Nanditha

Nanditha
ISI HATI ASLAN


__ADS_3

Aslan sengaja menunggu Oma dan Opanya menyelesaikan sarapan. Ia ingin bicara serius pada kedua orang tua itu.


Raut wajah Oma masih tidak bersahabat. Rasa kesal bukan hanya ia rasakan pada Nandita, tapi juga pada cucunya.


Kenapa harus merendahkan diri mencintai dan ingin memiliki seseorang yang tidak memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.


"Oma,"


"Jangan bicara lagi, sudah cukup hari ini kamu membuat Oma marah!" Ketus wanita dengan rambut memutih itu.


Aslan menarik nafas. Menatap punggung wanita yang sangat ia sayangi kini berlalu dari hadapannya, melangkah menuju taman.


"Oma," kembali Aslan menyapa.


Wanita yang duduk di kursi, menghadap ke arah taman tulip kecil itu menoleh. Namun sesaat kemudian membuang muka, menyadari sang cucu mengikutinya.


"Apa lagi? Sudah puas kan? Kamu akan memiliki Nandita sebentar lagi." Ketus wanita itu, mengangkat cangkirnya. Menikmati teh yang ia bawa dari dapur beberapa saat lalu.


Sementara sang suami tak bereaksi apa-apa, pria dengan jambang itu hanya menatap sang cucu intens.


"Sebenarnya ada yang belum aku ceritakan pada Oma." Ucapnya sambil ikut mengambil tempat duduk di samping wanita itu.


Oma menatap Aslan lekat, perlahan meletakkan cangkir ke atas meja.


"Oma, ada yang salah di sini." Ucap Aslan. Ia sebenarnya merasa kesulitan untuk menjelaskan apa yang ia rasa, dan apa yang terjadi.


Mengerti betul seperti apa karakter Oma, ia harus berhati-hati dalam berkata.


"Sebenarnya, aku dan Nandita memang tidak memiliki hubungan special. Selama ini aku hanya berniat mengerjainya saja."


Aku Aslan dengan kepala menunduk.


"Apa maksud kamu?!" Oma berkata dengan kilat matanya yang menakutkan.


"Jangan selalu mengikuti maunya, Aslan. Kamu sebagai lelaki harus bisa mengambil sikap!" Sentak Oma semakin marah.


Mungkin ia berpikir, apa yang Aslan lakukan saat ini, adalah atas permintaan Nandita.


Aslan menggeleng.

__ADS_1


"Oma dengarkan dulu, ini tidak seperti yang Oma pikirkan. Aku akan menceritakan semua, tapi Oma janji harus mendengar tanpa menyela aku sedikit pun." Ucap laki-laki itu, meraih tangan sang nenek.


"Sebenarnya aku dan onty Eby, memiliki rencana untuk membuat Nandita kembali pada tunangannya."


"Apa maksudmu?" Menghempas tangan cucunya, Oma semakin marah dibuat Aslan. Sungguh Oma tidak mengerti, kedua anak muda itu membuatnya pusing.


"Jadi begini Oma, Nandita datang kemari sebab ingin menghindari masalah dengan tunangannya. Nandita memiliki seorang kekasih. Namun ada masalah yang cukup serius hingga membuat mereka berpisah. Tapi di sisi lain, mereka masih saling mencintai. Baik laki-laki itu maupun Nandita, masih memiliki perasaan yang sama satu dengan yang lain. Hanya saja, Nandita yang keras kepala memilih pergi, sementara kekasihnya memilih membiarkan Nandita menyembuhkan lukanya. Onty Eby ingin Nandita memaafkan masa lalunya itu, namun gadis itu masih ragu dan justru menyiksa dirinya di sini. Lalu onty Eby tau aku suka padanya, dia meminta aku untuk tidak mempermainkan Nandita yang sudah seperti anaknya itu. Ia meminta aku menyembuhkan luka hati Nandita. Berharap, bila memang gadis itu tidak ingin kembali dengan tunangannya, dia bisa membuka hatinya dengan pria lain yaitu aku. Tapi dengan catatan, aku harus serius dan siap menikahinya."


"Benar itu, aku dukung menantuku." Sahut Oma yang tidak sabar sejak tadi hanya diam.


"Bukankah aku sudah melakukan seperti yang menantuku lakukan?"


"Tapi masalahnya Oma, aku belum ingin menikah untuk saat ini. Aku masih muda, masih ingin bebas menikmati hidupku."


Mata Oma membola mendengar pengakuan cucunya.


"Apa maksudmu Aslan?"


Sungguh wanita itu tidak mengerti dengan jalan pikiran cucunya.


"Kalau kamu tidak serius dengannya, kenapa kamu dekati dia? Bahkan rela membuang waktumu untuk mengantar jemput dan menemani Nandita?"


Oma menggeleng. Tidak mengerti, untuk apa cucunya ikut campur urusan pribadi orang lain.


"Dia bukan saudaramu, kenapa kamu begitu perduli soal hidupnya?"


"Aku menyayanginya Oma. Seandainya aku sudah siap menikah, aku akan membuat dia menjadi milikku bagaimanapun caranya. Tapi aku belum bisa. Aku belum ingin menikah. Sementara Nandita adalah wanita yang tidak bisa diajak main-main. Itu kata onty Eby. Aku mengancamnya, bila sampai kontrak kerjanya berakhir namun tunangannya itu belum juga datang, maka aku akan ikut dengannya. Aku akan menikahinya di Indonesia."


"Apa kamu sudah gila?!" Seru Oma yang terkejut dengan keputusan cucunya.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu tahu, bukan kamu yang harus mengikutinya tapi dia yang harus menetap di sini. Masuk keyakinan kita, dan mengikuti tradisi kita."


Oma sungguh terkejut dengan apa yang dilakukan cucunya, tanpa sepengetahuan wanita itu.


"Jangan buta oleh cinta Aslan, kamu masih punya keluarga yang harus kamu pikirkan perasaannya. Oma tidak setuju kamu melakukan itu. Lebih baik Oma menarik kembali ucapan Oma pada Nandita. Oma tidak mau kamu berpindah keyakinan dan meninggalkan negara kita." Wanita itu bergegas hendak meninggalkan cucunya di taman itu.


"Oma," Aslan mencekal tangan wanita itu.


"Dengarkan dulu. Jangan kacau kan rencanaku yang tinggal sedikit lagi akan berhasil." Pinta Aslan.

__ADS_1


"Sudah aku bilang aku belum ingin menikah. Tidak mungkin aku akan melakukan itu. Ini hanya ancamanku saja, agar dia mau menghubungi kekasihnya."


"Bagaimana kalau kekasihnya itu tidak datang? Kamu mengambil resiko terlalu besar hanya untuk orang lain bahagia Aslan," Oma nampak frustasi menghadapi cucunya itu.


"Aku yang akan menariknya kemari bila ia tidak datang Oma," tatapan Aslan menerawang jauh.


Aslan menyadari cintanya pada Nandita mulai tumbuh subur seiring kedekatan mereka yang semakin intens belakangan ini. Namun begitu, pemuda tampan itu tidak ingin egois. Ia sadar tidak ada cinta untuknya di mata gadis yang usianya lebih tua darinya itu. Itu sebabnya, ia berusaha menghadirkan kebahagiaan yang selama ini coba Nandita ingkari dari dirinya sendiri juga dunia.


Aslan bahkan sudah mencari tahu seperti apa sosok tunangan Nandita, meski onty Eby tidak memberitahunya dengan detail.


Bagi Aslan, cintanya untuk gadis itu cukuplah ia simpan sendiri. Toh begitu banyak perbedaan diantara mereka, yang sangat sulit untuk disamakan.


Mungkin aku bukan yang Tuhan takdirkan untukmu, tapi biarkan aku membawa kamu pada takdirmu.


Mencintaimu mengajarkan aku bagaimana melepas dengan ikhlas, meski terluka namun bibir tetap senyum.


"Terserah padamu saja. Oma tidak akan lagi ikut campur urusanmu dengan gadis itu." Wanita itu kemudian berlalu meninggalkan cucu dan suaminya di taman belakang.


Aslan termenung. Ia merasa bersalah pada Oma dan Opanya. Melibatkan dua orang sepuh itu, dalam urusan percintaan anak muda.


"Kamu hebat nak, itu lah cinta sesungguhnya. Tidak harus memiliki, tapi ikhlas memberi." Opa menepuk pundak pemuda itu.


"Terimakasih Opa, tapi untuk melihatnya bahagia, aku masih memerlukan bantuan Opa dan Oma untuk menyempurnakannya."


"Apa itu?"


***


Apa yang bakal dilakukan Aslan ya?


jangan lupa dukungannya untuk GunTha ya gess


like,


komen,


vote,


iklannya jangan ketinggalan 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2