
Pagi hari setelah sarapan. Nandita, Gunadh, dan Malikha bersiap menuju rumah sang kakek.
"Pokoknya adek ikut!" Malikha kekeh saat sang bunda merayu agar tetap tinggal di rumah.
"Biarin aja Bun, siapa tahu nanti Dita membutuhkan tenaga buat bantu-bantu " Kata Nandita memutus perdebatan antara bunda dan adiknya.
Kini, mereka bertiga duduk nyaman di dalam mobil milik Gunadh.
"Gimana sekolah kamu Kha?" Gunadh yang sedang menyetir, menoleh ke belakang. Memastikan yang diajak bicara mendengar ucapannya.
"Baik kak, sebentar lagi kan udah mau UAS. Jadi sekarang lagi sibuk belajar."
"Belajar apa belajar?" Celetuk Nandita.
"Ya belajar lah kak ... Emang kakak pikir, aku bisa dapat kelas unggulan dari mana kalau gak belajar? Dapat wangsit gitu?" Kesal Malikha
"Ya kali aja faktor keberuntungan. Mata gurunya kelilipan mungkin pas periksa nilai kamu."
"Gak ya kak ... Kakak jangan suka meremehkan kemampuan aku ya."
"Siapa yang meremehkan?"
"Ituuu tadi ... Pake bilang guru kelilipan. Bilang aja kakak sirik sama aku." Malikha sewot sendiri.
"Yank ... " Gunadh menegur Nandita.
"Heee ya deh yang paling pintar. Tapi jangan sombong. Ingat, kemampuan itu harus selalu diasah. Meskipun kamu pintar, kalau kamu malas belajar, bakal dikalahkan sama orang yang rajin." Kali ini Nandita serius menasihati sang adik.
Ya, diantara kedua kakaknya, Malikha anak yang paling pintar di sekolah. Selalu mendapat juara umum. Meskipun di rumah dia anak yang paling manja dan malas. Mungkin karena dia anak bungsu, sehingga segala sesuatu sudah disiapkan oleh orang tua dan kakak-kakaknya.
"Ya itu makanya aku minta kak Dita cariin orang waktu ini untuk bantu kerjaan di Dapur Kita. Biar gak ganggu belajar aku sama Dimas." Terang Malikha yang di angguki Gunadh dan Nandita.
Hening sejenak.
Rumah sang kakek sudah terlihat.
"Kak, nanti kalau Tante Dewi sama Tante Sari ngomong gak ngenakin, kakak lawan ya. Aku gak bisa soalnya."
"Jangan berprasangka buruk kamu dek, siapa tahu mereka udah berubah."
"Berubah apa? Jadi Kunti, apa suster ngesot?"
"Hush, jadi duo serigala."
Keduanya tertawa, menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menyusup ke dalam hati.
Bagaimanapun, mereka akan berkunjung ke rumah, dimana orang yang tidak menyukai mereka juga ada di sana. Meskipun mencoba acuh, namun tetap ada rasa tidak nyaman di dalam hati baik Nandita maupun Malikha.
Sementara Gunadh, hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dua gadis yang kini duduk di sebelah kiri dan di belakangnya itu.
Ia melihat sisi lain yang tidak pernah Nandita perlihatkan pada orang lain di luar sana.
Rupanya, gadisnya itu termasuk orang yang jahil. Namun itu hanya saat bersama keluarganya saja.
Mobil Gunadh tiba di halaman luas, rumah kakek Cakra.
Dari dalam mobil, mereka sudah melihat orang tua itu tengah duduk di kursi depan rumah, sambil melihat tukang kebun merawat taman.
"Kakek ..." Suara Malikha saat kakinya baru saja menjejak tanah.
Sang kakek bangkit dengan perlahan. Usia membuat kakek Cakra tidak lagi bisa gesit bergerak.
"Eeh cucu kakek," Ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk dicium oleh Malikha, juga Nandita yang menyusul di belakang.
__ADS_1
"Kakek sehat?" Tanya Nandita yang berdiri di samping sang kakek.
"Kakek sehat nak ... Seperti yang kamu lihat." Senyum bahagia tergambar di wajah penuh keriput itu.
Kakek Cakra bersyukur, di hari tuanya masih diberi kesempatan melihat cucu-cucunya.
"Kek ..." Gunadh mendekat. Laki-laki itu muncul paling terakhir sebab harus memarkirkan mobil di tempat yang tepat terlebih dahulu. Agar tidak mengganggu yang lain beraktifitas.
"Eeh nak Gunadh." Kakek menghampiri Gunadh, mengelus pelan bahu calon cucu menantunya itu.
"Ayuk ... Masuk-masuk di luar sudah mulai panas." Ajak sang kakek.
Mereka memasuki rumah yang tampak sepi itu.
"Yang lain ke mana kek?" Tanya Nandita, setelah mendaratkan pantatnya di sofa ruang keluarga. Ia melihat sekeliling, hanya terdengar suara art di dapur. Sementara para Tante dan sepupunya tidak tampak.
"Mereka liburan dari kemarin. Kan ulang tahunnya Tasya kemarin." Ucap sang kakek.
Nandita tak menjawab, hanya mulutnya membentuk huruf o tanpa mengeluarkan suara.
"Oya kek, ini kemarin Dita beli cake pas jalan mau pulang. Dita juga pesankan untuk kakek yang rendah gula. Rasanya sih gak seenak yang pake gula biasa, tapi ini aman untuk kakek makan." Nandita membuka box kue tersebut.
"Pake piring aja, biar sisanya gak rusak. Sekalian minta bibi buatkan kalian minum" Perintah kakek.
Nandita mengangguk, lalu beranjak menuju dapur.
Setelahnya, ia membawa beberapa piring kecil, juga garpu menuju ruang keluarga.
Tak menunggu lama, seorang bibi membawakan minuman untuk mereka.
"Makasih bik, ini bibik bagi sama mamang dan yang lain ya." Nandita menyerahkan satu box untuk dibagikan kepada art dan juga tukang kebun di rumah tersebut.
"Makasih non Dita." Ucap art tersebut, kemudian berlalu dari hadapan majikan dan para tamunya.
"Waah ada tamu rupanya." Suara Tante Dewi menghentikan obrolan mereka.
Nandita dan Malikha berdiri, hendak mencium tangan tantenya.
"Lanjutkan aja, Tante ke kamar dulu." Ucap wanita itu, sambil mengibaskan tangannya. Membuat dua kakak beradik itu kembali duduk, tanpa melanjutkan niatnya tadi.
Ada suasana canggung yang tercipta, setelah kepergian Tante Dewi.
"Udah, gak usah dipikirkan. Tantemu kan memang begitu." Kakek Cakra berkata.
"Kek, mau dibuatkan apa hari ini?" Art yang tadi membawa minuman, kembali datang menghampiri mereka.
Kakek menatap cucu-cucunya. Kemudian berkata
"Ta, kakek ingin masakan kamu. Kamu mau kan masak untuk kakek?" Wajah laki-laki renta itu terlihat penuh harapan.
Nandita sebenarnya merasa terkejut. Namun ia tetap menyanggupinya. Meski dalam hatinya ia merasa tidak enak karena ini bukan rumahnya.
"Kakek mau makan apa?"
"Apa aja, asal kamu yang masak. Kakek pasti makan." Dengan tersenyum kakek Cakra menjawab.
"Malikha, kamu bantu kakakmu ya ... Gunadh biar temani kakek di taman belakang. Nanti kalau sudah siap, panggil kami ya. Kita makan bersama."
Titahnya.
Nandita dan Malikha, membawa serta gelas kosong serta sisa kue yang tadi mereka nikmati menuju dapur.
"Bi ... Kakek minta aku untuk masak untuknya. Biasanya kakek makannya apa aja?"
__ADS_1
"Biasanya makan yang sama kaya yang lain non."
"Kakek makan nasi putih biasa?" Nandita sedikit terkejut. Pasalnya sang kakek kan memiliki penyakit diabetes.
"Ya non. Kalau pas bapak sama ibu non ke sini, biasanya mereka bawain kakek beras merah, jagung atau apa itu yang kecil-kecil mirip jagung itu?" Art itu dengan polos bercerita.
"Sorgum?" Tanya gadis itu.
"Ya benar non. Tapi semua sudah habis tiga atau empat hari yang lalu."
"Kentang ada gak bi?"
"Ada non, sebentar ya saya siapkan."
Mereka memasak bersama. Nandita masak khusus untuk sang kakek, sementara bibi dan Malikha memasak untuk keluarga yang lain.
"Dek panggil kakek sama mas Gunadh, kakak pindahkan ini ke meja makan dulu." Perintah Nandita, dengan tangan yang sibuk memindahkan makanan dari wajan ke tempat yang lebih kecil. Begitu juga makanan untuk sang kakek, sudah tertata dengan rapi.
"Ya kak." Malikha keluar area dapur menuju taman belakang, seperti yang dikatakan sang kakek tadi.
Makanan sudah tersaji di atas meja makan. Kakek dengan wajah bahagia duduk di kursi yang biasa ia tempati.
"Bi, tolong panggil yang lain ya. Habis itu, bibi sekalian makan." Pinta Nandita.
Tante Sari dan yang lain sudah datang sejak tadi. Saat Nandita dan art masih berkutat di dapur.
"Baik non." Lalu art itu berlalu.
Kini, mereka sudah siap menyantap makan siang bersama. Meskipun wajah para Tante dan sepupunya tidak enak dipandang mata, Nandita dan Malikha tetap cuek, bahkan Gunadh pun tidak ambil pusing dengan wajah tak bersahabat penghuni rumah yang lain.
"Tumben kamu ke sini, ada perlu apa?"
Tante dewi menatap Nandita yang asyik menikmati makanan di depannya.
"Emang harus ada perlu dulu ya Tan kalau mau ke sini? Ini kan rumah kakek, siapapun cucunya boleh donk main ke sini." Malikha menjawab dengan wajah sok polos.
"Gak sopan kamu, Tante kamu nanya siapa yang jawab siapa." Kini Tante Sari menimpali.
"Aku ke sini, mau nengok kakek. Sekalian mas Gunadh mau ngomong penting katanya sama kakek."
"Pasti mau minta restu soal lamaran itu ya?"
Kini Tasya ikut menimpali.
"Kamu mau nikah? Kan Bianca belum nikah. Udah ngebet banget kamu ya?" Senyum mengejek diberikan untuk Nandita.
Bukan Dewi namanya kalau ucapan yang keluar dari mulutnya, tidak menyakiti perasaan.
Gunadh memperhatikan interaksi orang di sekitarnya. Mencoba membaca masing-masing karakter mereka.
Bersyukur acara makan siang sudah usai. Hingga obrolan itu tidak mempengaruhi selera makannya.
"Masakan kamu enak Ta, kakek suka. Kapan-kapan buatin lagi yang begini ya." Puji kakek pada Nandita. Laki-laki itu sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar tidak semakin memanas.
"Jangan banyak berharap Pak, anak jaman sekarang. Kalau gak berkepentingan mana mau mendekat pada keluarga." Kembali Dewi memperkeruh suasana. Entah apa yang wanita paruh baya itu inginkan. Selalu saja omongannya menyudutkan orang lain.
"Ya Pak, di sini kalau bukan aku sama mba Dewi yang urus bapak, siapa yang mau perduli?" Kini Tante Sari menimpali.
Sementara para suami dan anak-anak mereka diam saja. Seolah tidak perduli dengan apa yang diucapkan dua wanita tersebut.
"Tante, aku lupa kasih tau. Tante Dewi sama Tante Sari dapat salam dari bunda." Ucap Malikha, sambil tangannya sibuk mengupas jeruk Mandarin yang ia ambil barusan.
Ucapannya, otomatis membuat dua tantenya diam. Sementara Nandita dan Gunadh kompak menoleh ke arah Malikha. Merasa aneh, kenapa tiba-tiba ucapan gadis SMA itu mampu membungkam mulut duo serigala.
__ADS_1