
''Awas dulu, sayang. Biar Abang buka pintunya. Barang kali memang penting!'' kata Ali pada Nara yang masih setia bersender di pintu dengan mata terpejam.
''Hem..'' sahut Nara
Ia tidak ingin mendengar apapun. Yang saat ini ia butuhkan adalah kasur empuknya. ''Adek tidur aja lagi. Biar Abang yang nemuin Papi. Pasti ada sesuatu yang membuat mereka malam-malam menggedor kamar kita,'' ucap Ali pada Nara.
Gadis kecil yang begitu mengantuk itu segera beranjak kembali ke ranjang mereka. Nara menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut. Ali tersenyum. Setelah melihat Nara tidur kembali, Ali Dengan segera membuka pintu kamar mereka.
Ceklek!
''Ayo, Lana dan Maura dalam bahaya! Mereka saat ini di serang di jalan komplek perumahan mangga dua!''
Deg!
''Apa?!'' pekik Ali begitu terkejut, hingga membuat Nara yang baru saja terlelap dalam mimpi kini terbangun lagi. Ia terduduk dengan mata sayu menatap suami, Abang dan Papinya.
''Ayo, bilang pada Nara dulu.'' Kata Papi Gilang.
Ali mengangguk, ''Dek, Abang keluar sebentar ya? Ada urusan. Abang pergi sama Papi dan Rayyann semakin, kok. Kamu tidur aja lagi. Di kunci pintunya.''
Nara tak menyahut, dengan segera ia bangun dan mengunci pintu setelah melihat Ali pergi bersama Papi dan Abangnya.
Ia kembali tidur tanpa tau apa yang terjadi. Sedangkan tiga orang itu berjalan tergesa. Di lobi sudah menunggu supir papi Gilang.
''Mari, Tuan!''
''Terimakasih Mang!'' sahut Papi Gilang.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan segera meluncur ke tempat yang dikatakan oleh Maura tadi pada Rayyan.
Lima belas menit kemudian, mereka tiba di jalan komplek perumahan mangga dua. Terlihat disana, jika Maura dan Lana sedang berdiri saling berpelukan.
Dengan para pbunuh bayaran yang berkisar dua puluh orang itu, sebagian nya sudah terkapar tak berdaya dilantai. Namun masih ada sisa lagi yang masih berdiri memegang senjata mereka.
Baru saja kaki mereka turun berpijak di aspal jalan sudah terdengar suara letusan senjata menggema di seluruh jalanan sepi itu.
Dor!
Dor!
Dor!
Tiga orang yang baru yang baru keluar dari mobil itu mematung di tempat.
''Kak Maura...''
''Maura....'' panggil mereka bertiga secara bersamaan.
Mulut mereka menganga menyaksikan jika Maura lah yang membidik seluruh pembunuh bayaran kiriman Kakek Malda itu.
''Sayang! Lepaskan Abang! Kenapa begitu banyak suara tembakan?! Kamu tidak apa-apa??'' terdengar suara seruan Lana dari bawah kaki Maura.
Maura tersenyum tipis tetapi meringis. Setetes darah hangat menetes di tangan Lana yang di ikat Maura dengan tali yang sengaja Maura bawa.
''Darah! Kamu berdarah Dek! Lepaskan Abang Sayang!'' seru Lana lagi dengan panik.
__ADS_1
Maura terkekeh. ''Adek tidak apa-apa Abang! Udah, santai aja disana!'' sahut Maura begitu tenang.
Ali berlari mendekati Maura dan Lana.
Dor!
''Allahu Akbar!'' seru Ali begitu terkejut saat Maura membidik senapan Laras pendek itu kepada seseorang yang terkapar di aspal jalan.
''Kak!'' panggil Ali.
''Bawa Bang Lana kesana! Biar aku yang tangani! Cepat!'' tegas Maura.
Ali membatu di tempat.
Dor!
Dor!
Dor!
''Kalian ingin mencoba menghabisi suamiku, heh?!''
Dor!
''Aaakkhh..''
''Kalian ingin membunuh keluarga kami?!''
Dor!
''Arrrgggghhttt...''
Ali membeku di tempat. Begitu juga dengan Papi Gilang dan Rayyan. Mereka tercengang melihat Maura seperti itu.
Dor!
''Katakan! Siapa yang menyuruh kalian untuk membunuh seluruh keluarga ku?! Siapa yang menyuruh kalian!!!'' seru Maura lagi dengan suara yang begitu melengking. Ia terus berjalan mendekati semua orang yang terkapar itu.
Sementara Seseorang dibalik mobil sana mengarah kan senapan Laras panjang miliknya. Ia mengarahkan senjata Laras panjang itu tepat pada Maura dan Lana.
Ali terkejut melihat nya. Cahya merah kecil yang tepat tertuju pada Lana dan Maura membuat Ali mematung lagi.
Ia tidak tau harus berbuat apa. Pergi dnwgn terburu-buru. Tidak membawa persiapan apapun. Hingga...
Dorr!
''Sayang!''
''Maura!!''
''Kakak!!'' seru mereka berempat sambil menatap Maura.
''Berani main belakang, heh?! jangan salahkan aku, jika aku lebih dulu yang membidik mu! Kau! pembunuh bayaran tak berperasaan! Jika aku tau siapa keluarga kalian, maka saat ini pun aku akan membunuh keluarga kalian satu persatu! Sama seperti perkataan mu tadi!''
''Aaaarrrgghhtt..'' pekik orang itu.
__ADS_1
Maura sengaja menginjak telapak tangannya orang itu dengan sepatu hak tinggi miliknya. ''Oh, maaf! Saya tidak sengaja! Masih ingin pulang tidak? hem??''
''Aaaarrrgghhtt.. he-hentikan puan! Ba-baik! Kami pulang! Tolong, lepaskan kami!'' pintanya dengan sangat
Maura tersenyum simpul. ''Oke. Tapi sebelum itu, kalian semua harus mati terlebih dahulu!''
Brraaakk..
Plaaakkk..
Plaaakkk..
Taakk..
Taakk..
''Selesai!'' kata Maura.
Maura berdiri dan mendekati mobil yang tadi ingin membidik nya. Seseorang yang memakai masker itu menatapnya dengan tajam.
Taaakkk..
Orang itu melotot. ''Itu balasan untukmu yang mencoba ingin membunuh keluarga ku! Jangan bermain-main dengan ku! Kau belum tau sedang berhadapan dengan siapa! Pulang! Untuk malam ini, kau tidak akan bisa bergerak sampai pihak berwajib membawa kalian dari sini! Aku akan melepaskan totokan dari tubuh kalian semua, ketika kalian sudah boleh untuk kembali ke negeri Jiran!'' tegas Maura
Seseorang itu hanya bisa mengumpat nya dalam hati. Selesai dengan semua orang itu, Maura mendial nomor kantor polisi terdekat.
Ia mengatakan, terjadi pengeroyokan padanya. Dan semua pelaku pengeroyokan itu sudah terkapar tak berdaya karena suaminya yang membuat mereka KO.
Setelah selesai, Maura berlalu mendekati Lana yang terduduk masih dengan menunduk. Ia tidak bisa bergerak sama sekali, sama seperti pembunuh bayaran itu.
Ali, Papi Gilang, dan Rayyan hanya terdiam mematung melihat Maura. Mata mereka tak lepas dari melihat Maura yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya.
Takk,
Taakk..
''Allahu Akbar! Sayang! Kenapa kamu lakukan itu! Kamu apakan mereka Semua?!'' seru Lana begitu terkejut saat semua orang itu jatuh terkapar dengan terdiam, mata mereka menatap pada Maura.
''Kamu apakan mereka? Kenapa mereka seperti ini!'' seru Lana lagi begitu gusar melihat para pembunuh bayaran itu terdiam dengan mata melotot ke arahnya.
''Ya Allah, Maura..'' lirih Lana dengan mengusap wajahnya kasar.
Mendengar gerutuan Lana untuk Maura, Papi Gilang dan Rayyan mendekati mereka. ''Nakk.. astaghfirullah! Kamu berdarah! Kamu tertembak?!''
Deg!
''Maura! Kamu terluka?! Astaghfirullah!! ya Allah.. kenapa... haisshh..'' gerutu Lana begitu kesal.
Maura terkekeh. ''Biasa aja kali, Bang! Adek udah biasa kayak gitu. Udah.. santai aja! Dirumah aja obatin nya!'' sahutnya begitu santai.
Ali, Papi Gilang, Rayyan, dan Lana melongo melihat Maura. Maura malah tertawa. ''Ayo ih! Kalian mau tidur disini seperti mereka? Tunggu apalagi?? Polisinya udah datang tuh! Ayo! Keburu kering ini darah adek, Abang!'' seru Maura lagi.
Lana terkejut. ''O-oke! Haisshh.. kamu kok nekad sih dek? Rayyan! Bawa mobilnya!'' titah Lana. Dengan cepat ia menyuruh Maura yang sudah lebih dulu masuk ke mobil mereka.
Rayyan mengangguk patuh. Dengan segera mereka menuju kerumah sakit terdekat untuk mengobati luka Maura.
__ADS_1
Seharusnya, malam ini adalah malam pengantin mereka. Tapi malah jadi malam aksi berdarah.
Ck. Dasar Maura! Selalu saja penuh dengan kejutan! Ali hanya menggelengkan kepalanya kepalanya melihat tingkah Maura. Kakak iparnya.