya. Anak yang biasanya cuek dan jahil, bahkan dulu suka kabur, kini berubah menjadi gadis manja yang selalu ingin ditemani.
"Onty jangan pulang dulu,, temani Mira bikin pr dulu please,,,,," kedua tangan ia katup kan di depan dadanya dengan mata ia kedip-kedipkan.
"Kamu ga cocok sok imut begitu,,,,, berbanding terbalik sama muka kamu yang judes" Nandita menjawil hidung gadis yang sebentar lagi akan remaja itu.
"Tapi onty mau yaaaa temani Mira" rayu gadis itu lagi.
Tidak punya pilihan lain,,akhirnya Nandita menyanggupi untuk menemani nya.
Jadilah hari ini, hingga jam menunjukkan angka 20.20 menit ia masih di rumah besar milik Gunadhyia.
Waktu dimana ia seharusnya sudah melepas penat, namun kini ia masih harus bekerja.
"Mira,,, udah malem banget ini,, onty pulang dulu ya,,. Besok sore kan kita ketemu lagi."
Terlihat wajah sendu Mira, namun Nandita harus pulang sebab hari sudah malam.
Ia melangkah menuju motor matic kesayangan nya. Namun sialnya si kesayangan Nandita itu juga ikut membuatnya kesal, sebab sudah hampir sepuluh menit motor itu tidak mau menyala.
Rasanya Nandita ingin menangis saja saat ini, namun semua tidak akan berubah bukan??
"Kenapa motor kamu" tiba-tiba suara Gunadh mengagetkan nya yang sedang sibuk menstater motor.
"Tau nih,,, bikin emosi aja. Tumben-tumbenan ga mau nyala. Minta dilembiru kaya nya" ucap Nandita asal
"Lembiru,,, apa itu??" Tanya gunad lagi.
"Lempar beli baru,,,! Masa gitu aja ga tau sih,," Nandita yang sudah kesal, ditanya-tanya terus jadi tambah kesal.
'bantuin kek,,, dasar ga peka. Nanya melulu lagi, udah kaya tukang sensus aja' umpatnya dalam hati.
"Oohhh ya udah hayooo,," tidak menanggapi ucapan asal Nandita, Gunadh malah mengajak wanita itu masuk ke dalam mobilnya yang masih terparkir di halaman rumah.
"Kemana?? Gak aah,, ini udah malem, mana motor aku ga mau nyala lagi. Besok aku ada jadwal ulangan juga. Jadi harus masuk pagi"
Tolak Nandita
"Ya mangkanya itu ayooo, aku anter. Kebetulan aku lagi mau ada urusan" kata Gunadh.
"Cepetan,,, mau ikut ga nih?? Kalo ga aku tinggal ya ..." Ancam nya lagi sembari masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Eehh tunggu,,, aku numpang ikut,,," Nandita refleks berlari.
Sementara itu senyum misterius tersungging di bibir Gunadh.