Nanditha

Nanditha
YEEEE SARJANA


__ADS_3

Tubuh yang dibalut kebaya modern dengan kain tenun ikat di bawahnya, menampilkan kesan anggun khas gadis Bali pada diri Nandita.


Ditambah lagi dengan sanggul sederhana, juga bunga anggrek bulan, semakin menambah kesan ayu.


Ia tidak ingin berlebihan. Penampilan yang sesungguhnya sederhana itu, tidak kalah memukau dengan orang-orang yang juga hadir di sana dengan penampilan maksimal.


Kain yang digunakannya adalah kain bekas wisuda sang kakak, begitu pula sanggulnya. Yang baru darinya hanya satu. Ia hanya menjahit kebaya karena ukurannya dengan sang kakak sedikit berbeda.


Awalnya ia pun tidak ingin membeli kain kebaya, ia beranggapan untuk apa beli toh dipakai hanya sekali, lebih baik menyewa, pikirnya.


Namun sang kakak sepupu dan tante yang tahu niatnya memarahinya.


Nindya kakak sepupu tertua juga Tante Niar yang saat ini ada di kota berbeda mengancam akan membuatkan gaun mewah untuknya kalau ia tidak mau membuat kebaya sendiri.


Aneh memang, saat yang lain ingin di beri lebih Nandita malah sebaliknya. Ia tidak ingin berhutang terlalu banyak pada orang lain.


Sombongkah??


Tentu saja tidak. Kenangan masa lalu memiliki pengaruh yang sangat kuat pada pola pikir seseorang.


Nandita yang tau bagaimana orang tuanya diremehkan dan tak dianggap, menanamkan di kepalanya bahwa ia harus bisa berdiri di atas kaki sendiri.


Agar ia bisa mengangkat kepala dengan tegak saat berhadapan dengan orang - orang yang meragukan ia dan keluarganya.


Akhirnya ia mengeluarkan uang sebesar lima ratus ribu untuk kebaya modern yang ia kenakan.


Sang bunda tau ia punya tabungan, jadi bunda menyerahkan semuanya pada Nandita. Namun seragam keluarga tetap bunda yang tanggung.


Begitulah bunda,, ia bukan ibu yang akan selalu pasang badan untuk putrinya, bahkan terkadang ia akan 'memanfaatkan' sang putri.


Tapi percayalah anak yang sering dilepas oleh orang tuanya, ia akan tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri. Karena mentalnya sudah terlatih untuk bertahan disaat sulit.


"Kakak cantik banget sihh..." Wajah Malikha merengut tanda tak suka. Ia tidak terima sang kakak lebih cantik darinya


"Ya memang aku cantik, beda sama kamu, udah dandan juga tetep kaya orang-orangan sawah,,,."


Nandita yang tahu sang adik merasa cemburu, sengaja memanasi hati adiknya agar merasa kesal.


Sontak saja mata Malikha semakin ingin keluar.


"Udah.... Kebiasaan kalian itu, ga tau tempat. Setiap bertemu selalu saja adu mulut. Ayah kandangin kalian lama-lama." Sang ayah yang biasanya diam, kini berkata ketus. Sontak anak-anak langsung bungkam


Kegiatan berlangsung dari pagi hingga menjelang sore. Meskipun Nandita bukan mahasiswa terbaik, namun ia tetap merasa bangga karena tidak mudah menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga setengah tahun.


Lumayan menghemat uang bekal dan uang kost lagi enam bulan kalau kata bunda.


"Selamat ya Dita sayang.... Maaf kakak ga bisa temenin kamu pas wisuda, kakak ga dapet cuti" Wajah Byanca memenuhi layar ponsel tersebut.


Tak lama setelahnya muncul wajah-wajah yang lain, karena mereka melakukan video grup.


"Adeknya kak Dya,,,,,, seneng deh liat kamu pake toga,,,, selamat sayang" Nindya dengan perut besarnya, muncul dengan wajah sumringah


"Ponakannya Tante Niar,,,, nanti mau kado apa dari Tante" Tante Niar ga kalah ambil bagian


Nandita hanya bisa tersenyum melihat kehebohan pada layar ponselnya. Ya bahagia karena dikelilingi orang-orang yang sayang padanya.


"Dita,,,,, buruan kesini, ditungguin yang lain tuh mau bikin foto bersama." Salah satu teman angkatannya memanggil


"Kak Byan, kak Dya, ante Niar, udah dulu ya,,, aku dipanggil teman suruh bikin foto katanya." Ucapnya tidak enak.


Sesi foto pun sudah selesai. Tergambar jelas raut wajah bahagia para wisudawan wisudawati yang telah resmi memiliki gelar akademik mulai hari ini.


Saatnya mereka melangkah ke gerbang kehidupan yang lebih menantang dari sekadar membuat skripsi. Ujian kehidupan yang lebih rumit sudah menanti di depan mata.

__ADS_1


🌟🌟🌟


Setelah semua acara selesai, saatnya kembali pulang ke rumah. Namun sebelum itu Nandita mengajak keluarganya untuk beristirahat di kostan terlebih dahulu.


Wajah Nandita mendadak tegang, saat tiba di halaman kostan ia melihat seseorang telah duduk di kursi depan kamar kostnya. Wajah orang yang sudah lumayan lama tidak ia lihat.


Orang yang sesungguhnya ia sayangi, namun sudah menorehkan luka pada hatinya.


"Candra,,," Gadis yang disebut namanya itu menoleh


"Selamat ya Ta, atas kelulusan kamu,,,." Ucapnya dengan kepala menunduk.


Candra datang bersama mama juga adiknya Kiara. Sengaja ia datang ke kostan karena ia tidak berani menampakkan wajah di kampus.


Ia takut ditolak di depan umum oleh Nandita. Dirinya belum siap dipermalukan.


"Ayo masuk dulu nak, Bu, kita ngobrolnya di dalam saja. Biar lebih enak ngobrolnya, sambil minum teh" Bu Santi segera menimpali, karena melihat wajah Nandita yang masih tampak bingung.


'sungguh tak bisa diandalkan' Sungut Bu Santi dalam hati melihat kelakuan anaknya.


Mereka masuk ke dalam ruang tamu, dan duduk lesehan yang hanya beralas karpet sederhana. Maklum anak kost


"Mmmmm Ta, aku kesini mau minta maaf sama kamu, atas semua sikap aku, yang selama ini udah pasti bikin kamu sakit hati.


Aku menyesal udah bikin kamu marah dan ga mau bertemu aku. Aku emang bukan teman yang baik, aku terlalu toxic buat jadi teman kamu"


Candra mengutarakan niatnya bertemu Nandita hari itu.


Nandita tersenyum, sejatinya ia sudah memaafkan Candra dari dulu.


Setelah tahu keadaan Candra yang sesungguhnya, Nandita sudah melepas rasa sakit hatinya. Ia juga berharap kondisi mental Candra segera membaik.


"Aku udah maafin kamu kok, jauh sebelum kamu minta maaf. Gimana kondisi kamu sekarang??" Ragu Nandita bertanya. Ia takut menyinggung perasaan Candra. Bagaimanapun, ia belum tahu sejauh mana kesehatan mental Candra saat ini.


"Tapi aku belum bisa melanjutkan kuliah, dokter menyarankan agar aku rehat dulu, supaya aku bisa lebih rileks. Mungkin tahun depan baru aku mulai lagi" sahutnya lagi.


Sang mama mengelus pundak anaknya, memberi dukungan melalui sorot mata yang menenangkan.


" Nak,,,,, atas nama Candra, juga Tante pribadi, meminta maaf. Semua ini tidak akan terjadi, kalau tante bisa menjadi ibu yang baik untuk Candra" Bu Diah kembali merasa bersalah atas kejadian beberapa bulan lalu.


Bu Santi yang baru datang dari arah luar, membawa beberapa minuman dingin. Ia menyajikan minuman juga beberapa makanan ringan, sebagai teman bicara.


"Silahkan Bu, nak Candra, diminum. Maaf ya darurat, maklum anak kost" Bu Santi mempersilahkan para tamu menikmati suguhannya. Meskipun hanya minuman warung, setidaknya sebagai tuan rumah ia sudah menyambut tamu dengan baik


"Aduuh Bu,,,,, saya ga enak ini jadi ngerepotin ibu begini.... Diterima mampir aja kami sudah senang, tidak perlu disuguhi hidangan begini" Bu Diah semakin merasa tidak enak hati.


Ternyata sikap ramah dan baik yang Nandita perlihatkan, menurun dari ibunya yang juga sangat ramah.


Akhirnya hari itu, tepat saat Nandita mendapatkan gelar sarjananya, ia juga mendapatkan teman lamanya yang telah kembali.


Flashback


Setelah kepergian Nandita dari ruang rawatnya, emosi Candra kembali tidak terkendali. Ia merasa marah, kecewa, dan malu menjadi satu.


Akalnya tidak terima dengan perlakuan Nandita, namun sudut hatinya membenarkan semua yang temannya ucapkan.


Ia menjerit, menangis histeris, dan memukul dadanya yang terasa sesak. Tidak lama setelah itu, ia tertawa di sela Isak tangisnya.


Dokter menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuh Candra.


Psikolog yang mendampingi Candra dengan sabar menemani dan mengawasi setiap perubahan suasana hati Candra selama di rawat di rumah sakit.


Perlahan sang psikolog mendekatinya kembali. Menceritakan kisah-kisah inspiratif yang diharapkan bisa merubah sudut pandang Candra melihat kehidupan.

__ADS_1


Mamanya juga memutuskan untuk berhenti dari dunia bisnis. Ia mempercayakan semua di tangan suami dan orang-orang kepercayaannya. Dan sang suami setuju dengan keputusan wanitanya itu.


Jadilah setiap hari Candra mendapatkan perhatian dari adik juga mamanya. Saat akhir pekan, sang papa juga akan mengusahakan tetap bersama keluarga.


Hal itu jelas memberi dampak luar biasa bagi Candra. Ia merasa dicintai, didukung, dan dilindungi oleh keluarganya. Sesuatu yang selama ini ia impikan, kini menjadi kenyataan.


"Kak Andra hari ini ada acara ga??" Tanya Kiara saat ia sedang duduk di pinggir kolam ikan samping rumahnya


"Ga ada,,, kakak kan udah cuti kuliah. Lagian untuk latihan silat juga kakak ga bisa sekarang, tau sendiri kakinya begini" Sambil menunjuk kakinya dengan wajah lesu


"Kalo gitu temenin Kia ya kak... Kia mau beli kado ulang tahun untuk temennya Kia"


"Belinya dimana?? Jangan jauh - jauh dek,, kakak males keluar lama,,,,"


"Ya,,, di mall Deket sini kok,, udaaaah ayoook keburu sore nantiiii"


Selang tiga puluh menit, mereka sampai di mall yang mereka tuju. Kiara menggandeng tangan Candra keluar masuk toko, namun tidak ada satu benda pun yang ia bawa.


Candra kesal karena sudah lebih dari dua jam, namun kado belum juga adiknya dapatkan.


"Kamu mau cari apa sih dek?? Keluar masuk toko ga jelas. Cape tau!!"


" Heeeee sabaaar dong kak.... Belom Nemu yang pas ini,," Kiara menggaruk kepalanya yang mendadak gatal


"Yang ulang tahun siapa, umurnya berapa, sukanya dia apa. Trus kamu mau kasih apa untuk dia?? Kalau kamu masih belum punya bayangan soal itu, keliling mall Ampe subuh juga ga bakal nemu. Pilih kado yang bermanfaat, jangan asal kamu suka aja. Biar ga mubazir juga.


"Nah itu dia kak.... Aku ga tau dia sukanya apa. Soalnya dia tomboy gitu,,,, penampilannya kaya anak jalanan gitu kak..."


"Kalau kita beliin baju aja gimana??"


"Udah biasa kali kak,,,,, masa baju sih?"


"Kalau sepatu?"


"Aku ga tau ukuran kakinya,,," Kiara hanya bisa tersenyum kuda, sedangkan Candra semakin kesal.


"Nah yang itu aja....." Candra menunjuk sebuah tas punggung kulit, yang terlihat simple namun juga berkelas.


"Coba kita liat dulu kak...."


Mereka kembali melangkahkan kaki menuju sebuah toko tas dan segera menuju tas yang dimaksud.


Baru saja Kiara menyentuh tas itu, tiba-tiba tangan yang lebih kecil darinya mengambil tas itu dengan cepat.


"Eeeehhhh itu aku mau beli,,, kembaliin ga?!" Kiara menatap marah pada anak perempuan yang kini menguasai tas tersebut.


"Aku juga mau beli tas ini,, emang kamu aja. Siapa cepat dia dapat bleeee" Menyebalkan sekali anak ini pikir Kiara.


"Balikin ga,, kamu ga cocok pake tas gede begini.... Kamu cocok nya pake tas hello Kitty, ato little ponny"


" Yeeee enak aja, suka - suka aku dong mau yang mana. Beli juga pake duit aku. Siapa kamu ngatur-ngatur aku. Dasar Tante-Tante!!"


"Heeee kamu ya" Kiara sangat kesal dengan anak menyebalkan menurutnya itu.


"Udah sih dek,, kita tanya pelayan tokonya aja, siapa tau masih ada stoknya. Malu tau ribut di depan umum begini."


'Pelayan toko pada kemana sih' Candra merasa khawatir sendiri.


"Udah dapet blom tasnya dek??" Tiba-tiba suara yang sangat Candra kenal menggema dari belakang punggungnya.


Ia membeku,, setelah sekian lama akhirnya ia bisa mendengar lagi suara itu. Suara dari laki-laki yang ia rindukan, namun juga ingin ia lupakan


"S a t y a" gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2