
Sore itu, langit begitu cerah dengan warna biru yang tampak bersih. Tidak ada sedikit pun bercak awan menghalangi pandangan. Namun hati seorang gadis belia yang duduk di salah satu kursi taman, belakang rumahnya tak secerah langit sore itu.
Beberapa saat lalu, Namira yang tengah melakukan panggilan video bersama tiga sahabatnya, dipanggil Nandita untuk menemaninya mencari angin segar di taman belakang.
Rupanya Nandita sengaja mengajaknya ke tempat yang lebih sepi dan tenang, agar calon ibu sambungnya itu bisa lebih nyaman mengajaknya bercerita.
"Enak ya di sini," ucap Nandita setelah duduk di kursi besi berwarna putih itu.
"Hmmm, dulu aku suka diem di sini kalau lagi kangen sama onty. Inget saat onty ajarin aku silat, kita main air sampe basah kuyup, sampe Daddy omelin onty waktu itu. Onty inget nggak?" Namira kembali mengulang cerita masa lalu nya
Nandita mengerutkan keningnya, berpura-pura lupa dengan kejadian yang Mira ceritakan.
"Masa sih, memang Daddy kamu pernah marahin onty?"
"Ck, pernah dulu, waktu onty baru-baru kerja jagain aku ...."
"Oohh, onty lupa." Kekeh Nandita.
Suasana kembali hening. Baik Nandita maupun Mira, sama-sama menikmati suasana sore yang menenangkan.
"Mira,"
"Ya onty?"
"Mmm kamu udah tau belum kabar mommy kamu saat ini?" Tanya Nandita hati-hati.
Mira diam. Sama sekali tidak berniat membahas soal wanita yang coba ia lupakan itu.
Jika saja yang bertanya adalah Daddy-nya, gadis belia itu pasti sudah marah. Tapi ini onty Dita, sebisa mungkin dia menahan diri agar tidak bersikap berlebihan.
__ADS_1
"Dia sedang tidak baik-baik saja saat ini, sayang. Dia menunggu ka...."
"Onty," Mira menghentikan ucapan nandita.
"Bisa nggak, kita obrolin yang lain aja?"
"Nggak bisa sayang. Kita harus bicara soal ini,"
"Tapi aku nggak mau, onty. Nggak perduli bagaimana pun keadaannya, aku udah nggak mau tau apapun lagi tentang dia."
"Mira, nggak boleh bicara begitu. Bagaimanapun juga dia wanita yang mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan kamu, membawa kamu hadir ke dunia ini,"
"Dihadirkan lalu ditinggalkan, onty." Sahut Namira dengan mata memerah.
"Aku nggak pernah minta dihadirkan ke dunia ini. Aku nggak pernah minta dilahirkan dari dia. Aku hadir atas keinginan mereka, tapi kenapa saat aku ada, seolah aku hanya beban yang memberatkan langkahnya? Bahkan sejauh yang aku ingat, dia tidak pernah ada disaat-saat terpenting dalam hidupku, onty."
Suara Namira bergetar penuh emosi.
Namira menumpahkan semua isi hati yang selama ini dipendamnya.
Nandita tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Sejenak, mulut wanita itu terkunci, suaranya tercekat di tenggorokan.
Memang benar, ia tidak bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi Namira. Namun melihat bulir air mata gadis belia itu jatuh, dengan tatapan luka yang mendalam, hatinya juga ikut tersayat.
Dengan cepat, dibawanya Namira ke dalam pelukannya. Rasnya Nandita ingin mengambil semua rasa sakit di sudut hati gadis itu. Ia ingin menjaga dan melindungi Namira, agar tidak ada lagi luka yang berani mendekatinya.
"Sayang ... Jangan ingat lagi semua yang kenangan menyakitkan itu. Kamu anak yang kuat ... Tuhan memilih kamu menjalani hidup seperti ini, pasti karena Tuhan tau, kamu anak yang kuat. Kamu hebat, bisa melewati semua ini."
Ucap Nandita, mengusap lembut punggung gadis itu.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, Nandita merenggangkan kembali pelukannya.
"Mira ...,"
"Onty, aku mohon jangan lagi bahas soal mommy di depan aku. Sudah cukup. Aku nggak mau denger lagi."
Tegas Namira.
Tapi Nandita tidak akan semudah itu membiarkan Namira menutup mata. Ia memiliki misi, membuat gadis itu mau bertemu dengan mommy-nya.
"Mira, denger onty." Titah Nandita tidak kalah tegasnya. Wanita itu memegang kedua bahu namira.
"Onty tau luka hati kamu begitu dalam. Onty nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya, tapi pasti itu sangat menyakitkan. Kesalahan mommy kamu sangat fatal, tapi biar bagaimana pun di tetap wanita yang melahirkan kamu."
"Onty, Mira ke dalam duluan ya." Gadis itu menepis tangan Nandita dan berlalu begitu saja.
"Onty hanya tidak ingin kamu menyesal nantinya, Mira. Saat ini, mommy kamu sedang berada di rumah sakit, dalam kondisi kritis. Setiap saat di batas kesadarannya, dia hanya menyebut nama kamu. Mungkin Tuhan masih berbaik hati memberinya nafas hingga saat ini, hanya agar dia bisa bertemu dengan putrinya untuk yang terakhir kali. Bertahan diantara hidup dan mati, dengan nafas yang harus dibantu selang oksigen tidaklah nikmat, Mira. Kamu menghalangi langkahnya, dengan mengabaikan panggilan yang mungkin akan kamu sesali seumur hidupmu kelak. Jangan menjadi angkuh sayang, dengan bertahan dalam kemarahan. Mengungkung jiwa murni kamu, yang pasti menginginkan pertemuan ini." Namira mematung.
Dadanya terasa sesak, sebab apa yang Nandita ucapkan adalah benar adanya.
Jauh di sudut hatinya, rasa sayang pada wanita yang melahirkannya itu masih tetap ada, hanya saja akal sehatnya selalu membenamkannya kembali ke palung terdalam.
Nandita mendekat, mengusap bahu Namira dari belakang.
"Onty nggak maksa kamu untuk bisa memaafkan atau melupakan. Onty hanya meminta kamu, belajarlah ikhlas, menerima semua sebagai takdir yang harus kamu jalani. Karena dengan begitu langkahmu akan semakin ringan ke depannya. Onty hanya tidak ingin kamu menyesal seumur hidupmu kelak."
Namira membisu, saat Nandita dengan lembut menasihati, meminta dirinya untuk belajar ikhlas dengan semua yang terjadi.
"Sayang, cepat kita ke rumah sakit sekarang. Mommy-nya Mira kembali dibawa ke ICU, karena hilang kesadaran." Gunadh berlari mendekati keduanya dengan nafas memburu.
__ADS_1
^_________^^_________^^_________^