
Gunadh tiba di rumahnya ketika langit sudah gelap. Bahkan seluruh lampu di dalam rumah itu sudah mati, pertanda penghuni rumah telah terbuai di alam mimpi.
Meski lelah, namun raut bahagia tak dapat disembunyikan oleh laki-laki itu. Suasana hati Gunadh benar-benar tengah baik kali ini.
Kekasihnya telah kembali, tidak ada lagi jarak yang menghalangi keduanya, membentangkan rindu dan rasa was-was yang selama ini acap kali menghantui.
Rasa gerah dan lengket yang membuat dirinya tidak nyaman, membuat Gunadh segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah tiba di dalam kamarnya
Baru saja ia akan membuka pakaian yang menempel di tubuhnya, dering ponsel yang masih ada di dalam saku celana jinsnya menghentikan aktifitas laki-laki itu.
Alis Gunadh berkerut, ketika panggilan masuk yang ia kira datang dari sang kekasih, ternyata salah. Nomor yang menghubunginya, adalah nomor asing yang tidak tersimpan di kontaknya.
Merasa tidak mengenal nomor tersebut, Gunadh mengabaikan panggilan itu, membawa benda pipihnya keluar kamar mandi dan ia meletakkan di atas kasur, sebelum ia kembali melanjutkan kegiatan yang tertunda.
Setelah selesai dengan ritual membersihkan diri, Gunadh merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari memainkan ponsel. Kegiatan yang jarang ia lakukan beberapa waktu terakhir.
Saat menjalani hubungan jarak jauh, ia dan Nandita harus menyesuaikan waktu untuk saling berkomunikasi. Terlebih gadis itu juga bekerja, sehingga ia hanya punya waktu beberapa jam setiap harinya untuk saling bertukar kabar. Namun kali ini ia bisa kapan saja menghubungi kekasihnya itu. Tidak ada lagi perbedaan waktu, dan Nandita juga belum bekerja kembali, sehingga kapan saja Gunadh bisa menghubunginya.
Memikirkan itu, membuat Gunadh semakin senang.
"Yank ...." Sapanya saat panggilannya diterima oleh sang kekasih.
"Iya mas, udah sampai?"
"Udah, ini baru beres mandi. Kamu udah tidur yank?"
"Belum, masih tungguin telepon mas Gunadh."
"Kangen ya? Sampe nungguin telepon mas dulu baru tidur?"
Gunadh tidak bisa menahan rona bahagianya mendengar ucapan gadisnya.
"Ish, nggak gitu maksudnya ... Aku cuman mau pastiin kalau mas udah sampe rumah apa belum ... Gitu ..."
"Ooh, kirain kangen sama mas ...."
Nandita mendengar nada kecewa dari suara laki-laki itu.
"Kangen juga sih, tapi dikiiit ...." Ucapnya sembari terkekeh. Namun Gunadh tidak menanggapi candaannya,buat Nandita berpikir kalau laki-laki itu pasti kelelahan saat ini.
__ADS_1
Merasa tidak ada jawaban dari seberang, Nandita memutuskan untuk mengakhiri obrolan.
"Ya sudah, mas istirahat dulu. Besok jadi ajak Mira kemari kan?" tanyanya
"Hmmm ...." hanya itu jawaban Gunadh.
"Aku tutup ya mas?"
"Ck," hanya decakan yang laki-laki itu keluarkan dari mulutnya, berharap Nandita mengerti akan maksud hatinya.
"Istirahat ya mas, love you."
Nandita benar-benar mematikan sambungan teleponnya, membuat Gunadh merasa kesal.
'dasar nggak peka.' ketusnya dalam hati, persis seperti seorang ABG.
Baru saja ia melempar ponsel ke sisi kirinya, benda pipih itu kembali bergetar pertanda sebuah pesan masuk dari Nandita.
💌 : "Udah berumur, udah nggak jaman ngambek-ngambekan lagi. Udah nggak jaman kode-kodean lagi. Malu sama usia mas ... Kalau mau sesuatu, biasakan ngomong." Tulis gadis itu, membuat Gunadh yang semula merasa kesal, menjadi malu sendiri karena sikap kekanakannya.
Kembali ia melakukan panggilan video ke nomor ponsel milik Nandita.
Dengan wajah memerah yang tidak dapat ia sembunyikan, Gunadh menatap gadis pujaannya dari layar ponsel.
"Kalau nggak mau ngomong, aku matikan ya ... Mau tidur," ucap gadis itu memberi ancaman.
"Ck, kamu nggak peka banget sih yank ...." Rajuk Gunadh
"Nggak peka kenapa mas?" Tanya Nandita, dengan kekehan kecil.
"Kamu nggak ngerti, mas masih kangen tau, pengen deketan terus sama kamu."
Ucap Gunadh dengan wajah memelas.
Pipi Nandita merona, namun sebisa mungkin gadis itu menyembunyikan senyumannya.
"Bohong banget sih mas," ucap Nandita akhirnya dengan mencebikkan bibirnya.
"Kamu nggak percaya kalau mas kangen? Pengen deketan terus tau sama kamu, tapi nggak bisa soalnya banyak keluarga yang lain juga."
__ADS_1
"Terus maunya mas gimana?" Nandita tidak tau apa mau Gunadh, sebab sejak dari bandara ia memang tidak sempat berbincang terlalu banyak dengan tunangannya itu.
"Kamu kemari donk yank ... Luangin waktu beberapa hari untuk kita berdua,"
Pinta Gunadh, namun tidak langsung diiyakan oleh gadis itu.
"Liat nanti ya mas, aku besok mau ke rumah kakek dulu. Habis itu ke rumah om Putra juga."
"Gitu ya ... ya deh, tapi usahakan waktunya ya ...."
"Iya ... Ya sudah, aku matikan ya ... Besok jadi ajak Mira kesini kan?"
"Jadi, selepas dia pulang sekolah tapi. Biar nggak banyak bolosnya dia."
"Ok. Sampe ketemu besok ya ...."
"Eeehh, jangan dimatikan dulu ...."
"Apalagi mas ... Aku udah ngantuk ...."
"Kamu tidur aja, senderin ponselnya di bantal. Mas temenin dari sini "
"Iiih nggak ah, kayak anak SMP aja, lebai banget." tolak Nandita langsung.
Namun bukan Gunadh namanya jika keinginannya tidak terpenuhi.
"Yank ...."
"Nggak mas, maluuuu."
"Ngapain malu? Nggak ada yang tahu juga kan? Kalau nggak mau, mas ngambek."
"Ck, ya sudah ... Jangan ganggu tapinya, aku udah ngantuk banget ini."
"Iya sayang ... Mas temenin dari sini. Muaaach ...."
Akhirnya malam pertama gadis itu tiba di tanah air, ia tidur ketika waktu sudah hampir tengah malam. Ditemani Gunadh yang memaksa melakukan panggilan video, hanya untuk melihatnya lebih lama lagi.
^_________^^_________^^_________^
__ADS_1
haiii jangan lupa mampir di karya temen mamak ya ...