Nanditha

Nanditha
KEDATANGAN OMA


__ADS_3

Suasana tegang sangat terasa, begitu Nandita memasuki rumah milik onty Eby.


Tidak biasanya wanita yang telah puluhan tahun tinggal di Turki itu tidak menjawab salam darinya.


Gadis itu menatap Aslan, bermaksud mencari tahu apa yang terjadi. Namun, rupanya pria itu pun tidak tahu.


Aslan hanya mengangkat bahunya sebagai reaksi atas tanya tanpa suara gadis itu.


Tiba di ruang tengah, terlihat onty Eby dengan raut datar duduk di samping suaminya.


"Onty, uncle," Nandita menyapa mereka untuk kedua kali.


Onty Eby menoleh, tersenyum tipis ke arah gadis itu.


"Dita ...." Belum selesai wanita itu bicara, suara dari seseorang memotong ucapannya.


"Nandita cucu Oma," seorang wanita dengan keriput di wajahnya bangkit perlahan dari sofa.


"Oma," Nandita yang mendengar suara tidak asing memanggil namanya, mendekat dengan terburu, kemudian mencium tangan wanita itu dengan penuh hormat. Begitu juga ia lakukan pada Opa yang ada di samping istrinya.


"Tumben Oma kemari?" Ucap gadis itu dengan senyum tulus menghiasi wajahnya.


Nandita hendak ikut bergabung, setelah sebelumnya ia juga mencium tangan kedua orang tua asuhnya, yakni onty Eby dan uncle Murat. Namun ucapan onty Eby mengurungkan niat gadis itu.


"Dita, sebaiknya bersihkan diri dulu, setelah itu baru kamu temui Oma dan opa." Titahnya, dan mendapat anggukan dari gadis itu.

__ADS_1


"Maaf Oma, opa, aku ke kamar dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi."ucap Nandita, lalu melangkah menuju kamarnya.


Melihat ketegangan di wajah onty Eby, Nandita merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun ia mencoba untuk berpikir positif. Mungkin hanya perasaannya saja.


Setelah selesai membersihkan diri, Nandita segera turun menemui yang lain. Namun langkahnya terhenti di ujung tangga, ketika ia mendengar Aslan tengah mendebat oma, dan menyeret namanya.


"Oma, nggak bisa gitu. Aku sama Nandita nggak ada hubungan apa-apa. Jangan membuat keputusan sendiri." Aslan tampak emosi, saat bicara dengan neneknya.


"Jangan ikut campur Aslan, ini urusan orang tua. Kalau menunggu kamu, Oma yakin, sebanyak apapun waktu yang Oma beri tidak akan membuat kamu bergerak. Wanita butuh kepastian, dan umur Nandita juga sudah matang." Bukannya mendengar, Oma justru memarahi cucunya.


"Mama nggak mau tau. Bagaimana pun caranya, kamu harus bisa membujuk Nandita agar mau bertunangan dan menikah dengan Aslan secepatnya. Mereka sudah sama-sama dewasa, tidak baik sering berdua tanpa ikatan." Lanjut wanita berusia senja itu, menatap sang menantu.


"Ma, aku nggak berani memaksa Nandita. Dia punya pemikiran sendiri. Belum tentu juga dia mau menikah untuk saat ini. Dan lagi, kita tidak tahu seperti apa hubungannya dengan Aslan ...."


"Oma ...."


"Diam! Oma tidak mau lagi mendengar alasan kamu." Menatap tajam pada cucunya, Oma memberi peringatan.


"Ma, mama salah paham. Aslan dan Nandita hanya berteman biasa." Kini uncle Murat ikut menengahi.


"Berteman? Tapi sering pergi berdua, mau diantar jemput setiap hari, apa itu namanya berteman? Dia bukan gadis murahan yang mau diajak pergi oleh siapapun bukan?"


Tubuh Nandita menegang mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Oma, wanita yang selama ini begitu ia hormati itu.


"Ma!"

__ADS_1


"Mama!"


"Oma!"


Onty Eby, uncle Murat, juga Aslan kompak menyerukan panggilan untuk wanita itu.


"Jangan bicara sembarangan ma, Nandita gadis baik-baik yang dididik dengan baik oleh kelurganya." Onty Eby tampak terpancing oleh ucapan mertuanya.


"Kalau begitu segera turuti mau mama. Kalau dia perempuan baik-baik, tidak hanya memanfaatkan Aslan selama ini, harusnya di mau donk ke jenjang lebih serius dengan anak ini?" Melirik sekilas wajah cucunya, yang tengah tertunduk.


"Oma salah paham, aku ...."


"Cukup. Oma tidak mau mendengar apapun lagi. Keputusan sudah bulat. Segera urus pertunangan mereka Murat, kalau istrimu tidak mau melakukannya." Oma kemudian bangkit dari tempat duduknya. Sementara opa hanya bisa menepuk bahu cucunya pelan. Pria yang hampir seluruh rambutnya berwarna putih itu, tidak bisa menghentikan keinginan istrinya. Wanita yang menemaninya hampir setengah abad itu, memang sangat keras kepala.


Nandita mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Terkejut dengan obrolan panas di rumah itu, ia merasa belum sanggup menemui siapapun di sana.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


waduuuh, Nandita bakal di nikah paksa sama Aslan nih ....


gimana sama Gunadh?


sembari nunggu kelanjutannya, intip karya lainnya yuk.


__ADS_1


__ADS_2