Nanditha

Nanditha
KEPERGIAN NANDITA


__ADS_3

Gunadh menatap punggung Nandita yang kian mengecil diantara begitu banyak orang yang yang berlalu lalang. Ia menarik nafas dalam, mencoba iklhas dengan semua yang terjadi.


Setelah Nandita benar-benar tak mampu tertangkap indra penglihatannya lagi, ia kemudian berbalik hendak kembali.


Di parkiran, Gunadh bertemu dengan keluarga Nandita yang lain.


Ayah Darma menepuk lembut bahu laki-laki itu sesaat setelah Gunadh menyalaminya. Seolah ingin memberikan dukungan untuk Gunadh yang tengah galau ditinggal Nandita.


"Yah ... Bun ... Saya minta maaf, kalian harus berpisah jarak dengan Nandita, semua karena anak dan mantan istri saya." Gunadh sungguh merasa bersalah akan hal itu.


"Jangan menyalahkan diri sendiri nak, ini memang keinginan anak itu. Dari dulu, dia memang ingin kerja di luar negeri. Hanya saja keinginan itu sempat hilang saat dia diterima bekerja menjadi guru di sini. Mungkin ini memang jalan Tuhan, yang memberi dia kesempatan untuk mencari pengalaman hidup lebih banyak lagi." Ucap ayah Darma bijak.


"Justru ayah yang mestinya minta maaf sama kamu. Anak ayah terlalu keras hati, tidak mudah memaafkan. Meski ini juga pasti menyakitinya, tapi ia tetap kukuh dengan pendiriannya. Ayah tidak bisa mencegahnya." Kembali ayah Darma berucap.


Gunadh tersenyum menanggapi kerendahan hati ayah Darma. Bukan mereka yang salah. Bukan Nandita atau pun keluarganya. Ini kesalahannya yang tidak memberi batas pada diri, yang terlalu lemah dan buta dalam menyayangi. Kelemahan yang dimanfaatkan orang lain, untuk menyakiti Nandita juga dirinya.


"Jangan meminta maaf pada saya ayah, ini bukan salah kalian. Kalian mendidik Nandita menjadi wanita yang hebat. Saya mengaguminya, dengan semua karakter yang dia punya. Dia tegas, penyayang, pelindung, dan menyenangkan. Saya mencintai Dita dengan semua yang ada pada dirinya." Tanpa malu Gunadh mengungkapkan perasaannya.


"Tapi dia pendendam dan rapuh disaat yang sama."


"Saya tetap mencintainya. Dan akan terus berjuang mendapatkan hatinya kembali." Dengan yakin Gunadh menjawab.


Orang tua dan keluarga Nandita terharu mendengarnya.


"Semoga kalian bisa kembali bersama." Tante Sari yang sejak tadi diam, kini ikut bersuara.


"Berjuanglah nak, kami merestuimu ---"


"Tapi jangan sakiti kak Dita dengan keraguan mas Gunadh lagi." Ucapan bunda Santi langsung di sambut oleh Malikha.


"Gak akan Kha. Gunadh pasti kapok, kakakmu itu kalau ngambek perginya jauh. Susah lagi dibujuknya." Ledek Satya memecah suasana haru.


"Hahaaaa ..." Mereka kompak tertawa, termasuk Gunadh.


Sembari mengusap belakang kepalanya, Gunadh tersenyum canggung. Ucapan Satya seratus persen benar. Tidak akan lagi ia berani melukai Nandita seperti saat ini, di masa depan.


🌟🌟🌟


Gunadh melajukan mobilnya kembali ke rumah. Ia sengaja tidak pergi ke kantor hari ini, karena pikirannya masih kacau. Selain karena kepergian Nandita, duda satu anak itu juga sedang bersitegang dengan sang putri yang begitu keras kepala.


Gunadh sedang menikmati kesendiriannya. Mencoba meresapi kesedihan, dan membujuk dirinya untuk berbesar hati.


Alunan musik yang sengaja ia putar pelan, cukup mewakili perasaannya saat ini.


Kemanakah ku kan melangkah


Jalan kita tak tentu arah


Hidup yang pernah kupahami


Terjaga di sampingmu


Andaikan waktu memihak ku

__ADS_1


Jangan cepat semua berlalu


Apa yang pernah kita lalui


Mulai terurai sepi


Menepilah sejenak kekasihku


Berikan ruang untuk rindu


Sehingga reda deru ragumu


Kan kupeluk hatimu


Tak pernah terbayangkan tiba


Lelah membuat kita lupa


Apa yang pernah kita jaga


Tak berarti akhirnya


Menepilah sejenak kekasihku


Berikan ruang untuk rindu


Sehingga reda deru ragumu


Kan kupeluk hatimu


Menepilah sejenak kekasihku


Berikan ruang untuk rindu


Sehingga reda deru ragumu


Kan kupeluk hatimu


oh


Kembalilah ke masa itu


Ketika pertama bertemu


Dimana cinta hentikan waktu


Dan kau peluk hatiku


Ketika cinta hentikan waktu


Dan kau peluk hatiku.


Gunadh tersenyum miris. Mungkin ini yang sedang ia lakukan kini. Membiarkan Nandita pergi, mengobati hati yang tak bisa ya jaga. Memberi waktu pada rindu, agar mampu mengalahkan ragu.

__ADS_1


Tiba di rumah, Gunadh tak langsung menuju kamarnya. Laki-laki itu berbelok menuju kamar sang putri yang letaknya berseberangan arah dengan kamarnya.


Waktu masih menunjuk angka 13.15 biasanya Namira masih tidur di jam itu. Ia ingin berbicara dengan pelan dan tenang dengan sang putri.


Alis Gunadh berkerut. Namun kemudian ia teringat dengan perdebatan mereka tadi pagi.


Gunadh merogoh ponsel yang ada di saku celananya. Sembari berjalan menuju kamar, ia menghubungi seseorang.


"Kalian dimana?" Tanyanya pada seseorang di seberang sana.


"Saya sedang di depan toko kue tuan. Tadi nona Mira keluar, sesaat setelah tuan pergi. Dia sempat ke sebuah mall, membeli sesuatu di toko perhiasan setelah itu dia ke toko kue ini. Tapi sudah lebih dari 30 menit belum keluar juga."


"Tapi dia masih di tempat itu kan?"


"Masih tuan, temannya masih menemani nona."


"Sama siapa saja dia pergi?"


"Dengan nona Gayatri tuan."


"Baiklah, awasi terus dia. Jangan sampai kamu kehilangan jejaknya. Laporkan semua kegiatan yang dilakukannya. Ingat, jangan sampai anak itu tahu."


"Iya tuan."


Sambungan telepon terputus.


Gunadh mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia bersandar pada headrboard tempat tidurnya.


'kenapa sulit sekali memberi pengertian padamu nak? Daddy takut kamu akan terluka, bila tau seperti apa bejatnya orang yang sudah melahirkan kamu.'


Tanpa melepas sepatu, dan baju kerjanya, Gunadh terlelap dengan posisi masih bersandar.


Kehidupannya yang rumit ditambah pekerjaan yang semakin banyak tantangan membuat pikirannya lelah.


^_________^^_________^^_________^


Manusia memang suka gitu ya ... sering kali kita menggampangkan apa yang dimiliki, hingga sesuatu itu pergi baru kita menyesal dan merasa kehilangan.


Kegalauan Gunadh apa pernah kalian rasakan?


Eehh btw aku punya rekomendasi Novel dari temen aku nih, diintip yuk ... ⬇️


SEMUA ORANG BISA BERUBAH SEIRING PERJALANAN WAKTU.


Olivia Rosemary harus menelan pil pahit karena kekasihnya, Kenneth Jonathan terbukti selingkuh di depan matanya. Keputusan untuk mengakhiri hubungan nampaknya membuat perubahan besar pada diri Olivia.


Kenric Miguel Cotto harus menceraikan istrinya, Yoluta Zaylee karena ketahuan selingkuh dengan pria lain. Rasa kecewa dan pengkhianatan sang istri membuat Kenric hilang kepercayaan.


Rasa kecewa dan amarah yang tiada henti membuat Kenric dan Olivia memutuskan untuk menjalin hubungan. Hubungan terlarang karena Olivia adalah keponakan Kenric. Hubungan yang didasari atas rasa kecewa, kebencian, dan berakhir di tempat yang salah.


Bagaimana akhir hubungan percintaan yang tidak seharusnya itu? Mampukah mereka mengarungi bahtera kehidupan setelah mendapatkan penolakan dari berbagai pihak?


Yuk ikuti kisahnya 🙏

__ADS_1



__ADS_2