
Dada Nandita berdebar hebat, saat melihat iringan mobil milik Gunadh beserta rombongannya tiba, memenuhi jalan kecil di depan rumahnya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara beberapa orang tua yang menyambut kedatangan rombongan tersebut, dan mempersilahkan mereka duduk di kursi yang sudah disediakan.
Nandita hanya bisa meremmass jari tangannya yang saling bertautan. Menunggu di dalam kamar seorang diri, membuat ia gelisah.
Tidak berselang lama, pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Kak," suara Malikha terdengar mengikuti.
"Iya dek, masuk aja." Sahutnya.
Malikha masuk bersama Biyanca. Dua bersaudara itu terlihat cantik menggunakan kebaya senada, dengan riasan wajah dan rambut yang juga hampir sama.
"Dek, ayo keluar. Gunadh udah nungguin." Ajak Biyanca yang membuat Nandita semakin gelisah.
Tiba-tiba saja tubuhnya gemetar, dengan detak jantung yang semakin kencang.
"Kak ...." Nandita mengambil nafas dalam.
"Aku kok jadi takut ya?"
"Takut kenapa?"
"Nggak tau, tiba-tiba ngerasa nggak siap untuk ini semua," ucapnya pelan.
"Ya ampun kak ... Jangan bikin malu, deh. Jangan kayak di novel-novel! Udah telat kalau mau mengundur waktu." Omel Malikha, menyela obrolan dua kakaknya.
__ADS_1
Biyanca melirik sang adik bungsu, dan kembali menatap Nandita setelahnya.
"Wajar kalau kamu merasa takut. Ini kan bukan sesuatu yang biasa buat kamu. Tarik nafas dalam, berdoa dalam hati, semoga semua berjalan lancar tanpa ada kendala apapun. Semua akan baik-baik aja," ucap Biyanca lembut.
Nandita mengikuti saran sang kakak. Setelah itu, ia mengulurkan tangan agar digenggam oleh kedua saudaranya.
Mereka berjalan beriringan, menuju ruang tamu yang sudah disulap menjadi ruang pertemuan dua keluarga.
Biyanca dan Malikha menuntun Nandita duduk di samping Gunadh, yang sejak tadi matanya tidak berkedip menatap calon istrinya.
Nandita yang terlihat begitu cantik, dengan kain songket dan kebaya putih membalut tubuh rampingnya, riasan wajah natural, dengan lipstick maroon, senada dengan warna songket yang dikenakan, membuatnya terlihat segar.
Wanita itu menunduk, tidak berani menatap orang sekitarnya. Entah kenapa hari ini ia menjadi begitu pemalu.
"Mas Gunadh, tolong jagain kak Dita ya, tangannya dingin banget aku pegang tadi, takut ntar dia pingsan." Bisik Malikha namun masih didengar oleh Nandita yang duduk di sebelahnya.
"Terima masih ya, saya akan jaga dia dengan sebaik-baiknya." Sahut Gunadh, menatap mesra wanita di sampingnya.
"Ooouuh, manis sekaliii," ucap Malikha sembari mencolek bahu sang kakak.
"Udah dek, kita cari tempat duduk dulu." Biyanca menarik pelan tangan Malikha, agar berhenti menggoda pasangan tersebut.
Nandita tidak mengatakan apapun, ia terus saja menunduk, saat para tetua memberikan wejangan pernikahan.
"Cantik sekali," bisik Gunadh di telinga calon istrinya itu.
"Apaan sih mas," kesal Nandita membuat Gunadh terkekeh kecil.
__ADS_1
"Berat banget ya sanggulnya, sampe nggak bisa digerakkan gitu kepalanya," godanya lagi.
Gunadh tahu Nandita tengah grogi. Ini adalah hal baru baginya, terlebih banyak pasang mata yang menjadikan mereka berdua pusat perhatian. Ia ingin mencairkan suasana agar wanitanya merasa lebih rileks, lebih nyaman, dan bisa menikmati tiap momen penting yang mereka berdua jalani saat ini.
"Udah makan?" Kembali Gunadh bertanya, sebab Nandita tidak merespon candaan sebelumnya.
"Udah. Mas udah makan?" Nandita menoleh ke arah calon suaminya.
"Sudah." Sahut Gunadh dengan tatapan mesranya. Nandita kembali menunduk.
"Angkat kepalanya sayang, kali ini biarkan mereka melihat seberapa cantiknya istri mas ini."
"Ish, mas Gunadh diem. Dengerin mereka lagi ngomong," kesal Nandita, sebab sejak tadi Gunadh tidak berhenti bicara.
"Sstt, kalian bisa nanti aja nggak ngobrolnya? Para tetua lagi bicara," bisik bunda Santi yang duduk di belakang mereka.
"Tuh dengerin," ucapnya judes. Ia merasa tidak enak jika sampai para tetua tahu, dan mereka kembali menjadi pusat perhatian.
Dan benar saja, belum selesai ia berdoa dalam hati, salah satu tetua adat sudah membuka suara.
"Sepertinya calon pengantin kita sudah tidak sabar menghabiskan waktu berdua. Kita di sini bicara, mereka juga ikut berbisik-bisik." ucapnya membuat yang lain tertawa kecil.
"Sabaar ya anak muda, nanti ada waktunya kalian bisa mengabiskan waktu tanpa diganggu." Komentar tetua yang lain, membuat suasana semakin riuh.
Para tamu undangan pun ikut berkomentar, menganggap lucu tingkah keduanya.
Kembali menarik perhatian semua orang, Gunadh justru terlihat biasa saja. Bahkan terkesan bangga dengan apa yang dilakukan barusan. Berbeda dengan Nandita yang wajahnya semakin memerah karena malu dan kesal pada laki-laki di sampingnya itu.
__ADS_1