
Tangan pria yang hendak menyentuh tubuhnya langsung ditarik dan dibanting oleh Nandita. Melihat temannya mendapat serangan, dua pria yang tadinya berdiri agak jauh, kini berlari hendak menyerang.
Perkelahian pun tidak dapat dihindari. Nandita melawan pria bertato, sementara Candra menghadapi pria yang lebih gelap.
Pria buruk rupa itu bangkit hendak menyerang Candra dari belakang, namun tendangan Nandita menghentikan niatnya.
Karena fokus Nandita terbagi, pria bertato berhasil melayangkan tinju ke arah Nandita tepat mengenai pelipis gadis itu.
"Si*l!" Maki gadis itu yang hampir terjatuh.
Candra pun ikut menoleh ke arah Nandita
"Lawan satu Ndra, aku dua." Ucap Nandita agar Candra fokus pada sasarannya.
Nandita segera memasang kuda-kuda. Dia harus bisa mengalahkan dua orang, sebab tidak mungkin membiarkan fokus Candra terbagi mengingat gadis itu pernah mengalami cidera.
Nandita langsung melompat dan menendang sasaran tepat mengenai hulu hatinya. Sementara satu orang terjatuh, ia membereskan satu lagi dengan gerakan memutar dan menendang. Meski sempat menangkis tendangan Nandita, pria yang ingin menyentuh tubuhnya itu, dihadiahi tinju di pipi kanannya.
Lawan Nandita bukanlah atlet bela diri yang menguasai tehnik menyerang, sehingga sangat mudah bagi Nandita mengalahkan mereka.
Begitupun dengan Candra, meski kekasih Satya itu pernah mengalami patah tulang, namun untuk mengalahkan satu lawan, dia masih sanggup.
Tiga pria itu terkapar di atas tanah.
Dengan nafas yang belum teratur, Nandita bertanya.
"Siapa diantara kalian yang bernama Anton?"
Wajah pria bertato itu menegang.
"Ngapain cari Anton?" Dengan posisi mengenaskan pria itu bertanya.
"Kamu yang namanya Anton?" Tembak Nandita.
Pria bertato itu tidak dapat mengelak lagi.
Nandita meraih kerah baju pria itu dan menyeretnya. Meninggalkan Candra yang masih sibuk mengawasi dua pria lagi di halaman rumah tersebut.
Di dalam, Nandita menghempas tubuh Anton.
"Katakan apa maumu? Kenapa kamu menyerangku?"
"Kamu masih bertanya? Bukankah kalian sudah siap dengan kedatangan kami?" Sinis Nandita.
"Kamu ingat gadis bernama Tasya?" Lanjut Nandita dengan berkacak pinggang.
__ADS_1
Mata Anton membola.
"Benar, kamu yang sudah menodainya?" Kilat emosi kembali terlihat di mata gadis itu.
"Siapa kamu? Ada hubungan apa kamu dengan dia?"
Plak
Tamparan keras Nandita layangkan pada pria yang tidak berdaya itu. Ia seolah memiliki altar ego yang bersemayam dalam dirinya. Kekuatan amarah memang sangat menakutkan.
"Kamu tahu, karena ulahmu saudaraku hampir meregang nyawa dengan keadaan berbadan dua." Ucap Nandita penuh penekanan.
"Tidak mungkin! Kamu bukan saudaranya! Kata Safira gadis itu adalah anak haram yang tinggal di lokal**asi, yang ibunya sendiri adalah seorang pe**cur." Anton mencoba menyangkal.
Nandita pun terkejut mendengarnya. Namun ia tidak semudah itu percaya.
"Mau mencari pembenaran? Sekalipun dia adalah orang seperti yang kamu tuduhkan, apa pantas kamu melakukan hal menjijikkan itu?"
"Aku tidak tahu kalau dia masih per**an!" Anton berteriak meski bibirnya terasa sakit saat digerakkan.
"Jangan lupa, aku bertemu dia di club malam. Dengan pakaian minim dan dengan seorang Safira." Anton membela diri.
"Tapi tunggu, katamu Tasya berbadan dua? Apa dia hamil ---"
Kedatangan mereka menghentikan obrolan sengit diantara keduanya.
Flashback
Gunadh mengejar laju sepeda motor yang dikendarai Nandita. Sungguh dirinya tidak menduga kalau ternyata Nandita bisa segarang itu di jalan raya. Bahkan beberapa kali Gunadh memejamkan matanya saat melihat Nandita menyalip kendaraan lain.
"Saya kok seperti melihat aktris Hollywood di film-film action ya?" Gunadh mencoba bergurau di tengah ketegangan. Dengan kecepatan mobil yang lumayan tinggi, Gunadh terus berada di belakang motor Nandita.
Bersyukur keadaan jalan masih lengang karena belum waktu jam pulang kerja.
"Aku juga nggak tahu kalau Nandita bisa seberingas ini." Satya membenarkan.
Mereka masih bisa memantau kendaraan Nandita. Hingga tepat di perempatan jalan, mereka terkena lampu merah.
"Sial! Lampu merah lagi." Keluh Gunadh.
"Mereka kemana ya kira-kira?" Sambungnya .
"Sebentar aku telepon Candra dulu." Seperti dugaan, Candra tidak mengangkat telepon Satya. Mereka benar-benar kehilangan jejak.
Setelah lampu hijau menyala, Gunadh segera menekan gas berharap bisa menemukan Nandita.
__ADS_1
Hampir empat puluh lima menit mereka mengelilingi jalan yang kemungkinan dilewati Nandita. Namun hasilnya nihil.
Satya sekali lagi menekan nomor Candra. Setelah beberapa saat menunggu barulah dijawab oleh gadis itu.
"Yank kenapa lama banget angkat teleponnya?"
"Ada apa? Aku masih jagain dua kadal ini."
"Kasi tahu alamat kamu sekarang. Kita kehilangan jejak sejak tadi."
Tanpa banyak bertanya, Candra menyebut alamat rumah Anton.
Akhirnya meluncurlah Gunadh ke alamat yang Candra sebutkan.
Sementara Candra dengan tangan terlipat di depan, mengamati gerak gerik dua orang yang tadi sempat melecehkannya dengan kata-kata.
Tatapan Candra sama menakutkannya dengan Nandita. Meski gadis itu terlihat lebih modis dengan rambut berwarna coklat dan sedikit riasan di wajahnya.
Tidak berselang lama, Gunadh dan Satya tiba. Mereka kompak berlari mendekati Candra.
"Yank, kamu nggak apa-apa?" Satya mengkhawatirkan kekasihnya.
Candra menggeleng dengan senyum manisnya.
"Nandita mana?" Tanya Gunadh yang tidak menemukan sosok gadis itu.
"Dia ke dalam sama Anton." Sahut Candra.
Tanpa banyak tanya, Gunadh langsung menuju rumah minimalis tersebut.
"Kalian ikut ke dalam!" Titah Candra pada dua pria tersebut. Ia dan Satya pun menyusul di belakang Gunadh.
^_________^^_________^^_________^
Haaaiii ada lagi nih novel yang bisa kalian intip selagi nunggu kisah GunTha aku up lagi.
**
SEKUEL DARI : Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil.
Zahira dan Shaka berteman sejak kecil bahkan orang tua mereka berencana menjodohkan keduanya. Namun, ternyata Shaka telah melabuhkan hatinya kepada wanita lain. Melihat kenyataan itu, hati Zahira hancur berkeping-keping karena tanpa diketahui oleh siapa pun rupanya dia mencintai Shaka sejak masih duduk di bangku SMP.
Lantas, apa yang membuat Zahira bersedia menjadi pengantin pengganti untuk Shaka? Lalu, bagaimana lika liku kehidupan rumah tangga mereka? Akankah berakhir bahagia?
__ADS_1