Penantian Kinara

Penantian Kinara
Dingin


__ADS_3

Mereka masih di jalan, saat hujan turun dengan derasnya. Nara tertawa kala merasakan jika tubuh Ali semakin tegang karena perlakuan nya.


''Diem Dek! Ini masih dijalan! Bahaya! Jangan di gelitiki ih!''


Nara tidak peduli. Ia masih saja mencubit pinggang Ali.


Sementara Ali semakin kegelian saat Nara menggelitik pinggang nya. Sebenarnya bukan di gelitiki, tapi sekedar cubit cubitan. Nara sangat heran dengan kelakuan Ali tadi.


Walau disana sangat terlihat jika Ali tidak meladeni gadis yang berprofesi sebagai guru itu. Tapi Nara tetap kesal Melihat nya.


''Ck! Udah sayang! Hentikan ih! Abang geli dek!'' tegur Ali lagi.


Nara menulikan telinganya. Ia semakin gencar mencubit-cubit halus pinggang Ali. Ali semakin kegelian. Sesekali menggeliat kecil sambil terkekeh geli.


Dengan sangat terpaksa, ia membelokkan stir motornya ke arah halte yang masih kosong. Tidak ada siapa pun disana. Dengan segera Ali mengentikan tangan Nara yang masih mencubit pinggang nya.


''Hentikan sayang. Dengarkan dulu ucapan Abang. Baru setelahnya kamu mau marah atau apapun, Abang siap!'' tegas Ali pada Nara.


Mata itu menatap lembut pada Nara. Bibir Nara mengerucut sebal. Ali terkekeh lagi. Seharusnya ia marah pada Nara. Tapi tak bisa. Mata puppy eyes Nara begitu menggemaskan.


Dengan segera ia memeluk tubuh chubby Nara. Ia mengusap kepala yang tertutup hijab itu dengan sayang.


''Sayang.. Abang itu tidak ada apapun dengan nya. Guru itu tiba-tiba datang saat Abang sedang sibuk membaca novel di aplikasi yang sering kamu baca melalui ponsel Abang. Beneran! Nih, periksa. Kalau kamu tidak percaya!'' kata Ali pada Nara sembari menyerahkan ponselnya kepada Nara.


Nara menatap Ali dengan sendu. Ali mendekap lagi tubuh itu. ''Nggak akan ada yang lain sayang.. cuma kamu! Abang nggak mau yang lain..'' lirih Ali, masih berusaha menenangkan Nara.


''Kita pulang ya? Udah mau maghrib juga. Ayo!''


Nara menurut, walau wajah itu masih sendu. Ali tersenyum, ia mengusap wajah Nara dengan sayang.


Hujan yang tadinya gerimis kini semakin deras. Mereka berdua menerobos hujan dengan menggunakan mantel hujan yang sudah Ali siapkan.

__ADS_1


Tiba dirumah, mereka berdua begitu kedinginan. Ali dan Nara masuk melalui pintu samping. Yaitu pintu garasi penghubung dengan pintu dapur.


''Adek masak dulu ya Bang?'' kata Nara pada Ali.


Akhirnya ia buka suara juga setelah tadi berdiam selagi di jalan pulang. Ali tersenyum. ''Ya, tapi nggak ganti baju dulu kah??'' tanya Ali kebingungan.


Karena melihat Nara masih memakai seragam sekolahnya. ''Keburu laper Abang! Adek dadar telur aja deh. Itu yang lebih cepat. Tadi pagi sebelum pergi, adek udah masak nasi kok. Ya? Abang duluan aja. Nanti adek nyusul setelah dadar telur nya.'' katanya pada Ali.


Ali tersenyum dan mengangguk. Ia berlalu masuk ke kamar dan mandi sekali lagi. Ck. Dasar Nara. Ali terkekeh mengingat sisi lain dari Nara yang begitu nakal terhadap nya dalam hal menggelitik pinggang nya.


Siapa yang tidak marah coba? Jika kita melihat orang yang kita cintai sedang berbicara dengan orang lain. Jangankan dengan seorang guru. Dengan sepupu saja, rasanya tidak menyenangkan.


Ali terkekeh kala mengenang kelakuan Nara. ''Ternyata istri kecilku itu cemburu!'' lagi da lagi ia terkekeh.


Sementara Nara saat ini baru saja selesai mendadar telur untuk makan malam mereka. Setelah siap, Nara masuk ke kamar nya untuk mandi.


Baru saja Nara masuk saat Ali baru juga selesai mandi. ''Mandilah. Abang udah siapkan air hangatnya.'' kata Ali pada Nara.


Gadis ayu mirip Annisa itu tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia pun berlalu masuk ke kamar mandi. Cukup sepuluh menit saja, Nara sudah keluar dengan handuk putih membalut tubuhnya.


Ia masuk kembali saat melihat Nara sedang sholat dengan khusyuk. Ia menunggu sebentar sampai Nara selesai sholat. Setelah selesai, Nara melipat kembali mukenah nya dan berbalik.


Ia tersenyum saat Ali kuat tersenyum padanya. ''Sudah selesai? Ayo, kita makan! Abang sudah lapar sekali!'' kata Ali pada Nara.


Nara tertawa. Dengan segera istri kecilnya itu bangkit, dan langsung saja di gendong oleh Ali untuk menuju dapur mereka. Sepanjang jalan ke dapur mereka tertawa bersama.


Tiba di dapur Ali menurunkan Nara di meja makan. ''Nasinya udah Abang dinginkan tadi saat kamu sholat. Ayo, kita makan.''


''Ya. Sedari tadi perut adek udah lapar!''


''Iyakah?? Bukannya tadi kamu sedang marah sama Abang?'' Nara mencebik

__ADS_1


Ali terkekeh. ''Abang tidak ada apapun dengan nya sayangku! Kamu salah paham sama Abang! Abang tau, kamu cemburu kan pada guru mu itu??''


Nara melengos. Ali tertawa. ''Benar dugaan Abang! Kamu cemburu!'' kata Ali lagi sambil terus tertawa.


Nara tidak peduli. Ia sibuk mengambil nasi dan ia letakkan di hadapan Ali. Ia juga membuat teh jahe untuk sang suami karena tadi mereka hujan-hujanan.


''Terimakasih sayang! Makin cinta deh!'' celutuk Ali sembari mengedip kan sebelah matanya.


Kedua nya tertawa bersama. Makan berdua di suasana hujan sambil suap-suapan. Bagi pengantin baru seperti mereka, hal yang mereka lakukan berdua ini begitu romantis.


Selesai makan, Nara mencuci piring westafel. Ali mengikuti nya. Bukan membantu, tapi ia memeluk tubuh Nara dari belakang. Tangan itu sesekali nakal, membuat Nara tertawa.


''Bbrrrrrr.. dingin sayang! Masuk yuk?'' ajak Ali pada Nara.


Nara mencebik. Ia tau arti dingin yang Ali maksud. ''Dasar kang modus!''


Ali tertawa. ''Mana ada Abang modus sayang. Beneran! Ayo ih! Abang kedinginan ini. Mana badan Abang pegel semua lagi!'' kata Ali seraya mengangkat tubuh Nara ala bridal style secara tiba-tiba membuat sang empu terkejut.


''Kyaaaaaa...'' pekik Nara begitu takut saat tiba-tiba tubuh rampingnya di angkat paksa oleh Ali. Dan dibawa langsung ke kamar mereka berdua.


Tiba di kamar, Ali membaringkannya di ranjang. ''Sekarang, adek harus pijat badan Abang! Pegel ini! Ayo, cepetan! Nanti kita gantian!'' kata Ali menggoda Nara.


Nara mencebik lagi. ''Nggak mau gantian! Abang itu jangan modus! Sama kayak bang Lana! kalian berdua itu cocok dan klop!''


Ali tertawa. Walaupun Nara berkata demikian, tapi ia tetap memijat tubuh belakang Ali yang memang benar-benar pegal. Akibat perjalanan jauh dari beberapa hari ini, ia lah yang menyupir mobil Lana. Rekan sekaligus Abang iparnya itu.


''Hahh.. nikmat nya pijatan kamu Sayang! Kalau Abang terlelap, kamu jangan marah ya? Abang ngantuk banget ni. hoaammm..'' ucap Ali dengan menguap.


Nara terkekeh kecil. ''Iya. Istirahat lah. Kalau udah isya, adek bangunkan.''


''Terimakasih sayang...''

__ADS_1


''Sama-sama Abang...'' jawab Nara. Tangan halus itu dengan segera memijat punggung Ali yang memang terasa sakit.


Hingga tanpa sadar, Ali terlelap. Nara tersenyum. Ia pun memilih untuk duduk menyender sambil menunggu waktu sholat isya tiba.


__ADS_2