Nanditha

Nanditha
KEMBALI BERSAMA GUNADH


__ADS_3

Nandita menarik nafas panjang, setelah sambungan telepon dari sang ayah berakhir.


"Ada apa? Itu ayah yang telepon kan?" Tanya Gunadh.


Nandita hanya menganggukkan kepala.


"Ta ..." Gunadh mendesak, meminta penjelasan.


Nandita menoleh ke arah Gunadh.


"Aku mau siap-siap mas. Nanti sore aku pulang." Ucap Nandita


"Aku bantu. Mau beresin yang mana dulu?"


"Gak usah mas, aku bisa sendiri. Sebaiknya mas kembali." Tolak Nandita tegas.


Gunadh sadar, Nandita belum menerimanya.


"Ta, bukankah di dunia ini gak ada manusia yang sempurna? Bukankah setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan? Tidak kah aku berhak mendapat kesempatan kedua dari kamu?" Tatapan memohon Gunadh, membuat pertahanan Nandita melemah.


Teringat pesan Candra, untuk memberi keputusan bijak pada hubungan mereka.


"Ini semua terlalu rumit mas. Banyak hati yang harus aku jaga. Udah cukup kekacauan yang terjadi belakangan ini. Aku gak mau, hubungan kita membuat luka baru lagi untuk orang lain."


Gunadh tidak menanggapi. Ia justru memainkan ponselnya.


Nandita kembali pada aktifitasnya. Mengeluarkan semua pakaian, dan menatanya ke dalam koper.


"Yah, aku ada di kostan Dita sekarang. Mau antar dia pulang, tapi dia gak mau." Kalimat Gunadh menghentikan gerakan Nandita menata pakaiannya.


"Ayah mau ngomong? Ini Yah." Gunadh menyerahkan ponselnya pada Nandita.


Nandita menerima ponsel Gunadh dengan wajah bingung.


"Itu ayah, mau ngomong sama kamu." Terang Gunadh, ketika Nandita hanya diam.


"Halo"


"Halo Ta, nak Gunadh ada di sana ya? Kamu pulangnya sama dia saja. Biar ayah tenang di sini. Kamu ada yang jagain."


"Tapi yah ..." Nandita keluar kamar, mencari tempat yang agak jauh dari Gunadh.


"Aku gak mau ada masalah lagi yah. Udah cukup yang kemarin." Tolak Nandita setelah ia merasa cukup nyaman untuk bicara dengan sang ayah.


"Dita gak mau mas Gunadh salah sangka, dengan Dita mau pulang sama dia."


"Salah sangka gimana?"


"Nanti dia pikir Dita mau balikan lagi sama dia."


"Memangnya kamu gak mau?" Tanya balik sang ayah.


Nandita diam. Hatinya mau tapi akalnya menolak.


"Gunadh sudah datang ke ayah sama kakek. Dia menjelaskan semua yang terjadi. Dia juga minta maaf untuk segala kekacauan yang terjadi akibat ulah anak dan mantan istrinya." Jelas ayah Darma.


"Tapi yah ---"


"Ta, setiap orang berhak diberi satu kesempatan lagi untuk berbuat yang lebih baik. Jangan terlalu keras pada dirimu juga pada Gunadh." Potong ayah Darma.


"Apa ayah kasih ijin kalau Dita kasih mas Gunadh kesempatan kedua?"


"Dia laki-laki yang baik." Sahut ayah singkat.

__ADS_1


"Baiklah yah. Besok kita ngobrol lagi pas sudah di rumah." Nandita lalu kembali ke kamar kostnya.


Ia tertegun melihat Gunadh dengan cekatan merapikan pakaian yang ketika tadi ia tinggalkan masih berantakan.


"Mas ..."


Gunadh menoleh.


"Udah ngobrolnya sama ayah?" Tanya Gunadh masih sibuk dengan pakaian di tangannya.


Nandita mengangguk. Menyerahkan ponselnya kembali pada Gunadh.


"Makasih mas." Ucapnya canggung.


"Mana lagi yang mau dirapikan?"


"Aku aja mas. Mas balik dulu aja, nanti sore baru kesini lagi."


Gunadh menggeleng.


"Aku temani kamu di sini."


Nandita hanya bisa pasrah, membiarkan laki-laki itu membantunya. Meski dalam suasana canggung dan hening.


🌟🌟🌟


Mereka berangkat sekitar pukul 16.00 wib.


Perlu waktu 1 jam dari tempat tinggal Nandita menuju bandara.


"Kenapa harus sejauh ini sih pelatihannya? Di daerah kita kan juga ada ..."


"Ini rekomendasi perusahaan sana mas."


"Memangnya perusahaan apa sih?"


Nandita mengangkat bahunya tanpa menjawab pertanyaan Gunadh.


"Gak mau cerita sama aku?" Desak Gunadh lagi.


Nandita enggan menanggapi. Tiap kali ia ingat alasan ia memilih bekerja di luar negeri, perasaannya akan kacau. Meski itu mimpi masa lalunya, tapi penyebab ia meraih mimpinya kini yang membuat ia sakit hati.


Salahkah kalau dia masih enggan terlalu terbuka pada Gunadh?


"Mas tahu dari mana kalau aku ada di sini?"


"Aku tahu dari seseorang." Sahut Gunadh


"Ya gak mungkin donk dari rumput yang bergoyang?" Ketus Nandita membuat Gunadh tersenyum.


Gadis itu seakan masih memiliki dendam terhadapnya.


Jangan lupa, meski Nandita gadis ceria, penyayang, mudah tersentuh hatinya, namun ia juga seorang pendendam dan bar-bar.


Itu sudah menjadi karakter dalam diri Nandita.


"Janji jangan marah ya. Mas rayu Candra sama Satya untuk kasih info soal kamu. Sebenarnya mas nanya ke ayah sama bunda, tapi mereka bilang gak tahu alamat pasti kamu. Malikha apalagi." Terdengar nada kesal di akhir kalimat gunadh.


"Ternyata kalau dia lagi kesal sama orang, tingkahnya menyebalkan juga ya." Gunadh menoleh ke arah Nandita


"Kenapa sama anak itu?" Nandita penasaran


"Setelah gagal nanya sama ayah bunda, mas coba nanya ke Malikha. Kamu tahu apa kata dia? Cari tahu sendiri, katanya." Gunadh menirukan cara Malikha bicara dengan kepala ikut digerakkan.

__ADS_1


Nandita mengulum senyum, membayangkan laki-laki dingin dan arogan itu dipermainkan oleh Malikha.


"Dia bahkan sengaja teleponan sama kamu di depan mas, tapi begitu mas mau rebut ponselnya dengan cepat ya memasukkan ke dalam saku bajunya." Wajah Gunadh tampak kesal.


"Cinta itu perlu perjuangan, biar gak gampang mas jahatin kak Dita lagi, katanya. Memang kapan mas pernah jahat sama kamu?"


Gunadh mengadu.


"Mas, kok aku merasa lama-lama karakter kita tertukar ya? Mas sekarang banyak omong." Ucap Nandita terkekeh


Gunadh menatap Nandita dengan tatapan tidak suka.


"Sorry." Nandita merasa tidak enak.


"Mas mau karakter ini tertukar selamanya asal kamu mau maafkan mas." Ucap Gunadh serius.


Rona merah di pipi Nandita muncul, gadis itu malu dengan kalimat Gunadh yang terdengar gombal.


Suasana kembali canggung.


Mereka sama-sama diam.


Saat memasuki pesawat, Gunadh berinisiatif meraih tangan Nandita untuk ia genggam.


Nandita pasrah sebab begitu banyak orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


Tidak mungkin dia menolak perlakuan laki-laki itu, sebab Nandita tahu seperti apa karakter duda beranak satu itu.


Semakin ia dicegah, maka semakin keras dia memaksa.


Di dalam pesawat, Nandita memilih tidur. Lumayan waktu hampir dua jam ia gunakan untuk melepas lelah.


Sementara Gunadh, masih berkutat dengan laptop di pangkuannya.


Waktu terbang ia pergunakan dengan baik menyelesaikan pekerjaan yang ia tinggalkan untuk menyusul Nandita.


Gunadh menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, begitu juga tubuhnya yang terasa kaku.


"Mas," Nandita membuka mata


"Kok bangun? Tidur lagi aja. Baru setengah perjalanan ini."


"Mas lagi apa?" Nandita justru balik bertanya, tanpa menanggapi ucapan Gunadh.


"Kenapa harus nyusul sih mas, sementara kerjaan mas banyak?" Tanya Nandita setelah membenarkan posisi duduknya, dan melihat apa yang Gunadh kerjakan.


Gunadh menatap Nandita dengan mata menyipit.


"Kalau mas gak datang, kamu memang masih mau ketemu mas?"


"Kenapa sih mas? Kok kayanya aku gitu yang salah? Perasaan yang mestinya marah, ngomel, ngambek itu kan aku."


"Kan sudah ... Kamu udah ngambek sama mas, sampai nyebrang lautan buat kabur."


Nandita malas berdebat. Ia kembali menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata.


^_________^^_________^^_________^


Teman-teman penasaran gak sama kisah pelakor baik?


Sambil nunggu aku up lagi, intip yuk kisahnya.


__ADS_1


__ADS_2