
Bila kemarin kamu menangis, mungkin hari ini kamu tertawa gembira.
Bila hari ini kamu bahagia, mungkin esok kesedihan akan menyapa.
Itulah sebab nya orang tua selalu menasehati anaknya untuk jangan berlebih menikmati rasa yang hari ini datang padamu. Sebab semua bisa berubah seiring berjalannya waktu.
Hari-hari yang dilalui Nandita berjalan seperti biasanya. Hanya saja kini, ia memiliki teman yang setiap hari bisa ia ajak bersenda gurau, bermain, dan terkadang beradu mulut.
Sosok Namira Arjava adalah gadis lincah yang ceria. Ia juga anak yang cerdas. Nandita seperti melihat dirinya versi kecil pada sosok gadis itu. Bahkan sifat jahilnya juga. Namira juga anak yang sangat pintar memendam perasaannya, namun terkadang saat suasana hatinya kurang bagus, ia akan berbuat sesuatu diluar kendali dirinya. Entah penyakit apa itu.
Namun kebanyakan pemicunya adalah saat ia merindukan sang mommy.
"Onty nanti pulang sekolah jemput Mira ya ..." Pesan singkat dari si anak asuh
"Onty masih ada kelas tambahan ini untuk anak-anak yang nilainya kurang bagus" Balasnya.
Ia jadi terbiasa menyebut dirinya aunty, sebab Mira tidak mau memanggilnya kakak. Begitu pun dengan Gunadh, yang tidak terima selalu dipanggil bapak, akhirnya memilih kata mas agar terlihat lebih santai dan tidak kaku.
"Yaaaah onty ga asik,, baru aja aku mau ajak onty ke kantornya Daddy"
"Ya maaf,, kamu perginya sendiri dulu ya, nanti kalo selesainya cepat, onty jemput kamu di sana."
"Baiklaaaah." Balas gadis itu
Pelajaran tambahan itu berlangsung hanya satu jam. Nandita segera meninggalkan sekolah tempat kerjanya itu dengan menunggangi motor matic kesayangannya. Meskipun motor tua, tapi ia yang rajin merawat, membuat motor itu tetap terlihat bagus.
Ia urung menjemput gadis kecil itu, sebab sopir kantor sang Daddy yang akan membawa gadis itu ke kostan Nandita.
Setibanya Nandita di kostan, hampir bersamaan dengan mobil yang membawa Mira.
"Onty....."
"Eehh udah Sampe aja,,,, kenapa sebentar di tempat daddy mu??"
"Daddy lagi sibuk, males aku kalo disuruh nunggu, duduk diem di ruangannya"
"Oohh,,,, ya udah masuk yuk... Kamu udah makan??"
"Heheeeee belom,, onty emang ga masak?"
"Masak dong,,, tapi lauknya seadanya"
" Emang ga ada lauk yang kaya waktu ini??"
"Lauk apa??"
"Itu looh yang kaya sosis,, yang kata onty dibikinin sama ayahnya onty"
"Ooohh urutan,, bentar coba onty liat di kulkas masih ada apa gak. Kamu suka sama makanan itu?
"Hhhhemmm" Mira hanya menganggukkan kepala.
*Ini adalah keterangan jenis makanan yang mungkin tidak semua teman tertarik membacanya,, jadi bisa diskip ya,,,
*
__ADS_1
Urutan adalah makanan khas salah satu daerah di Indonesia, biasanya di buat dari daging b*b* atau ayam. Dimana daging yang sudah dipotong kecil-kecil diberi bumbu khusus, setelah itu dimasukkan ke dalam usus b*b* yang sudah di cuci bersih. Kalau mau menggunakan daging ayam, prosesnya sama hanya saja harus menggunakan sari rumput laut yang sudah diproses agar bisa membungkus daging sehingga membentuk sosis yang panjang.
Setelah proses pemasukan daging selesai, urutan yang baru jadi di jemur dibawah sinar matahari atau di asap di atas bara api yang kecil agar tidak gosong. Proses itu memakan waktu tiga hari, tergantung cuaca. Nah setelah itu baru urutan tersebut bisa digoreng. Sisanya bisa masuk kulkas atau dibekukan dalam freezer. Tahan hingga tiga bulan lamanya.*
"Ini masih Mir,, onty taruh di luar dulu nanti habis ganti baju baru kita eksekusi,,, ok,,,"
"Ok onty,, aku potong-potong dulu yaaaa"
"Hati-hati nanti tangannya terluka."
"Tenang aja,,,, Mira kan udah profesional"
Tidak ada respon lagi dari Nandita, sebab gadis itu sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Kamar kost Nandita tidak terlalu luas, sekitar 4x4 meter. Begitu masuk dari halaman depan, langsung terdapat tempat tidur, lemari, televisi, kulkas. Bersebrangan dengan pintu masuk, terdapat pintu kecil lagi yang menghubungkan dapur yang hanya berisi meja beton panjang dan wastafel yang menjadi satu. Sebelahnya barulah kamar mandi yang hanya cukup untuk dua orang dewasa saja. Dapurnya sendiri tidak full beratap, sebagiannya dibiarkan terbuka bebas. Mungkin maksud pemilik kost agar asap dari memasak itu tidak masuk ke dalam kamar. Namun oleh Nandita di tutup dan hanya disisakan sepertiganya terbuka, agar kompor dan prabotan lain nya tidak basah bila terkena air hujan.
Bagi Nandita itu sudah sangat cukup, toh di kota itu ia hanya hidup sendiri.
"Udah selesai belom motong nya?" Tanya Nandita dari arah belakang Mira
"Udah dong onty,,,, nih liat Mira pinter gak??"
"Hhhhm lumayan" Komentarnya sambil menjepit dagunya dengan jari telunjuk dan jempol, layaknya juri MasterChef menilai hasil karya para kontestan
"Onty ga usah gitu gayanya,,,,, ga cocok.... Itu gaya punya chef Juna...."
"Yeeeee emang chef Juna aja yang boleh begini. Onty juga boleh kali" Nandita menuju tempat prabotan, mengambil wajan serta sendok yang berlubang-lubang kecil, lalu meletakkan di atas kompor. Ia siap untuk menggoreng.
"Mir,,,, kalau kamu jualan nasi dengan lauk begini, apalagi potongannya gede-gede begini onty yakin warung kamu bakal laris manis"
"Ya punya bangeeet, tapi setelah sebulan warung kamu udah tutup"
Alis Mira berkerut. Logikanya kalau warung rame pasti tambah besar lalu kenapa di tutup.
"Ooohhh jadi berubah kaya restoran gitu onty ya??"
"Ya bukan lah,,, warung kamu tutup karena bangkrut. Rugi bandar broooo" Nandita meledek Mira yang dirasa belum bisa memotong dengan benar
"Terserah onty saja lah,,," Mira kesal dan itu membuat Nandita tertawa keras.
Mereka menikmati makanan dengan lahap. Tanpa beban tanpa pernah berpikir mungkin esok mereka tidak akan bertemu lagi.
Sedang asyik menikmati santapan sore hari,, dering ponsel Nandita menggema, lagu Naomi Scot masih menjadi nada dering favoritnya.
Rupanya panggilan itu dari sang bunda.
"Ya bunda,,,,"
"Dita kamu lagi di mana??"
"Di kost lah Bun.... Ini lagi makan"
"Bunda udah makan??"
Ia balik bertanya. Memang selama ini komunikasi antara ibu dan anak itu lancar dan sering, sehingga Nandita tidak pernah bertanya tujuan sang bunda menghubunginya. Sebab kalau salah bertanya sang bunda akan marah.
__ADS_1
"Udaaaah,,." Jawaban bunda yang ragu-ragu membuat dahi Nandita berkerut.
"Dita,, bunda sama ayah lagi di rumah sakit sekarang, kakek kamu masuk rumah sakit"
"Ooohh trus di sana ada siapa aja Bun??"
Nandita tidak kaget ataupun cemas
"Semuanya ada di sini. Ayah lagi di ruangan kakek, bunda keluar sebentar soalnya di dalam sudah rame. Besok kamu bisa ke sini? Ditanyain terus soalnya sama yang lain"
Nandita tau, sangat tau bagaimana kelakuan para bibinya. Kesempatan sekali untuk mencela orang tuanya bila ia tidak datang. Meskipun dia malas untuk kesana, tapi mau bagaimana lagi?
"Ya Bun besok Dita usahakan pulang. Kenapa bisa masuk rumah sakit Bun??"
"Kata Tante kamu, jatuh di kamar mandi"
"Ya Bun besok Dita pulang. Bunda jangan lupa makan. Ingat jangan apa-apa di masukin ke hati. Kasian nanti penuh dengan sampah hatinya bunda"
"Ya,,,, ya udah bunda masuk dulu ke kamar kakek ya"
"Ya bund..."
Panggilan ditutup.
Hatinya terasa gamang.
Mendengar kabar tidak enak kenapa hatinya biasa saja??
Berdosa kah dia karena sebagai cucu tidak merasa khawatir terhadap kakeknya??
🌟🌟🌟
Keesokan harinya, Nandita kembali ke kotanya dengan meminta ijin terlebih dahulu di tempat ia mengajar. Begitu juga dengan Mira,, dari kemarin ia sudah memberi tahu gadis itu kalau hari ini dan mungkin sampai beberapa hari ke depan mereka tidak akan bertemu.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, gadis itu telah sampai di sebuah rumah sakit swasta yang ada di kota tempat tinggalnya.
"Bunda,,, kakek di ruang apa?"
Tanya Nandita melalui sambungan telepon
"Di ruang Tulip no 7 Ta.. kamu udah Sampe? Bunda masih di rumah ini baru aja pulang. Mau ganti baju dulu"
"Baiklah Bun... Bunda istirahat dulu di rumah. Ayah di mana Bun? Ikut pulang juga?"
"Ya,, kan kemaren bunda sama ayah barengan ke sana, jadi pulangnya barengan juga"
"Trus yang nungguin kakek siapa??"
"Itu ada tante Dewi sama Tante Sari,, kan anak kesayangan" bunda berucap dengan sedikit menyindir.
"Ya udah aku masuk dulu ya Bun... Semoga ga pada ngomong macem-macem. Dita capek soalnya takut kebablasan"
"Yaaaa,,,, tapi kalau kepepet boleh juga sekali-sekali melawan Ta, bukan bunda ngajarin anak yang ga baik. Tapi kadang kita harus tunjukkan siapa kita sama mereka biar mereka ga selalu meremehkan kita"
"Ya Bun,,,, nanti Dita coba" telepon ditutup.
__ADS_1
Setelah bertanya pada resepsionis, ia menuju ruangan sang kakek. Dalam hati ia berdoa semoga para Tantenya tidak sindir-sindir, takutnya nanti dia berdebat di sana. Apalagi tidak ada sang ayah, sebagai rem nya.