
Dering ponsel di sampingnya, mengalihkan fokus Nandita yang tengah merapikan sisa barang bawaan yang masih berserakan di lantai kamarnya.
Senyum tipis menghiasi wajah wanita yang semakin matang itu, ketika layah pipihnya menampilkan nama sang tunangan.
"Mas, udah sampai?" Tanyanya setelah ia menerima panggilan video itu.
"Sudah, baru aja habis mandi. Euh ...." Dari ponselnya terlihat Gunadh sedang merebahkan tubuh, di atas ranjang kamar pribadinya. Lenguhan yang terdengar di akhir kalimat Gunadh, menandakan jika dirinya merasa lelah.
"Mira mana?" Tanya laki-laki itu lagi, saat menyadari tidak ada sosok putrinya tertangkap layar kamera.
"Itu lagi di kamar Malikha. Mas nggak denger suara tawa mereka?" Tanya Nandita, sembari tangannya terus bergerak menumpuk beberapa pakaian yang baru saja ia keluarkan dari koper.
Gunadh mengangguk kecil. Tidak lagi menanyakan apapun.
Beberapa menit berlalu, keduanya tidak membuka suara. Nandita juga seolah lupa jika dirinya tengah melakukan panggilan video dengan kekasihnya.
"Sibuk banget sih yank ... Lagi ngapain?" Tanya Gunadh akhirnya.
Nandita mengangkat kepala, menatap ke arah ponselnya sekilas.
"Beresin koper, mas. Besok kan mau ditinggal lagi, biar semua rapi dulu. Kasihan bunda kalau harus beresin semua ini nanti." Sahut Nandita.
"Maaf ya sayang, semua jadi berantakan gara-gara masalah ini. Mas dan Mira sering banget susahin kamu." Ucap Gunadh tidak enak hati.
"Mas ngomong apaan sih, nggak suka aku dengernya." Sahut Nandita menghentikan aktifitasnya. Ia meraih ponsel yang sejak tadi di sandarkannya pada sisi koper.
Gadis itu bangkit menuju ranjang tempat tidurnya, duduk bersandar dengan bantal di pangkuannya.
"Memang benar begitu faktanya kan? Dari dulu, semenjak kenal sama kamu, rasanya semua hal yang terjadi dalam hidup mas dan Mira kamu pasti ada di dalamnya. Tapi acap kali mas membuat kamu kecewa." Sesal laki-laki itu lagi.
"Sudah lah mas ... Nggak usah bahas itu lagi. Yang terpenting sekarang adalah gimana caranya agar Mira mau bertemu dengan mommy-nya, biar masalah ini cepat beres."
"Kamu benar, Yank. Haaah mikirin semua itu membuat kepala mas makin pusing. Semoga aja Mira mau berkompromi ya." Sahut Gunadh, terdengar lelah.
__ADS_1
"Ya mas, nanti pelan-pelan aku kasih dia pengertian." Sahut Nandita.
"Makasih sayang ...." Ucap Gunadh lembut. Menatap mesra wajah yang hanya bisa ia lihat tanpa bisa disentuhnya.
Nandita yang mendapat tatapan mesra itu pun menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah, dan senyum canggung tersungging di bibirnya.
Sangat jarang mereka mendapat momen seperti ini. Meski mereka masih berstatus bertunangan, namun masalah yang sering kali mereka hadapi, membuat hubungan itu sudah seperti pasangan suami istri. Sangat jarang menemukan romantisme, yang ad hanya menghadapi masalah dan membereskannya.
Mereka melewati momen merajuk satu sama lain, melewati momen tukar kado saat perayaan hari jadi, mereka tidak memiliki kisah romantis selayaknya pasangan muda pada umumnya. Terlebih ada Namira diantara keduanya.
Gunadh menyadari semua itu. Perjalanan cintanya bersama Nandita, jauh berbeda dengan kisah cintanya terdahulu. Itu membuatnya acap kali diliputi rasa bersalah.
"Kenapa liatinnya gitu sih?" Tanya gadis itu tidak tahan.
"Kenapa? Mas biasa aja," sahut Gunadh tersenyum manis.
"Tau, ah." Sahut Nandita salah tingkah.
"Liatin kamu ngambek gitu, mas jadi pengen balik ke sana sekarang juga." Ucap Gunadh.
"Pengen penjarain bibir yang suka monyong itu."
Mata Nandita membola mendengar celetukan Gunadh.
"Ngomong apa itu? Sembarangan!"
"Kamu memangnya nggak mau?"
"Nggak!"
"Nggak nolak?"
Masih dengan tersenyum manis, Gunadh terus menggoda tunangannya itu.
__ADS_1
"Mas ...!" Nandita terdengar marah, namun senyum tertahan di sudut bibirnya, menandakan jika dia tidak benar-benar marah mendengar godaan kekasihnya itu.
"Udah ah, aku mau selesaikan kerjaan dulu. Ngomong sama mas bikin tensi aku naik"
"Ada lagi nggak yang naik?" Tanya Gunadh.
Nandita mengerutkan dahi,
"Maksudnya?"
"Udaaah lupain aja. Besok mas jemput ya ...."
"Nggak usah, aku bawa motor aja. Mas tungguin di rumah aja."
Gunadh mengangkat bahu,
"Liat besok aja sayang," sahutnya.
Mereka mengakhiri obrolan, dan setelahnya Nandita kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda beberapa saat lalu.
Terpaksa semua ia lakukan malam ini juga, sebab semua rencana yang disusunnya berantakan karena masalah Namira.
Awalnya, ia membuat jadwal untuk pergi ke rumah kakek Cakra serta pamannya dari bunda Santi, besok pagi. Lusa, baru dia akan ke rumah pamannya yang ada di kota lain. Setelah itu barulah dia bebas mau melakukan apapun. Termasukungkin ke rumah Candra dan Satya.
Tapi semua itu berubah, sebab Namira tidak mau pulang ke rumah, setelah mengetahui niat sang Daddy yang akan mengajaknya bertemu dengan Safira. Gadis itu kekeh ingin tinggal bersama Nandita.
Ketakutannya akan kehilangan onty Dita-nya lagi, membuat gadis itu memohon untuk tetap tinggal.
Dengan terpaksa akhirnya Gunadh meminta ijin pada ayah Darma dan bunda Santi agar mengijinkan Nandita ikut bersama mereka.
Gunadh juga menjelaskan keadaan saat ini, serta kondisi Namira yang masih mengalami trauma.
Kunjungan Nandita ke rumah kakek dan pamannya pun, dimajukan siang itu juga. Bersama Gunadh dan Namira yang ikut menemani.
__ADS_1
^_________^^_________^^_________^