Penantian Kinara

Penantian Kinara
Tamu dirumah Papi dan Mami.


__ADS_3

Cukup satu jam setengah saja saat ini mereka semua sudah tiba di komplek perumahan Indah Permai.


Rumah kenangan kedua orang tua mereka dari sejak belum menikah hingga sudah menikah.


Ke empat orang didalam mobil itu mengernyitkan dahinya saat meliat sebuah mobil yang terpakir dihalaman rumah sang papi.


Sebuah mobil yang sangat Lana dan Kinara kenali. Mobil yang pernah Lana lihat saat akan kembali bertugas ke Papua dulunya.


Begitu pun dengan Kinara. Mobil yang sama terakhir kali ia lihat dirumah lana dulunya.


Semua orang itu pun turun dari mobil dan berdiri mematung dihadapan rumah sang Papi. Lana dengan segera memegang tangan Kinara.


Seolah ia tau apa yang terjadi di dalam sana. Gading pun demikian. Ia ikut berdiri di sebelah Kinara dan memegang tanagn Kinara yang kini terasa begitu dingin.


Begitu pun dengan wajahnya. Dingin dan datar. Kinara menghela nafasnya.


Baru berdiri di depan teras saja sudah terdengar gelegar tawa membahana di dalam rumah itu.


Seolah tau, semua anak-anak itu pun terdiam mematung di depan kedua orang tuanya.


"Dengarkan Mami baik-baik. Jangan membuat rusuh di dalam sana. Dan jangan ikut campur dalam urusan orang tua. Kalian semua cukup diam, Paham?" tegas kinara dan diangguki oleh anak-anak itu.


"Baik, Mami." sahut mereka semua serempak.


"Ayo, kita masuk!" ajak Lana pada semuanya


Malda yang berada di depan segera menuntun semua adiknya.


"Assalamu'alaikum.." ucap Malda dan membuat semau orang yang sednag tertawa itu menoleh pada mereka semua.


Deg!

__ADS_1


"Adam,"


"Kinara!" ucapa kedua orang yang saling bertatapan itu.


Mami alisa dan Papi gilang tersenyum melihat yang ditunggu-tunggu sudah hadir disna. Ia pun bangkit dan mendekati Kinara ingin membawa nya dududk bersama nya disana.


"Waalaikum salam.. Masuk nak. Ini dia tamu yang Papi ceritakan kemarin. Ayo, duduk disana bersama kami," kata Papi Gilang dengan segera ia ingin membawa Kinara kesana


Tetapi Kinara bergeming. Tangan kedua saudara itu semakin erat bergenggaman.


Papi gilang menatap Lana dengan mata menyipit tajam. "Lepaskan adek, kamu Bang!" tegas Papi Gilang pada Lana


"Nggak akan! Adek akan duduk bersama Abang!" sahutnya tak kalah tegas dari sang Papi.


Mata keduanya bersitatap dengan tajam.


Lepaskan Lana!


Nggak akan!


Nggak akan! Atau kami akan pulang!


Papi Gilang yang sudah terpancing emosi, ia akan melayangkan tangannya ke Lana.


"Hentikan Papi! Kenapa? Kenapa Papi lakukan ini? Papi ingin membuat Adek bahagia tapi tidak dengan cara seperti ini. Papi ingin Adek bahagia tetapi Adek mendapat luka. Apa yang Papi lakukan ini sama saja membuatku terluka! Tidak cukupkah luka yang selama ini aku dapat, hingga Papi ingin menambah nya lagi?"


Tangan Papi Gilang turun ke bawah setelah mendengarkan ucapan Kinara. Mami Alisa terdiam. Ia tidak tau harus membela siapa saat ini.


Di satu sisi suaminya. Dan satu sisi anak-anaknya. Ia jadi serab salah.


Mami Alisa menghela nafasnya. "Ayo, masuk dulu. Kita bicarakan dengan baik-baik. Kamu duduk Pi. Kamu juga Bang. Ini lagi kenapa pada berdiri di pintu sih? Ayo kak. Bawa semua adek kamu keruang tivi," ucapnya pada Malda

__ADS_1


Dan diangguki oleh mereka semua. Mereka pun menuju ke ruang tivi. Mereka pun duduk disana.


"Abang?"


"Hem?" sahut Gading dengan menatap mata polos Alkira


"Om itu siapa sih? Untuk apa dia kesini? Dan Apakah Om itu yang akan menggantikan Papi kita?"


Gading terkekeh, "adek mikirnya kok gitu banget sih? Nggak akan ada yang akan menggantikan posisi Papi kita, paham?" jawab Gading dengan tegas sembari menatap pada si biang rusuh itu.


Adam dan Ijal. Duo lelaki perusuh dan pembuat onar di dalam rumah mereka.


Tiba-tiba saja jam yang ada di tangan Gading berkedip dan berbunyi.


Tit.


Tit.


Tit.


"Papi!" serunya dalam hati sambil menatap kedua adik kembarnya yang kini sedang tersenyum lebar kepadanya.


Jam yang mereka kenakn pun berbunyi dan mengeluarkan warna pelangi.


Begitu pun jam yang dikenakan oleh Alkira. Jam itupun menujukkan warna pelangi.


Ketiga anak lelaki itu tersenyum lebar saat menyadari sesuatu dan hanya mereka saja yang tau.


Mereka pun mengangguk bersama. Dengan bibir terus menyunggingkan senyum lebar.


Sementara di ruang tamu, suasana disana begitu dingin dan mencekam. Begitu dingin dan menusuk.

__ADS_1


Hawa yang sangat menakutkan untuk berada di dalam ruang tamu itu.


__ADS_2