
Terkadang menjadi munafik adalah pilihan.
Menutupi luka dengan senyum jumawa.
Sesungguhnya bila air mata telah terhenti
Bukan berarti hatimu telah mati
Hanya saja mungkin kau harus bersuara
Agar mereka menganggap mu ada.
Baru saja Nandita memasuki lorong tempat sang kakek dirawat, sudah terlihat beberapa orang yang duduk di sofa depan kamar perawatan.
"Siang Tante, siang oom" Ia menyapa para Tante dan suami mereka
"Siang,,,." Tante Dewi menyahut singkat.
"Misi Tante aku mau liat kakek dulu" Ia berlalu dari hadapan tantenya
"Anak jaman sekarang,, kakeknya udah dilarikan ke rumah sakit kemarin dianya baru nongol sekarang" Tante Dewi bergumam namun masih bisa di dengar oleh yang lain termasuk Nandita. Namun gadis itu tidak perduli. Ia melanjutkan langkahnya menemui sang kakek
"Siang kek....maaf Dita baru bisa kesini"
Di ciumnya pipi keriput sang kakek. Orang tua itu membuka matanya, dan tersenyum kecil.
"Gimana keadaan kakek?? Apanya yang sakit??"
"Kakek udah ga apa kok, cuman masih lemas saja, mungkin sebentar lagi udah di kasi pulang sama dokter. Kalau kakek lama di sini, kasian tante-tante kamu, harus bolak balik urus kakek juga urus rumah"
Nandita hanya manggut saja mendengar penuturan sang kakek. Dia tidak tau harus bersikap bagaimana. Bila sisi hatinya merasa cemburu, salahkah dia??
Ayah bundanya juga bolak balik ke rumah sakit dan mengurus rumah, bahkan jarak rumahnya ke rumah sakit lebih jauh dibanding rumah sang kakek yang ditempati bersama tante-tantenya itu. Mengurus rumah juga sudah ada pembantu di sana.
Wajar kalau tante-tantenya itu yang mengurus sang kakek, bukankah selama ini mereka yang menikmati hasil bumi, hasil kontrakan, juga aset kakek yang lainnya. Sedangkan ayahnya harus berjuang sendiri, memulai dari nol usaha ternaknya selama ini.
Alasan kakek laki-laki harus bisa mandiri, sehingga ia melepaskan ayah begitu saja untuk berjuang sendiri.
Nandita hanya duduk diam di samping sang kakek, hingga kakek bertanya
"Kamu sudah lulus kan? Sekarang sudah kerja?"
"Sudah kek, aku kerja di sekolah swasta, masih baru juga. Baru satu setengah bulan"
Meski miris, Nandita masih tetap tersenyum. Bahkan soal kelulusannya saja sang kakek tidak tahu??
__ADS_1
Sekitar empat puluh lima menit Nandita bercengkrama dengan sang kakek. Tidak lupa kakek juga menasehatinya, agar akur dan merangkul saudara yang lain. Nandita tau yang dimaksud saudara yang lain adalah sepupu dari tante-tantenya.
Entahlah,,, ia tidak ambil pusing dengan yang lain. Yang terpenting baginya, cita-citanya tercapai dan membahagiakan orang tuanya dengan caranya sendiri. Soal sepupu, baginya semua orang punya jalan hidup sendiri. Ia tidak akan ikut campur seperti halnya selama ini hidupnya tidak pernah ada andil yang lain untuk membantunya. Hanya kak Nindya dan Tante Niar saja yang perduli.
Setelah sang kakek tidur, Nandita keluar ruangan. Ia merasa lapar, bakso atau soto menjadi pilihan makan siangnya hari ini.
"Udah nemuin kakek nya??" Tante Sari bertanya
"Udah Tante, kakek lagi istirahat"
"Duduk sini, kita ngobrol dulu. Udah lama kan kita ga ngumpul" Sambung tantenya lagi.
Nandita duduk di sofa panjang samping Tante Dewi yang sedari tadi sudah berada di sana.
"Dita,, kamu tuh udah besar, udah dewasa, kami cuman mau nasehatin kamu, belajar lah lebih perduli pada orang tua. Pada kakek kamu itu. Jangan seperti ayah sama bunda kamu itu, kesini hanya setor muka saja. Kami anak perempuannya yang sudah menikah malah yang harus nungguin di rumah sakit. Kami sih ga apa-apa, bersyukur juga suami-suami kami pengertian semua, ga ada yang mempermasalahkan kami yang mengurus orang tua." Ucap Tante Dewi panjang lebar.
Sedari tadi wajah nya memang sudah tidak ramah pada Nandita.
"Udahlah kak,, ga usah itu dipermasalahkan. Mungkin aja mas Darma sedang sibuk urus ternak-ternaknya." Tante Sari mencoba menengahi
Dalam hati, Nandita mencebikkan bibir nya. Baginya kedua tantenya sama saja, sama-sama munafik, suka cari muka, sok care padahal aslinya busuk.
"Ya ga bisa gitu dong Sari,, Nandita itu harus tau bagaimana harus bersikap. Dia ga bisa terus masa bodoh dengan kita keluarganya. Saat sulit siapa yang akan dicari kalau bukan keluarga? Jangan mentang-mentang sekarang sudah berhasil, lupa sama keluarganya" Tante Dewi semakin emosi.
Ia masih menikmati drama yang dimainkan oleh kedua tantenya ini, ia masih mencoba sabar, masih teringat pesan bundanya agar tidak terpancing. Selain itu benar juga kata tantenya, kalau ia memang jarang bertemu kakeknya.
"Oya Dita,, kamu sekarang kerja di mana?"
Setelah lama diam Tante Sari kembali berbicara.
"Di kota tempat Dita kuliah dulu Tante,, di sekolah swasta"
"Oohh lumayan dong ya gajinya kalo sekolah swasta, nanti kalo Sintya udah lulus kuliah bisalah ya kamu tolong untuk cariin dia kerja di sana"
"Ya coba aja ngelamar Tante"
Nandita hanya menjawab singkat. Pasalnya ia merasa sudah sangat lapar, namun tidak enak hati untuk pergi ke kantin.
"Ya kamu bantu lah adik kamu,, masa gitu aja ga mau bantu sih? Ga boleh sombong sama saudara, meskipun sudah jadi orang sukses sekalipun. Biar ada gitu dari anak-anaknya mas Darma yang bisa diandalkan. Bisa kami banggakan." Tante Dewi menyambar ucapan Nandita
Alis Dita berkerut, emosinya jadi terpancing dengan ucapan-ucapan pedas tantenya itu.
"Maksudnya gimana ya Tante? Sombong gimana? Kan aku udah bilang kalau mau ya coba ajukan lamaran. Lagian mau minta bantuan sama aku ya percuma juga, orang aku aja baru kerja. Udah ia Tante aku mau ke kantin cari makan." Nandita beranjak hendak pergi.
"Begini nih didikannya mba Santi yang aku ga suka. Suami disetir biar nurut maunya dia aja, anak juga kurang ajar!!" Sambar Tante Dewi
__ADS_1
Nandita yang sudah berjalan tiga langkah,akhirnya berhenti dan berbalik badan
"Waaahh Tante emang sengaja cari masalah ya sama aku. Ga apa Tante,, hina aku,, tapi jangan sekali-sekali berani hina bunda aku, kalau mulut Tante ga mau aku robek di sini! Mau bilang aku ponakan durhaka? Aku sebenernya ga pernah merasa punya keluarga kaya kalian kalo kalian mau tau. Kalo ga karena aku menghormati ayah,, ga mau aku buang waktu untuk nemuin orang-orang kaya kalian! Giliran urusan tanggung jawab, udah kaya orang paling bener aja pake ceramahin segala. Kalian mestinya ngaca, sadar diri kalau udah punya suami ikut sama suami. Ngapain masih morotin hartanya kakek? Punya malu ga saat kalian nikmatin semua aset kakek untuk diri sendiri? Inget gak,, masih punya sodara laki-laki yang bernama Darma? Pernah kalian kasi aku juga sodara-sodaraku uang saku saat kuliah?? Ga usah uang deh,,, nanya gimana kuliah aku aja kalian ga pernah. Ayah hanya sama bunda, berjuang hingga kak Biyanca bisa jadi pramugari kaya sekarang. Juga bisa kuliahin aku kaya sekarang. Aku heran kok ayah yang begitu lembut dan tulus bisa punya saudara sampah kayak kalian ya?"
Nah kan, keluar sudah bon cabe dari mulut Nandita.
Tante Dewi dan Tante Sari sangat terkejut mendengar cacian gadis itu. Jangankan menjawab, mencerna semua kalimat panjang barusan saja mereka masih perlu proses.
"Tadi pas aku masuk juga Tante Dewi bilang, kakek udah dirawat dari kemaren, aku baru muncul sekarang. Maaf Tante,, aku masih harus kerja dulu, harus ijin dulu kalau mau cuti, tau sendiri kan hidup aku kaya gimana? Aku ga bisa kaya anak kalian, uang tinggal malak sama kakek, ga usah kerja sampe tua juga hidupnya bakal ditanggung. Oya yang dapat hak istimewa dari kakek kan anak-anak kalian, mereka ada di sini ga sekarang?" Senyum mengejek Nandita semakin membuat kedua perempuan di depannya marah.
"Kamu,,,,,!!!" Dewi yang tempramen ingin menampar Nandita atas kelancangan gadis itu, namun tangan yang sudah diangkat itu, ditahan oleh Nandita. Cengkraman tangan yang kuat membuat wanita itu meringis.
"Tante lupa aku siapa?? Jangan berbuat ulah Tante, susah nanti kalau berurusan sama aku" tangan itu dihempas kasar lalu Nandita berlalu dari sana.
Hatinya bergemuruh, rasa sakit yang coba ia samarkan dengan ejekan sungguh membuat ia sulit bernafas.
Sesak,,,
Itulah yang ia rasa. Namun pantang baginya mengeluarkan air mata dihadapan manusia-manusia sampah yang sayangnya adalah keluarganya sendiri.
Hingga waktu beranjak sore ia masih betah di dalam kantin rumah sakit. Malas sekali rasanya masuk dan bertemu dengan orang-orang tadi. Namun untuk pulang, ia tidak sanggup. Pasti akan banyak pertanyaan yang muncul dari sang ayah.
Getar ponselnya menyadarkan dari lamunan, rupanya pesan dari sang bunda
"Ta,,, kamu di mana?? Bunda kok ga liat kamu dari tadi? Wajah duo srigala juga bengis banget liat bundaπ΅π΅"
Nandita sampai tersedak minuman yang akan ia telan saat membuka pesan sang bunda
"πππ Sadis bener bunda,, ipar sendiri dibilang bengis. Aku lagi di kantin Bun,, lagi isi tenaga, tadi energiku habis kesedot dua kuntilanakπππ"
"Iiisssh kamu tuh,, sama aja suka julidin orang"
"Ga apa Bun,, kita anggap aja yang bikin kita emosi itu kuntilanak ato mahluk lain, daripada kita bayangin wajah asli mereka kayanya tambah serem dehπ€ͺπ€ͺπ€ͺ"
"Astagaaaaaa,,,, bertambah dosa bunda ini πππ"
"Nanti bikin pengakuan dosa aja Bun,,"
"Udaaaah cepetan kamu ke sini,, kenyang bunda sendiri menikmati hidangan lezat di sini"
"Ya ya.... Aku kesana. Bunda mau dibawain apa??"
"Minuman dingin aja,,, udah buruan ke sini!!"
Nandita segera memesan minuman untuk ayah bundanya saja, setelah itu ia langsung menuju ruangan sang kakek.
__ADS_1