
Setelah perdebatan di malam itu, Arfan tidak pernah lagi muncul dihadapan Ali dan Kinara. Ia pun sudah jarang bertemu dengan Abi Husen walau hanya sekedar menyapa saja.
Dua Minggu sudah berlalu. Hanya tersisa lima belas hati lagi dari hati yang akan ditentukan untuk kembali bertugas.
Kinara belum tau akan hal itu. Saat ini mereka sudah pulang kerumah mereka di Medan. Mereka baru saja tiba dirumah tadi malam pukul satu dini hari.
Sempat Lana mengintip mereka. Ia pikir maling. Tetapi setelah tau jika itu Ali yang baru pulang, Lana bisa bernafas lega.
Dan sepagi ini Lana sudah bertandang kerumah Nara. Ia duduk di dapur bersama Ali yang sedang membantu nya memasak sarapan pagi.
Lana bingung harus ngomong apa. Sedang Ali diam saja. Ia tidak ingin ikut campur dalam masalah adik kakak itu. Ali ingin pergi tadi, tetapi Kinara melarangnya.
''Abang duduk di luar aja ya? Nggak enak sama Abang. Nanti dikira Abang sengaja ingin tau lagi.'' Ucap Ali memberi pengertian pada Nara.
Nara menatap datar padanya. Ali menghela nafas. ''Sayangku.. dengarkan Abang-,''
''Jika Abang tidak bersama ku maka aku pun tidak ingin bertemu dengan bang Lana!''
Deg!
Ali menghela nafas pasrah. Entah kenapa saat ini Nara sangat sulit di bujuk jika mengenai Lana dan Maura.
Ali berulang kali menghela nafasnya. Ia melihat Lana yang kini sedang menatap adek kecilnya itu sedang masak nasi goreng seafood kesukaannya.
Ada balado telur, ayam goreng Kalasan dan juga tempe goreng crispy. Itu yang Nara ingin makan saat ini. Entah kenapa Lana pun menginginkan hal itu.
Ingin sekali ia meminta walau sepotong saja. Tetapi tidak berani karena melihat wajah Kinara yang dingin padanya.
Ali menyikut kaki Lana membuat Lana terkejut. Ia menoleh pada Ali, sedang Ali menyuruhnya berbicara melalui kode mata darinya. Lana mengangguk.
__ADS_1
''Sayang...'' panggil Lana.
Nara berbalik dan menyerahkan sepiring tempe goreng crispy itu dihadapan Lana. Lana berbinar senang.
''Sebelum berbicara itu isi dulu perut dengan makanan. Berbicara pun butuh tenaga bukan?''
Deg!
Lana yang baru saja menggigit sedikit tempe goreng crispy itu berhenti karena mendengar ucapan Kinara.
Ali terkekeh, ia mengambil juga tempe itu dan memakan nya. Sambil tangan terus sibuk mengiris bawang merah, bawang putih, dan daun seledri.
Sudah banyak yang ia kerjakan tetapi selam itu juga tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Ia tidak peduli. Tugasnya itu cuma membantu istrinya memasak.
Lana menatap punggung Kinara yang terus menggoreng tempe goreng crispy itu. ''Abang minta maaf karena kelakuan Abang padamu. Bukan maksud Abang membuatmu seperti itu. Abang tau.. Abang salah karena telah mengabaikan mu. Maafkan Abang sayang..'' lirih Lana dengan wajah menunduk.
''Sudah, ini sudah siap semua! Mau di goreng sekarang?'' tanya Ali pada Kinara sembari menyodorkan sepiring bawang yang sudah ia iris tadi.
''Ya, Abang jangan pulang dulu. Nanti bawakan nasi goreng ini untuk keponakan ku. Malda. Jika Malik dan Zia kan belum bisa makan yang beginian?'' ujarnya pada Ali dan Lana
Lana mengangguk pasrah. ''Makan saja tempe nya Bang! Enak loh.. sudah seminggu ini Nara sering sekali menggoreng ini setiap pagi. Mulai dari Bandung hingga pulang kerumah. Hahaha.. tapi enak sih!'' kata Ali pada Lana.
Lana tersenyum tetapi hatinya masih belum tenang karena tidak melihat adiknya itu ingin berdekatan lagi dengannya.
''Kamu kenapa menjauh dari Abang, dek? Tidakkah kamu ingin Abang peluk lagi kayak dulu-dulu?''' batin Lana dengan mata masih menatap Kinara yang sedang menggoreng bawang goreng untuk ia masukkan ke dalam nasi goreng yang baru saja masak.
''Bukan adek tidak ingin memeluk Abang. Tetapi bang Lana adek yang dulu sudah berbeda dengan bang Lana adek yang sekarang. Abang bukanlah bang Lana adek lagi. Abang kini sudah menjadi milik orang lain. Sama seperti ku yang sudah menjadi milik bang Ali.
Aku tidak marah padamu. Tetapi rasa kecewa itu begitu bercokol dihatiku. Aku memaafkan mu. Tetapi untuk melupakan caramu yang mengabaikan ku dan lebih mementingkan istrimu, aku kecewa.
__ADS_1
Kalaupun kita berbaikan semua itu tidak akan sama lagi. Kalaupun suatu saat aku mendapatkan masalah, pastilah kamu menolongku. Tetapi tidak seperti dulu. Mulai sekarang, aku harus belajar mandiri dan hidup sendiri. Tanpa bantuan darimu.
Karena ku tau, jika saudara lelaki sudah memiliki keluarga maka ia akan berkurang perhatian nya. Baik kepada ibu maupun terhadap adik-adik nya.
Tak apa. Aku ikhlas. Aku tidak menjadikan bang Ali seperti itu. Maka dari itu, aku menyuruhnya untuk lebih dulu mendahului ummi Siti, Abi, dan adik-adiknya. Baru kemudian aku.
Aku orang terakhir yang dipenuhi keinginan nya. Karena akulah orang yang akan terus bersama nya hingga kami menua nanti.
Terimakasih Bang Lana. Karena kejadian dua Minggu yang lalu, kamu sudah membuka mataku. Bahwa aku harus mendahulukan mana yang harus di dahulukan dan mana yang di akhirkan.
Aku sadar. Seorang istri itu akan berdosa jika ia mengikat suaminya dan tidak boleh memperhatikan seluruh keluarga nya. Kita harus ingat, sebelum suami kita bersama kita, suami kita terlebih dahulu bersama keluarga nya.
Maka dari itu. Penuhi dulu keinginan keluarga dalam artian perhatian dan kasih sayang. Baru setelahnya istri. Aku tidak mau di katakan istri yang tidak tau diri dalam hal ini.
Maka dari itu aku menyuruh bang Ali untuk mengutamakan kedua orang tuanya, saudaranya baru setelahnya aku. Dan terbukti.
Keluarga bang Ali sangat baik padaku. Mereka bahkan menghargai setiap perbuatan ku. Kuncinya ada pada kita wanita yaitu seorang istri.
Terimakasih bang Lana. Karena mu aku tau tugasku sebagai seorang istri yang tak hanya di kasur saja.'' Batin Kinara
Lana menatap nanar pada punggung kecil itu. Ia pasrah. Ia pun sadar. Semua itu karena salahnya. Hingga membuat sang adik menjadi kesal dan kecewa karena kelakuan nya.
💕
Oke deh, sambilan nunggu adek Nara update, mampir dulu yuk kesini. 👇
Noh, cus kepoin!
__ADS_1