
Nandita termenung seorang diri di dalam kamarnya.
Tanpa melakukan aktifitas apapun, gadis itu hanya menatap hamparan awan yang bergerak perlahan menyelimuti langit biru di atas sana.
Apa yang harus ia lakukan kini?
Menolak?
Sudah pasti.
Tapi bagaimana caranya agar penolakannya tidak menciptakan kekecewaan bagi orang-orang yang sudah begitu perduli pada dirinya selama ini?
Gadis itu menarik nafas berat.
Kenapa hidup bisa serumit ini?
Ternyata sehati-hati apapun ia melangkah, selalu ada celah salah di mata orang lain.
"Dita ...."
Seseorang memanggil namanya dari luar. Gadis yang tengah duduk di kursi dekat jendela itu menoleh, lalu melangkah membuka pintu.
"Onty," lirihnya. Ia tersenyum canggung, ketika matanya bertemu pandang dengan onty Eby.
"Boleh onty masuk?" Wanita berhijab itu terlihat tidak baik-baik saja saat ini.
Nandita mengangguk. Menggeser sedikit tubuhnya, memberi akses pemilik rumah memasuki kamarnya.
__ADS_1
Wanita itu masuk. Mengabsen seisi kamar lewat mata indahnya, lalu duduk di atas ranjang.
Nandita mengikuti wanita itu. Duduk di sebelahnya dengan canggung.
Tidak bisa dipungkiri, apa yang di dengarnya membuat gadis itu sedikit ragu untuk bersikap.
"Ta,"
"Ya onty,"
"Kamu sudah tau kan niat Oma datang ke mari?" Onty Eby yakin, Nandita mendengar semua perdebatan yang terjadi.
Nandita mengangguk lemah.
"Maaf sudah membuat onty berada dalam posisi sulit." Nandita merasa tidak enak hati pada wanita yang sudah begitu baik padanya itu.
"Onty yang mestinya minta maaf, atas nama mertua onty. Dia nggak bermaksud merendahkan kamu dengan ucapannya."
Gadis itu kembali mengangguk tanda mengerti.
"Kamu tidak marah dengan ucapan Oma?" Onty Eby menatap anak sahabatnya itu dengan tatapan sendu.
"Nggak onty. Aku tau maksud Oma baik. Sebagai seorang wanita, kita memang harus menjaga kehormatan diri dengan baik bukan? Dengan pergi bersama laki-laki tanpa ikatan apapun, pasti akan membuat orang lain berpikir yang kurang baik tentang kita." Nandita menundukkan kepala, menyadari ucapannya menampar dirinya sendiri.
Mereka berdua masih sama-sama diam. Baik Nandita maupun onty Eby, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Nandita tahu, masing-masing keluarga memiliki aturan sendiri yang harus ditaati. Bila dalam kehidupan keluarganya, berteman dengan lawan jenis adalah hal wajar selama tidak Melawati batasan. Mungkin berbeda dengan keluarga mertua onty Eby di sini, yang menganggap hubungan lawan jenis tanpa ikatan adalah hal yang kurang pantas meskipun itu hanya sebatas teman.
__ADS_1
"Soaaal permintaan Oma, gimana menurut kamu nak?" Ragu-ragu onty Eby mengutarakan niatnya datang menemui Nandita.
Gadis itu menghela nafas berat. Kenapa onty Eby harus bertanya lagi? Bukankah wanita paruh baya itu sudah tahu pasti apa yang dirinya mau?
"Onty udah tau apa jawabanku kan? Selain karena aku nggak memiliki perasaan lebih pada Aslan, aku juga masih punya keluarga yang harus ku pikirkan perasaannya onty ... Nggak mungkin mereka akan terima begitu saja dengan pertunangan ini. Kami berbeda dalam banyak hal,"
Onty Eby mengangguk paham. Ia tahu dilema yang dihadapi gadis di hadapannya itu.
"Onty mengerti. Tapi kita harus mencari cara terbaik untuk memberi pengertian pada Oma."
"Iya onty, ini yang sedang aku pikirkan saat ini. Aku nggak mau beliau kecewa, tapi aku nggak bisa memenuhi keinginannya." Nandita mereemas kedua tangannya, merasa buntu tidak menemukan solusi.
^_________^^_________^^_________^
hai sahabat GunTha, bentar lagi mau tamat nih.
ada yang mau souvenir dari GunTha kah?
jangan lupa dukungannya ya ...
Oya intip kisah cinta di karya temen aku juga yuk ...
***
Alexander Thomas El Farizi alias Zaini El Farizi merupakan sosok pemuda cuek, genius, dan wibawa, kini ia dikenal sebagai salah satu pengusaha berpengaruh di negera ini sebab, hampir 50% ia menguasai pasar internasional dengan segala jenis produk teknologi yang mereka kembangkan, namun ternyata keberhasilannya di dunia bisnis menyimpan banyak luka batin yang tragis dibalik tirai kehidupannya, membuat ia harus berjuang untuk melawan rasa trauma semasa kanak-kanak.
Hingga suatu hari Alex harus menerima perjodohan dari sang Kakek dengan seorang wanita bernama Alecia, disaat waktu tak tepat ia juga dipertemukan dengan Mina. Apakah seorang Alexander alias Zaini mampu bertahan dalam persaingan bisnis dan cintanya?
__ADS_1