Nanditha

Nanditha
LUPA OLEH-OLEH


__ADS_3

Hingga pagi, Nandita belum juga mendapat kabar dari Gunadh. Membuat gadis itu semakin kesal. Namun untuk kembali menghubungi sang kekasih, rasanya sulit. Gengsinya terlalu tinggi.


Jadilah ia resah sedari berangkat ke sekolah, hingga mengajar pun ia tidak fokus.


Baru saat jam pelajaran ke dua, Gunadh menghubunginya. Antara kesal dan senang, Nandita tidak bisa mengekspresikannya.


N : "Aku lagi di kelas mas. Jangan telepon."


Hanya itu yang ia kirim.


Gunadh tahu, Nandita pasti sedang merajuk.


G : "Nanti jadi kan yank? Aku jemput di sekolah apa di kost? Maaf kemarin aku ketiduran, terus tadi pagi pas cek ponsel baterainya habis."


N : "Nanti aja kita bahas."


Percakapan mereka berakhir. Nandita melanjutkan pekerjaannya hingga bel istirahat berbunyi.


Ia bergegas menuju ruang kerjanya. Perutnya terasa lapar, sebab tadi pagi ia tidak sempat sarapan. Gadis itu membuka bekal makan siang yang dibawanya dari Kostan.


Memang selalu begitu. Saat tidak ada janji dengan Gunadh atau Candra untuk makan di luar, gadis itu akan membawa bekal.


Tok


Tok


Tok


Bunyi pintu diketuk dari luar, saat Nandita baru saja akan menyuap makanan pertama ke dalam mulutnya. Terpaksa ia meletakkan kembali sendok tersebut.


"Masuk." Ucapnya sambil menutup kembali kotak makan di depannya.


Tidak mungkin kan dia makan, sementara ada tamu yang datang ke ruangannya.


"Sayang ..." Senyum manis tersungging dari bibir laki-laki tampan, yang baru saja membuka pintu.


Nandita tersenyum tipis. Meski tidak menutupi raut kesal di wajahnya.


"Kirain siapa, aku baru mau suap nasi." Ucapnya sambil membuka kembali tutup bekalnya.


"Kamu bawa bekal yank? Aku udah beliin ini lho ..." Gunadh mengangkat kantung yang di bawanya.


"Mas makan aja, aku udah kadung bawa ini." Ia menunjukkan kekesalannya pada Gunadh.


"Tukar yank, masa aku makan makanan yang aku bawa buat kamu." Gunadh merengek.


Nandita mengalah. Mendorong makanannya, kemudian mengambil tas yang dibawa Gunadh lalu mengeluarkan isinya. Namun masih dengan wajah datar.


"Itu makanan kesukaan kamu kan yank?"


"Ya"


Alis Gunadh mengkerut, kenapa dari tadi Nandita hanya menjawab sekenanya setiap pertanyaan.


"Kamu masih marah yank?"


Kali ini wajah Gunadh berubah serius. Tidak ada lagi suara manja yang terdengar.


Nandita menghentikan gerakan tangannya yang sedang memisahkan tulang gurami bakar yang Gunadh bawakan untuknya.


"Kalau lagi makan dilarang bicara mas, makan aja dulu. Nanti ngomongnya."


Ucapnya, kembali ke aktifitas sebelumnya.

__ADS_1


Gunadh pasrah, tidak bisa mendebat lagi. Susah memang kalau menghadapi orang yang jarang marah. Sekalinya marah, dia akan sangat betah dengan diamnya.


Hingga semua makanan tandas, tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir keduanya.


Namun begitu, Nandita tetap melayani Gunadh. Mengambilkan air, merapikan bekas makanan mereka, lalu mengambilkan buah yang selalu dibawa di kotak yang berbeda.


"Makan mas." Tawarnya sambil mengarahkan jeruk Mandarin ke arah Gunadh.


Gunadh mengambil bukan hanya jeruk, tapi tangan Nandita sekaligus.


Cup


Kecupan singkat ia berikan setelah sebelumnya ia mengambil jeruk tersebut terlebih dahulu.


"Jangan lama-lama marahnya yank ... Aku gak bisa. Maaf soal kemarin. Aku benar-benar gak kepikiran soal ponsel." Wajahnya sendu, mengingat kejadian yang kemarin ia lalui.


"Tumben mas gak pegang ponsel semalaman. Emang habis ngapain?" Tatapan curiga Nandita berikan.


"Ada sedikit masalah sayang. Tapi kamu gak usah pikirkan itu. Biar itu jadi urusanku."


"Masalah apa?"


"Gak penting kok."


Gunadh berusaha menutupi.


"Oya jadi nanti kita pulang ke rumah kamu?" Gunadh mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya jadi lah ... Mas harus tanggung jawab sama semuanya. Heboh semua orang tau, gara-gara mas itu. Semua pada ledekin aku." Nandita cemberut. Namun terlihat lucu di mata Gunadh.


Laki-laki itu tersenyum gemas, meski dalam hatinya meringis membayangkan penyebab ia tidak memegang ponsel semalaman.


"Kita nginap ya mas. Mas bisa?"


"Bisa ..."


"Dia lagi sama mommynya. Belum mau pulang, mungkin masih kangen." Ucapnya dengan menunduk


"Mas ... Mira tahu soal video kita itu?"


Gunadh hanya menganggukkan kepalanya.


"Lalu gimana respon dia?"


Gunadh menggedikkan bahunya.


"Gak usah mikirin yang lain, sekarang kita fokus sama diri kita dulu aja."


Alis Nandita mengkerut. Dengan mata yang memicing curiga.


"Gak usah mikir kejauhan. Semua baik-baik aja." Gunadh menarik rambut Nandita, seperti dulu saat mereka baru dekat.


"Mas ..."


Cup


Gunadh malah mengecup bibir Nandita singkat. Membuat gadis itu melongo.


"Aku balik dulu, nanti ketemu di kost ya. Berapa hari kita di sana?"


Gunadh mengalihkan pikiran Nandita, agar tidak lagi membahas soal Namira.


"Niatnya dua malam mas, tapi kalau kamu sibuk, semalam aja gak apa kok."

__ADS_1


"Ok. Kita liburan dua hari berdua." Putusnya.


Kemudian beranjak dari sofa yang didudukinya.


Nandita mengantar kekasihnya hingga pintu.


"Hati-hati mas." Ucapnya pelan sambil mengelus lengan Gunadh, sebelum laki-laki itu melangkah keluar.


🌟🌟🌟


"Kita rencananya mau kemana aja yank?"


Tanya Gunadh saat mereka dalam perjalanan.


"Kita pulang dulu. Besok, ke rumah kakek Cakra. Kalau masih ada waktu kita lanjut ke rumah saudaranya bunda. Tapi kalau keburu sore, besoknya kita ke sana."


Gunadh manggut-manggut.


"Bunda dari mana sih asalnya?"


"Beda kecamatan tapi gak terlalu jauh kok. Adik-adiknya bunda pada kerja, jarang kumpul di rumah peninggalan kakek. Nah, kemarin mereka suruh kita ke rumah kakek, katanya besok sore mereka udah di sana semua."


"Ooh." Hanya itu reaksi Gunadh.


"Terus yang selama ini urus rumah kakek siapa?"


"Adiknya bunda yang paling kecil kan jadi guru, kebetulan tugas di sekolah dekat rumah. Jadi dia sama istrinya yang tempati rumah itu.


"Yang lain?" Gunadh kembali bertanya. Selama ini, jarang sekali mereka membahas tentang silsilah keluarga nandita.


"Yang punya agen travel udah punya rumah di kota. Tapi masih sering pulang. Yang jadi polisi kebetulan istrinya kan bidan di RSUD, Dianya juga tugasnya di polres jadi memilih tinggal di daerah sana juga. Adiknya bunda yang perempuan, ikut suaminya tinggal di luar kota. Mereka punya toko sembako gitu, jarang pulang juga."


Gunadh tersenyum. Melirik Nandita dengan senyum tipis.


Gadis itu merasa aneh dengan senyuman Gunadh.


"Kenapa senyum-senyum? Ada yang lucu?"


"Hiyaa ... Udah lebih setahun kita dekat, baru kali ini aku tahu detail keluarga kamu. Kenapa sih, kayanya kamu enggan sekali bercerita tentang mereka?"


Nandita mengangkat bahunya. Menatap pemandangan luar jendela.


"Aku terbiasa hidup hanya dengan ayah bunda dan saudaraku saja mas." Tatapan mata Nandita menerawang jauh.


Gunadh tidak lagi bertanya. Cukup paham dengan raut wajah Nandita, seperti memendam luka yang berusaha ia tutupi dengan senyum dan tawa.


Hening sejenak, mereka berdua asyik dengan pikiran masing-masing.


Masih satu jam lagi, untuk mereka tiba di kediaman Nandita.


"Kalau ngantuk, tidur aja yank. Kamu pasti capek gak dapat istirahat sedari tadi."


"Gak capek kok mas, udah biasa kan kalau hari kerja aku jarang istirahat."


"Gadis tangguhnya Gunadh." Puji laki-laki itu, sambil membelai rambut Nandita.


"Eh itu toko kue yang biasa kita beli kan. Mampir yuk." Gunadh memelankan laju kendaraannya, saat toko yang dimaksud sudah lewat beberapa meter.


"Udah lewat mas, masa harus muter."


Protes Nandita.


"Gak apa, kata kamu ayah sama bunda paling suka bolu gulung yang di sana. Kita beliin untuk mereka." Ucapnya sambil sibuk memutar stir, dan memaju mundurkan mobilnya untuk berbalik arah.

__ADS_1


"Sekalian kita istirahat dulu. Panas pa ntat rasanya." Ucap Gunadh setengah bercanda.


Setelah cukup beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Oleh-oleh yang hampir dilupakan pun sudah mereka dapatkan. Bukan hanya untuk orang tua Nandita, Gunadh juga membeli untuk keluarga lain yang akan mereka kunjungi besok.


__ADS_2