
Namira sudah rapi dengan pakaian dan koper yang teronggok di sudut kamarnya. Ia siap pergi berlibur dengan para sahabatnya.
Susana hatinya pun jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Meski kecewa tidak dapat melakukan we time dengan sang mommy, namun kehadiran Gunadh yang meluangkan waktu menemaninya dari kemarin hingga sore ini membuat aura bahagia di wajah gadis itu tidak surut sedikit pun.
Bukan hanya kemarin Gunadh mengajak sang putri ke mall membeli perlengkapan liburan. Namun laki-laki yang sudah berkepala tiga itu juga mengajak sang putri jalan-jalan hari ini.
Mengajak Namira makan di luar, membelikan ponsel baru juga kamera yang di minta gadis kelas 6 SD tersebut.
"Ingat sayang, jangan nakal dan jangan merepotkan om dan Tante di sana." Nasihat Gunadh.
"Iya Dad, jangan khawatir. Mira kan udah biasa pergi sama mereka ..."
"Mangkanya itu, kamu udah disayang sama mereka, jadi jangan buat mereka kesal atau pun marah. Maaf ya Daddy gak bisa temani kamu, masih ada urusan yang harus Daddy selesaikan." Ucap Gunadh tulus dari hatinya.
Ia benar-benar merasa bersalah karena membiarkan sang putri pergi bersama orang lain.
Namun bagaimana lagi? Jadwalnya sudah dibuat, tidak mungkin Gunadh merubahnya lagi.
Lagipula, orang yang mengajak Mira sudah cukup Gunadh tahu seperti apa.
"Oh ya, Minggu ini Daddy mau ada kerjaan ke Eropa, kamu mau oleh-oleh apa?" Sengaja Gunadh membahas hal itu pada Mira saat itu juga, mumpung suasana hati sang putri sedang baik.
"Daddy mau kemana?"
"Rencananya ke Paris, tapi itu Minggu depan. Semoga pas Daddy berangkat, kamu udah pulang ke rumah." Ucap Gunadh menepuk pelan pucuk kepala sang putri.
"Yaaah Dad ... Pengen ikut ..." Namira justru merengek ingin ikut.
"Kan Mira belum pernah ke Paris Dad ..." Lanjut anak itu lagi.
"Ga bisa sayang ... Daddy kesana ada urusan kerjaan dan mau ketemu sama teman Daddy. Lagian juga sekarang kamu udah liburan, masa ikut lagi?"
Namira memanyunkan bibirnya tanpa membalas ucapan sang Daddy.
"Tau gitu Mira gak usah aja ikut liburan kali ini, biar diajak ke Paris sama Daddy." Gerutunya seolah bicara pada diri sendiri.
"Gak boleh gitu sayang ... Lagian udah Daddy bilang, Daddy ke sana ada urusan kerjaan, bukan untuk liburan." Gunadh menatap sang putri dengan lembut.
"Nanti deh Daddy janji akan ajak kamu ke sana kalau nilai kamu bagus, dan kamu berhasil mendapat sekolah unggulan nanti pas SMP."
__ADS_1
"Beneran Dad?" Tanya Mira. Binar mata gadis itu muncul lagi.
Gunadh mengangguk. Ada rasa sedih juga dalam hati Gunadh melihat reaksi anaknya.
Gadis itu akan sangat antusias bila membahas soal liburan. Maklum saja, selama ini Gunadh ataupun Safira sangat jarang mengajaknya untuk pergi melakukan hal-hal itu.
"Makasih Dad ... Mira akan belajar lebih giat lagi, biar bisa dapet sekolah yang di mau."
"Ok. Buktikan sama Daddy dengan hasilnya nanti. Sekarang ayo kita berangkat. Kumpul di mana nanti ini?"
"Di rumah Aya Dad."
"Ok. Kita ke sana sekarang."
Gunadh menarik koper sang putri. Membawanya keluar menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah besar itu.
Sementara Namira membawa tas punggung kecil yang berisi dompet serta ponsel dan kerabatnya. Serta pepper bag yang ditenteng berisi beraneka makanan dan minuman yang ia beli kemarin.
🌟🌟🌟
Jam 10 pagi waktu Paris.
Nandita dan Candra tengah mengelilingi kios dan toko di dekat menara Paris. Membeli beberapa oleh-oleh yang mewakili kota tersebut.
Meski harga souvenir tersebut lebih mahal dari yang di jual di kaki lima, namun tentu perasaan aman dan nyaman menjadi pertimbangan bagi dua gadis itu memilih berbelanja di toko.
"Nona biar saya bawakan barang-barangnya." Tawar Ahmed ketika melihat dua gadis itu begitu kerepotan dengan belanjaan yang mereka bawa.
"Terimakasih Ahmed, tidak apa-apa kami bawa sendiri." Ucap Nandita dengan senyum manisnya.
Meski Louis memerintahkan seorang yang begitu baik dan melayani untuk mereka, namun Nandita bukanlah orang yang akan dengan mudah memerintah sesuka hati.
Bila tidak mendesak, ia tidak akan merepotkan orang lain.
"Ndra, apa kita balik ke hotel dulu kali ya taroh ini. Baru habis itu kita keluar lagi. Biar gak ribet."
"Boleh juga. Sekalian kita tukar uang." Usul Candra.
Memang di hotel tempat mereka menginap tersedia layanan money change yang sangat membantu para pengunjung.
Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke hotel terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perjalanan yang lain.
__ADS_1
Kali ini, selain belanja oleh-oleh di sekitar menara Eiffel, mereka juga berencana berkeliling ke tempat wisata yang tidak kalah menarik dengan menara yang menjadi ikon negara Prancis tersebut.
Louvre Museum, menjadi destinasi mereka selanjutnya.
"Selain ke sungai Seine, kita juga bisa berkunjung ke Museum Louvre terlebih dahulu. Apa kalian berminat?" Tanya Ahmed ketika mereka sudah bertemu kembali di loby hotel setelah Nandita kembali dari kamarnya.
Memang rencana awalnya, Nandita dan Candra berminat melewati jembatan yang ada di atas sungai tersebut. Namun mendengar destinasi wisata lain, mereka pun jadi tertarik untuk mengunjunginya.
Nandita dan Candra saling melirik.
"Perjalanan dari sini sekitar 50 menit dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan banyak toko-toko yang bisa kalian kunjungi kalau berminat. Siapa tahu ada yang kalian ingin jadikan oleh-oleh?" Ahmed kembali melakukan promosi.
"Gimana Ta?" Candra meminta pendapat Nandita.
"Boleh juga. Kita kan udah percayakan sama dia, wisata mana yang akan kita kunjungi."
"Ok. Kami percaya, kamu pasti akan mengajak kami ke tempat-tempat yang memang layak kami kunjungi." Ucap Candra
"Terimakasih atas kepercayaan kalian." Sahut Ahmed ramah.
Jarak dari Menara Eiffel menuju Louvre Museum lebih kurang 40 menit dengan berjalan kaki.
Kendati terkesan cukup jauh, sepanjang perjalanan pemandangan pertokoan sangat menarik dan dapat membuat takjub.
Museum Louvre (bahasa Prancis:Musée du Louvre; bahasa Inggris: the Louvre Museum) adalah salah satu museum seni terbesar yang paling banyak dikunjungi dan sebuah monumen bersejarah di dunia. Museum Louvre terletak di Rive Droite Seine, Arondisemen pertama di Paris, Prancis. Hampir 35.000 benda dari zaman prasejarah hingga abad ke-19 dipamerkan di area seluas 60.600 meter persegi.
Museum ini bertempat di Istana Louvre (Palais du Louvre) yang awalnya merupakan benteng yang dibangun pada abad ke-12 di bawah pemerintahan Philip II. Sisa-sisa benteng dapat dilihat di ruang bawah tanah museum. Bangunan ini diperluas beberapa kali hingga membentuk Istana Louvre seperti sekarang. Pada tahun 1682, Louis XIV memilih Istana Versailles sebagai kediaman pribadi, meninggalkan Louvre untuk selanjutnya dijadikan sebagai tempat untuk menampilkan koleksi-koleksi kerajaan
Puas berkeliling, mereka memutuskan untuk keluar mencari tempat untuk bersantai.
Bersyukur di sekitar museum banyak terdapat restaurant-restaurant yang nyaman dengan berbagai fasilitasnya.
"Ta, habis ini kita balik ke hotel dulu ya. Aku gak mau kamu malah sakit lagi karena kelelahan." Ucap Candra sambil menikmati minuman yang dipesannya.
Nandita merasa tidak enak hati.
"Sorry ya Ndra, liburan kita jadi keganggu ..."
"Eeh bukan gitu maksud aku ..."
"Ya aku tahu kok, hanya saja aku selalu ngerasa gak enak sama kamu."
__ADS_1
"Udaah gak usah bahas itu lagi. Yang jelas, kita kesini untuk senang-senang jadi jangan bahas hal sedih. Ok." Pinta Candra yang diangguki oleh Nandita.
Sementara Ahmed yang melihat dua tamu tuannya itu dari jauh, ikut tersenyum. Meski ia tidak mendengar obrolan mereka berdua, namun dari ekspresi keduanya terlihat ketulusan Candra dan rasa bersalah Nandita.