Nanditha

Nanditha
MENJENGUK TASYA


__ADS_3

"Gimana?"


Gunadh memajukan telinganya ketika mendengar kalimat pedas yang dituju kan pada Nandita.


Tatapan mata laki-laki itu menghunus tajam ke arah tiga ibu yang datang tak diundang tersebut.


"Hebat sekali kalian pagi-pagi sudah bisa menceramahi orang lain. Kalian siapa hingga sangat tahu kehidupan saya? Saya bisa menuntut kalian dengan tuduhan berita bohong lho ibu-ibu!" Wajah Gunadh yang biasanya ramah, kini berubah dingin.


"Lagipula status saya adalah urusan pribadi saya. Dan hubungan saya dengan Nandita sama sekali bukan urusan kalian." Tegas laki-laki itu lagi.


"Gak bisa gitu donk ... Kita hanya mengingatkan. Dia ini kan warga sini. Harus taat aturan. Jangan berbuat zinah apalagi dengan suami orang. Jangan sampai perbuatan tercela satu orang membuat nama baik daerah kita rusak." Bu Indah membela teman-temannya.


"Ya kalau mau berbuat sesuka hati, bebas tanpa mau ikut aturan, jangan tinggal di sini." Lanjutnya lagi.


"Ehm saya tidak tahu masalah kalian terhadap keluarga saya apa. Begini saja ya, coba kalian buktikan kebenaran ucapan kalian. Kalau memang benar, kami akan melakukan apapun keputusan adat di sini. Jangan lupa saya juga warga asli di sini. Jadi saya tahu apa hukumnya jika melanggar aturan. Tapi ingat, bila sampai apa yang kalian tuduhkan terhadap anak saya itu tidak terbukti, saya tidak akan segan untuk menuntut kalian ke jalur hukum. Kalian sudah menyebarkan fitnah, perbuatan tidak menyenangkan, dan memganggu kehidupan saya dan keluarga saya." Ayah Darma yang terkenal ramah dan santun, kini ikut mengeluarkan taringnya. Menekan tiap kata di kalimat terakhirnya.


Sontak tiga ibu-ibu itu saling sikut.


"Y-ya nggak bisa gitu donk pak. Kita ini kan bertetangga, wajar kalau saling mengingatkan. Kok malah urusannya sama hukum. Kalau gak mau kita ingatkan ya sudah. Kalau memang gak salah, ya sudah. Kita mau berniat baik kok jadi malah mau dituntut. Udah yuk ibu-ibu." Bu Indah menarik dua temannya untuk segera meninggalkan teras rumah ayah Darma.


Mereka berempat menarik nafas dalam tidak habis pikir dengan kelakuan tetangga sekitar yang begitu ikut campur dengan urusan orang lain.


Mereka masuk ke dalam rumah tanpa kata. Baru setelah duduk di sofa ruang tamu, bunda Santi memecah keheningan.


"Nak Gunadh mau minum apa?"


"Air putih aja Bun ... Tadi udah ngopi di jalan." Sahut Gunadh.


"Ooh ya sudah." Bunda Santi berlalu meninggalkan obrolan.


Nandita ikut bangkit dari sofa dan mengekori sang bunda ke dapur.


"Bun ... Masak apa? Aku sama mas Gunadh belum sarapan."


"Tadi bunda cuman bikin nasi goreng aja. Sama ada bubur kacang ijo tuh." Bunda Santi menunjuk panci yang masih bertengger di atas kompor.


"Aku tanya mas Gunadh dulu deh, mau gak dia


-makan bubur." Nandita kemudian kembali ke ruang tamu. Sambil membawa air putih yang disiapkan bunda Santi untuk Gunadh.


"Mas, mau sarapan pakai apa? Bunda bikin bubur kacang ijo, mas mau?" Nandita bertanya sambil meletakkan gelas di hadapan kekasinya.


"Mmm mas gak terlalu suka kacang ijo Ta." Gunadh tersenyum canggung. Merasa tidak enak, namun ia harus jujur.


"Ooh gak apa-apa. Aku gorengkan telur sama dendeng aja kalo gitu." Sahut Nandita.


"Kalau urutan ada gak Ta? Aku kangen sama makanan itu. Udah berapa bulan gak makan." Gunadh.


"Tar ya, liat di kulkas ada apa gak." Sahut Nandita.

__ADS_1


"Ada Ta, kemarin pas Ikha ambil orderan, ayah pesan lebih lagi setengah kilo." Sahut ayah Darma.


"Ooh ok." Nandita melanjutkan langkahnya.


"Malikha hebat ya Yah ... Masih muda sudah bisa punya usaha sendiri. Sekarang udah semakin berkembang donk pastinya." Gunadh


Ayah Darma tersenyum.


"Kamu gak tahu ya itu usaha punya siapa?"


Alis Gunadh berkerut.


"Itu usaha punya Nandita. Nandita yang kasih modal, lalu Malikha yang menjalankan. Tapi masih di bawah pengawasan kakaknya."


Gunadh benar-benar terkejut mengetahuinya. Ia tidak menyangka, Nandita memiliki banyak ide, dan pemikiran di kepalanya.


Gadis pekerja keras, yang jarang ditemui di masa kini.


🌟🌟🌟


Setelah selesai sarapan, Nandita langsung bersiap hendak pergi ke rumah sakit.


"Mas mau langsung balik sekarang?" Tanya gadis itu.


"Balik ke mana?" Gunadh balik bertanya.


"Yaa ke kota mas. Memang mau tinggal di sini?" Ketus gadis itu.


Gadis itu memutar bola matanya malas.


Enggan berdebat, Nandita memilih masuk ke kamarnya mengambil tas dan ponselnya.


"Yah, bunda mana?"


"Masih di kamar. Baru habis mandi kayanya. Tunggu dulu."


"Ayah gak ikut?"


"Enggak. Nanti siangan mau ada suplyer datang. Ayah lagi nunggu itu."


"Suplyer apa yah?" Gunadh


"Suplyer pakan ternak. Janjinya nanti agak siangan datangnya. Mangkanya nanti ayah siangan aja ke peternakan, biar gak bolak balik."


Gunadh dan nandita menganggukkan kepalanya.


"Mas jam berapa balik nanti? Aku sama bunda gak tahu sampai jam berapa di rumah sakitnya." Nandita kembali bertanya.


"Lho, katanya gunadh mau ikut ke rumah sakit?" Tanya ayah Darma.

__ADS_1


"Ya yah, saya mau ke rumah sakit dulu. Nanti habis antar pulang bunda sama Dita, baru saya ke kota."


Gunadh bicara dengan ayah Darma sekaligus menjawab pertanyaan Nandita. Gadis itu hanya bisa diam tanpa mampu menolak atau membantah.


Setelah lebih dari 30 menit menunggu, bunda Santi muncul dari balik pintu kamarnya.


"Udah siap Ta? Yuk kita berangkat. Biar gak kesiangan." Ucap ibu tiga anak itu tanpa dosa.


Nandita memutar bola matanya malas.


"Kalau jemuran nih Bun, Dita tuh udah kering tau nunggu bunda dari tadi. Ini udah bukan kesiangan, tapi udah siang nunggu bunda. Mau ke rumah sakit kok dandannya kaya mau ---"


"Terus ... Lanjut ..."


Nandita langsung membekap mulutnya melihat tatapan sang bunda yang menghunus tajam ke arahnya.


"Maaf Bun ... Lupa, ingetnya ngomel sama adek." Kilah Nandita.


Bunda Santi masih menatap sengit sang putri.


"Ayo nak Gunadh." Ucapnya tanpa menanggapi ucapan Nandita.


Ayah Darma dan Gunadh tidak berani ikut campur. Mereka hanya mampu melipat mulut, agar tidak terlihat menertawakan keduanya.


Akhirnya mereka bertiga berangkat menuju rumah sakit dimana Tasya dirawat.


"Ta, kamu kok gak bilang kalau yang punya usaha Dapur Kita itu kamu?" Gunadh memecah sepi yang terjadi di dalam mobil.


Gadis itu menoleh.


"Siapa yang bilang mas?"


Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya.


"Ditanya balik nanya." Gumam Gunadh yang masih bisa didengar Nandita.


"Ya masa ya aku mesti cerita kemana-mana sih mas ... Kamu juga gak pernah nanya sama aku kan?"


"Ya kan aku bukan orang lain Ta ... Kalau gini, aku tuh kaya gak kenal kamu tahu gak." Rajuknya.


"Kan memang mas Gunadh gak kenal aku kan ... Buktinya ..." Sengaja Nandita menggantung kalimatnya, membiarkan Gunadh berpikir sendiri apa yang ada di hati Nandita.


"Ehm." Bunda Santi berdehem, membuat dua anak manusia di depannya seketika diam.


"Maaf Bun ..." Gunadh lebih dulu minta maaf, merasa tidak enak berdebat di hadapan calon mertuanya.


"Gak apa, lanjut aja."


Kalimat bunda Santi semakin membuat Nandita diam, tak berani berkata.

__ADS_1


Gunadh jadi tahu, keluarga Nandita memang terlihat santai, namun saat sang bunda marah atau tidak suka akan sesuatu, anak-anaknya tidak ada yang berani membantah. Meskipun mereka sudah mandiri, tidak lagi bergantung hidup pada orang tuanya. Namun tetap ada rasa segan dan hormat terhadap ayah bundanya.


__ADS_2