
Seminggu berlalu setelah kejadian dimana pertemuan dua bibir yang begitu syahdu. Mulai hari itu hingga kini, Ali sering kali mencuri kecupan-kecupan singkat.
Bahkan kadang memaguut nya hingga puas. Bibir tipis berwarna merah jambu alami itu begitu menggoda Ali. Terasa candu. Semakin ingin dinikmati.
Saat ini dirumah Nara ada Maura disana. Ia sedang menemani Nara yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.
''Ini kesini, ini kesini dan ini kembali Kak?? Kesini kah?'' tanya Nara pada Maura.
Maura mengangguk dengan mulut penuh makanan. Saat ini ia sedang makan lontong pecal kesukaan Lana.
Ia tak menyahut ucapan Nara karena mulutnya sedang mengunyah. Nara menoleh, ia berdecak sebal. ''Ishh.. Kakak... bantuin ih! Adek lagi kesusahan ini.. ihh..'' rengek Nara dengan mengerucut kan bibirnya.
Maura tertawa. ''Haha hah.. uhuk.. uhuk.. uhukk.. uhukk..'' Maura terbatuk-batuk hingga memerah mukanya.
Nara melongo melihat Maura terbatuk-batuk seperti itu, kemudian tertawa terbahak-bahak. Hingga Lana dan Ali yang baru saja pulang dari mesjid menunaikan sholat Maghrib berjamaah di komplek rumah dinas mereka merasa heran mendengar suara tawa Nara yang begitu lepas tanpa beban.
Rumah dinas Lana dan Ali bersebalahan. Semua ini permintaan Ali pada komandan mereka. Siapa lagi kalau bukan komandan Kevin.
Komandan Kevin berdecak sebal melihat kelakuan Ali adik ipar Lana ini. Apa-apa semua dengan Lana, Ali sudah seperti tangan tangan kanan Lana saja.
Dari semenjak tugas hingga sekarang Ali tetap memilih bersama Lana. Udah menikah dengan adik Lana, rumah pun berdekatan dengan Lana.
Hadeeeuuhh.. cocok banget!
Lana dan Ali saling pandang saat mendengar suara tertawa Nara yang jarang sekali keluar. Lana terkekeh, sedang Ali tertegun. Sudah seminggu ini, Ia tidak pernah mendengar suara tertawa Nara yang begitu lepas seperti itu.
Sejak kejadian dimana pertemuan bibir, setiap hari Ali selalu mencuri kecupan di bibir Nara. Membaut gadis itu malu kepada Ali. Ia hanya tersenyum saja pada Ali. Tidak tertawa lagi seperti yang ia dengar sekarang ini.
Ali tersenyum, ia berjalan dengan pelan untuk melihat sang pujaan hati tertawa tanpa henti seperti itu.
Tiba di depan pintu kedua orang itu mematung melihat istri mereka yang sedang tertawa bersama. Sangat cantik jika sedang tertawa lepas.
Apalagi Nara, sang pujaan hati komandan Ali Jaber Al Basri. Ia berdiri di samping pintu dengan menyender disana. Seutas senyum manis terbit saat melihat sang istri begitu lepas saat tertawa bersama sang kakak ipar.
''Hahaha.. Kakak kualat sama adek! hahaha.. makanya kalau lagi ngajarin adek tuh, jangan makan dulu Kak! Lihat tuh jadinya? Keselek akhirnya terbatuk-batuk kan?? Hahaha..'' ucap Nara pada Maura.
Maura pun ikut tertawa. ''Hahaha.. maaf atuh Dek! Kakak laper banget. Belum lagi makan, udah kamu panggil kesini. Masih untung kamu udah masak lontong pecal, kalau enggak bisa mati kelaparan Kakak! Ishhh... hahaha..'' Maura tertawa lagi saat mengatakan hal itu pada Nara.
Mereka tertawa bersama. Tidak sadar, jika sang Raja sedang menatap mereka dengan kekehan di bibirnya.
__ADS_1
''Hahaha.. Kakak sampai terkencing gara-gara batuk!''
''Mana ada Dek! Udah ih, jangan di ledek terus napa?! Udah basah juga ini celana! hahaha..'' ucap Maura sambil tertawa-tawa.
Dua pria beda sedikit saja umurnya itu tertawa melihat kelakuan istri mereka berdua. ''Ehem..''
Deg!
Nara terkejut mendengar suara deheman itu. Ia sangat tau jika itu suara siapa. ''Loh? Kok diam? Pada kenapa nih, seru banget ya sampai-sampai nggak mau ngajak kami berdua??'' goda Ali sambil melangkah masuk menuju dimana Nara berada.
Lana terkekeh melihat wajah Nara bersemu merah. Ia mengedipkan matanya pada Maura
Maura tertawa. Ali terkekeh. Sedangkan Nara semakin menunduk malu.
''Ayo kita pulang. Udah ada Ali disini. Biarkan Ali yang mengajar Adek, ayo sayang. Kita punya tugas yang tertunda! Harus selesai malam ini juga!'' goda Lana pada Maura.
Maura melototkan matanya.
Plakkk..
''Diem ih malu sama adek! Ayo pulang. Kakak tinggal ya Dek?? Udah ada Ali yang akan mengajari kamu belajar! Kakak harus menjinakkan pawang yang satu ini dulu!'' kata Maura sambil menggoda Lana.
Lana tertawa, sedang Ali terkekeh. Nara kebingungan. ''Pawang?? Abang jadi pawang?? Pawang apaan??'' tanya Nara dengan polosnya.
Sedang Maura mencubit lagi lengan Lana, membuat calon jendral itu tertawa terbahak. Begitu juga dengan Ali.
Sementara Nara masih kebingungan. Nara ingin bertanya, tapi tidak berani. Takut jika pertanyaan itu adalah pertanyaan yang salah. Tapi rasa penasaran itu lebih besar dari pada takutnya.
''Emangnya apa sih itu pawang ular?? Abang juga punya?? Dimana??'' tanya Nara saat melihat Lana sudah keluar dari rumah mereka.
Ali tersenyum, ia duduk mendekati Nara dan berbisik lirih di telinganya. ''Pawang ular itu punya Abang dan goa nya itu ada di kamu. Dan itu yang akan Bang Lana lakukan pada Kak Maura! Hubungan suami istri! Cup!'' Ali mencuri kecupan di bibir Nara
Nara melototkan matanya. ''A-apa?! Hu-hubungan su- suami istri?! Nina ninu maksudnya?!'' tanya Nara pada Ali, Ali mengangguk dan tertawa.
''Hah?? Jebol pawang lembu euuyy..'' celutuk Nara, membuat Ali tertawa lepas begitu saja.
Buhahahaha...
Lana yang mendengar suara tawa Ali pun ikut tertawa. ''Adikku tercemar oleh si otak kotor itu! Lihatlah! Dia berhasil menggoda adik kecilku!''
__ADS_1
''Yang ini maksudnya??'' goda Maura pada Lana. Maura sengaja menyentuh adik kecil Lana yang terbungkus rapi disana.
Lana melototkan matanya. Maura tertawa dan berlari masuk kerumah mereka. Mereka berdua saling berkejaran di dalam rumah.
''Kamu nakal, hem??''
''Hahaha .. cuma sama Abang aja adek nakal! Abang pun sama.. Mesum!!''
''Hahaha...''
Gelegar suara tawa lepas memenuhi rumah dinas milik Lana dan Ali. Jika Lana sedang menggelitik Maura, sedang Ali sedang menggoda Nara dengan kata Nina ninu.
Sungguh pasangan yang kompak!
Mereka berdua tertawa bersama. Jika menyangkut pawang ular, Ali lah pawangnya. Seperti saat ini, diruang tamu rumah mereka, Ali sedang menggoda Nara lagi.
''Jadi.. kapan nih mau kenalan sama pawang ularnya?? Abang udah kebelet banget loh..'' godanya lagi pada Nara.
Nara tersenyum malu. Wajahnya memerah seketika. Ia tidak mendengar kan ucapan Ali. Ia sibuk dengan tugas sekolahnya. Melihat itu, dengan segera Ali mengangkat tubuh Nara ke pangkuan nya.
''Eh? Abang! Ishh..''
Cup!
Nara melototkan matanya. Ali tertawa.
Cup!
Lagi, kecupan itu ia labuhkan. Nara semakin merah saja wajahnya. Apalagi saat merasakan jika pisang Raja Ali sudah berdiri tegak seperti pohon kelapa.
Membuat Nara menepuk gemas lengan dan dada Ali. ''Ih, Abang mesum!!''
''Hahaha... mesumin istri sendiri halal Sayang! Nggak ada yang salah dengan itu. Hemm.. kapan ya? Ular piton Abang ini ingin banget keluar dari sarangnya? Udah nggak tahan pingin nyemburin bisa ularnya ke goa kamu!''
Plaakk..
Buhahahaha...
Ali semakin tertawa terbahak saat merasakan pukul an gemas mendarat begitu banyak di tubuh tegapnya.
__ADS_1
💕💕💕💕
Ck! Menikah dengan pria dewasa begitu meresahkan!