Penantian Kinara

Penantian Kinara
Anak Siapa?!


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian, mereka bertiga tiba di bukit ujung. Untuk tiba kesana, mereka bertiga harus jalan kaki menyusuri jalan setapak dimana ada tower untuk jaringan di ponsel mereka.


''Ayo, kita naik. Butuh waktu untuk tiba disana,'' ucap Lana pada Ali.


Ali mengangguk, ''Tentu Bang. Ayo nak, kamu sama Papi. Biar Papi Lana yang tuntun jalan,'' katanya pada Gading.


Gading mengangguk setuju. Wajahnya seperti menahan sakit saat ini karena burung kakak tua nya kejepit lagi saat dalam gendongan Ali lagi.


''Ayo!'' ajak Lana sambil menuntun jalan mereka.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi saat mereka tiba disana. Matahari pagi begitu bersinar dan menerangi seluruh bukit ujung. Lana dan Ali semakin berjalan cepat saat melihat tower tinggi signal ponsel sudah ada di depan mata.


Ali dan Lana tersenyum, baru saja mereka tiba ponsel mereka berdua sudah berdenting keras. Salah satunya dari Mak Alisa dan Nara. Dua orang kesayangan Lana ini begitu tau waktu mereka.


''Lihatlah, baru saja kita tiba mereka sudah menghubungi kita. Ayo, kita harus menyapa mereka.''


Ali mengangguk, dengan segera ia menurunkan Gading dan meletakkan tubuh kurus itu di rumput seperti rumput baldru. ''Assalamu'alaikum sayang..'' sapa Lana pada Maura.


Ternyata Maura yang menghubungi nya melakukan ponsel Mak Alisa. ''Waalaikum salam, Abang... gimana kabarnya?? Sehat??'' tanya Maura.


Lana tersenyum, ''Seperti yang kamu lihat. Abang sehat. Mana anak kita? Abang pingin lihat. Tunjukkan pada layar ponsel mu!'' kata Lana pada Maura.


Maura tertawa. ''Kok tertawa sih? Kamu lagi dirumah sakit kan??'' tanya Lana masih dengan tatapan ingin tau. Karena terlihat jelas, hiks Maura saat ini sedang menggenakan baju pasien rumah sakit, pertanda jika Maura baru saja melahirkan.


Maura tertawa lagi. ''Ini putramu nak. Tampan sekali. Mirip denganmu!'' celutuk Mak Alisa.

__ADS_1


Lana tertegun melihat putranya. Anak pertamanya bersama Maura. Mata Lana berkaca-kaca. ''Putraku...'' lirih Lana.


Ia begitu terharu melihat wajah putra nya itu begitu mirip dengan nya. Hanya bibir nya saja yang mirip Maura. Lana Terkekeh. Namun, air mata itu terus mengalir di pipinya.


''Ini putri kita! Lihatlah, sangat cantik. Mirip Onti Nara!'' Seru Maura membuat Nara tertawa yang sedang memegang ponselnya bertatap muka dengan Ali setelah hampir delapan bulan lamanya.


''Siapa nama putra mu, Bang? Buatkan nama untuknya. Dari kemarin kami menghubungi ponsel mu. Tapi tetap tidak tersambung. Dan entah kenapa, dua wanita kalian ini begitu ingin menghubungi kalian pagi ini. Sedari habis subuh terus saja ponsel itu ia pegang. Bahkan makan pun tak kenyang, tidur pun tak lelap!'' kata Papi Gilang mendrama.


Lana dan Ali tertawa. Karena sambungan ponsel itu Masih terhubung secara bersamaan. Wajah kedua pemuda tampan itu terlihat jelas di ponsel Maura dan Nara saat ini.


''Baiklah.. untuk jagoan Papi, akan Papi beri nama... Malik Maulana Akbar dan putri kecil Papi.. akan Papi beri nama.. Marziana Putri Maulana.'' Ucap Lana pada sambungan ponsel miliknya.


Semuanya mengucap Alhamdulillah bersamaan. ''Oke, Abang akan Onti panggil Bang Malik, dan adek akan Onti panggil dengan Ziana atau Zia. Hampir sama dengan nama Ziara anak kakak dan Abang. Sebentar lagi mereka pasti datang.'' Imbuh Nara begitu senang.


Lana menoleh pada Ali dan Gading. Sedari tadi, Gading terus menatap Nara tak berkedip. Ali tidak tau itu. Karena ia sibuk memandangi wajah ayu sang istri. Masih Rindu.


Lana terkekeh Melihat nya. ''Ali! Tidak kah kamu ingin mengenalkan putra mu pada keluarga kita??''


Deg!


Nara menatap Ali dengan tatapan penuh tanda tanya. Begitu juga dengan kelurahan yang lain. Seluruh mata menatap pada Ali saat ini di dalam ponsel yang sedang dipegang oleh Nara.


''Ali??'' panggil Mak Alisa.


Lana terkekeh lagi. ''Ali masih kangen mungkin sama adek, Mak. Jadi apa yang kita katakan ia tidak dengar. Fokusnya satu. Yaitu adek Nara. Apakah adek Nara sangat cantik sekarang Ali??'' pancing Lana pada Ali.

__ADS_1


Ali tersenyum dan mengangguk. ''Sangat cantik! Kalau ada disana pastilah aku kurung aja bang di dalam kamar!''


Bluuusshh...


Seketika wajah Nara bersemu merah karena malu. Ia menunduk malu. Sedangkan Lana, Maura dan Papi Gilang tertawa terbahak. Maura membatasi gelak tawanya. Karena baru saja melahirkan. Dan itu dijaga ketat oleh Mak Alisa.


Mak Alisa terkekeh saja. Begitu pun dengan Algi. Tiara sedang tidak bersamanya saat ini. Ada sesuatu yang terjadi dengan hubungan mereka dan hanya Nara yang tau.


''Ali??''


''Iya Mak??'' sahut Ali masih dengan tersenyum menatap Nara yang menunduk malu.


''Sekarang katakan! Siapa anak kecil yang sedang bersama mu saat ini?? Kenapa wajahnya begitu kucel? Sangat terlihat begitu kurus. Siapa dia Ali?? Anak siapa?!''


Ali tersenyum, ia menoleh pada Gading. Gading masih menatap Maka Alisa dan sang Mami sambungnya. Ali mengusap surai hitam Ali yang kemerahan.


''Namanya Gading Jaber Al Basri. Putraku Mak!''


Deg!


Deg!


Deg!


''Apa?!''

__ADS_1


__ADS_2