
Hari berlalu. Sudah tiga hari setelah kejadian pagi itu, tidak sekalipun Nandita datang berkunjung. Ada saja alasan yang diberikannya pada Gunadh. Dan semesta seolah mendukung, sebab apa yang dikatakan bukanlah kebohongan.
Mulai dari bangun terlambat, kegiatan jalan santai, dan bakti sosial menyambut ulang tahun sekolah, menjadi penyelamatnya beberapa hari ini. Meski kalau diniatkan, ia masih bisa mengatur waktu berkunjung ke rumah sakit. Namun ia merasa enggan.
Apakah dia menghindar?
Mungkin.
Siapa yang bisa menjamin hati seseorang? Satu kalimat mungkin biasa bagi satu orang, namun bisa juga luar biasa bagi orang lain.
"Yank, nanti siang bisa ke sini? Mira sudah diijinkan pulang oleh dokter." Ucap Gunadh dalam sambungan telepon pagi tadi, saat Nandita baru saja selesai membersihkan diri.
"Semoga bisa ya mas, aku gak berani janji. Kalau gak bisa siang, nanti sore selepas kegiatan aku ke rumah ya."
"Ya udah, tapi usahakan ya biar bisa antar Mira pulang." Gunadh masih berharap
"Ya mas. Ya udah aku siap-siap dulu ya. Mas jangan lupa sarapan."
"Ya sayang."
Panggilan ditutup.
Gadis itu pun melanjutkan aktivitasnya menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah tempatnya membagi ilmu. Hari ini hari terakhir persiapan acara, dia harus memastikan semua berjalan dengan baik.
Di rumah sakit, Gunadh kembali memeriksa laporan yang rutin dibawakan Arya, tiap pulang kantor. Dan paginya asisten tampan itu akan mengambilnya kembali sembari membawakan sarapan dan keperluan gunadh yang lainnya.
Sesungguhnya yang paling direpotkan dengan musibah Namira adalah sang asisten.
Sebab sebagian besar pekerjaan Gunadh diambil alih olehnya. Belum lagi menjadi kurir dadakan, untuk semua keperluan gunadh di rumah sakit. Sebab laki-laki yang sudah pernah menikah itu hanya percaya pada sang asisten.
Selama tiga hari itu pula Safira tidak menunjukkan hal-hal mencurigakan yang membuat Gunadh marah.
Mantan istrinya itu bahkan terkesan sedikit menjauh sekarang, membuat Gunadh menurunkan kewaspadaannya.
Begitu pun dengan Mira. Gadis itu meminta maaf pada Gunadh atas sikapnya yang dianggap kurang baik terhadap Nandita.
"Kenapa Daddy diam aja? Daddy marah sama aku ya?" Tanya Mira kemarin malam.
"Gak, Daddy gak marah. Untuk apa Daddy melakukan itu?" Ucap Gunadh dengan wajah datar
"Lalu kenapa Daddy diam aja? Apa karena onty Dita gak ke sini?"
__ADS_1
"Mungkin dia gak akan datang ke sini lagi." Ucapnya lemah
"Kenapa dad? Apa aku ada salah?"
Gunadh menatap manik mata putrinya. Mencoba menelisik hati melalui tatapan mata polos itu. Rasa sayangnya pada sang anak membuat ia tidak bisa menemukan apapun kecuali kepolosan yang acap kali menipunya.
"Kamu tau nak, ada kalanya apa yang kita ucapkan menyakiti hati orang lain, tanpa kita sadari. Daddy gak marah sama kamu, hanya saja Daddy merasa kecewa dengan cara kamu bicara pada onty Dita. Ingat, dulu saat mommy kamu gak ada di sini, saat Daddy sibuk dengan pekerjaan tanpa kenal waktu, onty Dita yang menjadi teman kamu. Dia yang dengan setia menjaga dan memastikan kamu dalam keadaan baik-baik saja. Jangan lupakan itu. Jangan lupakan arti kehadiran seseorang yang menemani kita saat susah, ketika kita sudah menemukan kebahagiaan." Gunadh berkata dengan lembut. Berharap dengan cara itu ia bisa melembutkan hati anaknya yang keras.
"Ya Dad. Maaf Mira salah." Ucap anak itu dengan menundukkan kepala.
"Suruh onty kemari dad ...? Mira mau minta maaf sama onty." Dengan raut bersalah Namira meminta pada Gunadh, meyakinkan sang Daddy kalau dirinya benar-benar menyesal.
Meski dalam hatinya, iblis berwujud kebencian itu tidak benar-benar pergi. Masih terus membisiki kepahitan pada jiwa yang masih lugu itu.
Gunadh tersenyum.
"Besok Daddy minta onty kamu ke sini ya. Sekalian antar kamu pulang. Kan kata dokter besok udah boleh pulang."
"Ya Dad." Jawab gadis itu dengan tersenyum manis.
Hingga jadilah pagi ini Gunadh dengan semangat menghubungi sang kekasih, meminta gadis itu untuk datang.
Namun ada sedikit rasa kecewa yang ia telan, ketika Nandita tidak terdengar antusias saat menyanggupi permintaannya.
🌟🌟🌟
Nandita masih sibuk. Dilibatkan sebagai panitia ulang tahun sekolah, menyita banyak waktu dan pikiran gadis itu. Apalagi besok adalah puncak acaranya, sehingga hari ini segala sesuatunya harus sudah selesai. Mulai dari tenda, persiapan pentas para siswa, memastikan konsumsi aman, dan banyak lagi yang lainnya.
Namun begitu, ia pantas bersyukur, kegiatan itu memberinya kesempatan mempromosikan usahanya. Dendeng dan urutan olahannya, menjadi salah satu menu makanan yang akan di sajikan besok untuk para siswa juga tamu undangan.
Ketika terik mentari tepat di atas kepalanya, Nandita baru sadar hari sudah siang. Dan hanya roti bakar dan segelas kopi kemasan yang masuk ke dalam lambungnya sejak pagi. Ia teringat janjinya pada Gunadh. Dengan terburu Nandita pamit pada rekannya dan segera menuju rumah sakit tempat Mira dirawat.
Tanpa perduli lambungnya yang menjerit meminta diisi, ia menuju ruang perawatan begitu selesai memarkirkan motornya.
Langkah yang tadi terburu, berhenti seketika begitu lift terbuka dan melihat Safira mendorong kursi roda Namira. Sementara Gunadh membawa tas pakaian dan barang lainnya. Berjalan beriringan dengan tangan menuntun Penggung Safira. Entah sadar atau tidak laki-laki itu melakukannya. Namun hati Nandita merasa sakit melihat itu.
Kembali terlintas pesan yang diduga dari Safira. Mereka keluarga kecil bahagia tanpa orang ketiga.
Gunadh melihat sang kekasih berdiri di depan lift. Dan segera menyusulnya.
"Sayang ... Aku kira kamu gak bisa datang." Ucapnya dengan binar bahagia.
__ADS_1
"Udah agak senggang kok mas, makanya aku ke sini." Ucap Nandita menutupi rasa tidak nyamannya.
"Ya udah yuk." Gunadh menuntun kursi roda Namira begitu lift terbuka.
Nandita dan Safira tidak saling bertegur sapa. Hanya sikap Mira saja yang sedikit lebih ramah dari sebelumnya.
"Onty makasih ya udah datang ... Maaf waktu ini sempat bikin onty tersinggung." Ucap gadis belia itu saat di dalam lift.
Alis Nandita berkerut. Ia lantas melirik Gunadh yang juga tengah menatapnya.
"Siapa bilang onty tersinggung? Gak kok. Kan apa yang Mira katakan benar. Memang seharusnya yang mendampingi kita adalah orang tua kita. Apapun alasannya, tidak ada salah satu pun diantara mereka yang boleh berhenti perduli terhadap anaknya. Apa lagi Mira sudah sangat lama gak bertemu dengan mommy kan? Pasti ada rindu yang sangat besar yang kamu rasakan untuk dia. Berapa tahun Mira gak ketemu mommy?" Tanya Nandita dengan melirik sekilas wajah Safira.
"Gak tau onty, udah lamaaaa banget kayanya. Kata Daddy, mommy kerja jauh mangkanya gak pernah temuin Mira." Ucap gadis itu polos.
"Ooh onty baru tahu kalau mommy Mira kerja " Kalimat Nandita tidak berlanjut sebab pintu lift keburu terbuka, dan mereka sudah tiba di lantai dasar rumah sakit.
"Sayang ... Kamu motornya taruh di sini aja ya, nanti biar Arya yang urus. Kamu ikut di mobil aja." Titah Gunadh.
"Mas ... Mana cukup? Mobil kamu kan kecil. Ini aja barang kita sebanyak ini." Safira menunjuk barang yang dibawa Gunadh tadi.
"Aku bawa motor aja mas, lagian hal kecil masa harus merepotkan orang lain. Arya pastikan punya agenda yang lebih penting daripada hanya mengurus motorku ini." Ucap Nandita
Safira hanya melirik sinis pada rivalnya itu. 'Sok pengertian banget kamu.' Sinisnya dalam hati.
Namun ia senang, rencananya semobil bersama Gunadh tercapai.
Akhirnya Nandita berangkat terpisah menggunakan sepeda motornya. Sementara Gunadh mengendarai mobilnya. Awalnya Safira berniat duduk di samping mantan suaminya. Namun tatapan tajam Gunadh membuatnya urung melakukan itu.
Gunadh terlebih dahulu tiba di rumahnya. Begitu mobil terparkir, para art dan tukang kebun menyambut kedatangan mereka.
"Non Mira ... Syukurlah non sudah boleh pulang. Bibik senang sekali non." Ucap bi Asih. Wanita paruh baya itu sampai meneteskan air mata bahagianya melihat sang nona sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Meski, keadaan Mira masih belum pulih sepenuhnya.
Tidak ada satupun art di sana antusias dengan kehadiran Safira. Hanya senyum tipis sebagai formalitas saja. Berbeda ketika melihat Nandita yang baru turun dari sepeda motornya, Bik Asih dan yang lain menyambutnya dengan sapaan hangat dan ramah.
"Mas, aku balik dulu ya. Mira juga kan perlu istirahat." Ucap Nandita
Mereka baru saja mengantarkan Namira ke kamarnya.
"Ya sudah, kamu hati-hati yank. Terimakasih karena sudah meluangkan waktu kamu."
"Ya mas." Ucap Namira singkat.
__ADS_1
Ia ingin buru-buru pergi. Perutnya sudah terasa perih akibat terlambat makan.
Bila dulu ia biasa melakukan aktifitas di rumah itu, kini ada rasa segan yang tidak ia pahami karena apa. Hingga terpaksa dirinya menahan lapar dibandingkan menerima tawaran Gunadh untuk makan bersama di rumah laki-laki itu.