Penantian Kinara

Penantian Kinara
Ada apa dengan mereka?


__ADS_3

Satu Minggu sudah berlalu Maura semakin uring-uringan tidak menentu karena tidak mendapat kabar dari Lana sama sekali. Begitu juga dengan Mak Alisa.


Ponsel wanita paruh baya itu selalu tidak terhubung. Maura semakin gelisah saja. Nara berulang kali membujuknya agar tidak khawatir, namun tetap saja Maura semakin uring-uringan saja.


''Sudah kak .. makan dulu ayo. Abang kan lagi bertugas. Bisa jadikan disana susah signal?? Mereka di Papua kak. Di dalam hutan. Abang aja kalau mau ngomong sama adek, terpaksa harus pergi ke tempat yang memilki signal dulu. Ayo, kakak duduk atau adek pulang!'' tegas Nara membuat Maura berhenti berjalan mondar mandir. Ia menoleh pada Nara yang saat ini sedang menatapnya dengan raut wajah tegas.


''Baiklah..'' sahutnya begitu lesu.


Nara tersenyum. ''Semoga Abang cepat sembuh. Lindungi Abang ku dan juga suami ku ya Allah..'' lirih Nara dalam hati.


Dari matanya begitu tersirat rasa khawatir. Maura tau itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa pun. Karena jika Nara sudah bersikap tegas, ia seperti melihat Mami Alisa di dalam dirinya.


Dengan sangat getir ia menelan makanan yang ia inginkan tadi. Dan Nara pun sudah memasak untuknya. Ia tidak mungkin mengecewakan adik iparnya yang telah rela memasak kan makanan keinginan nya itu.


Maura menelan makanan itu dengan rasa hambar dan tercekat di tenggorokan. Namun, tetap ia paksa tekan Deni sang adik ipar.


Sedangkan di Papua sana, saat ini Lana sedang bersiap dan ingin bertugas kembali ke perbatasan. ''Sudah siap??'' tanya Ali pada Lana.

__ADS_1


Lana mengangguk. Wajah itu begitu datar saat ini. ''Ayo!'' ajaknya.


Ali mengangguk, ''Ayo, dua Minggu ke depan kita akan sulit memegang ponsel. Apakah Abang sudah menghubungi Kak Maura?? Kasihan kak. Pasti saat ini ia sedang gelisah menunggu kabar dari Abang.''


Lana menghela nafasnya. ''Aku tidak bisa menghubungi nya, Ali. Maura kekuatan sekaligus kelemahan ku. Ku harap kamu mengerti. Ayo!'' ucapnya pada Ali dengan segera berlalu menuju tempat mereka bertugas.


Sedang Ali hanya bisa menghela nafasnya. ''Maaf sayang .. Abang sudah berusaha. Tapi tetap saja bang Lana tidak mau berbicara dengan nya. Maafkan Abang sayang..'' lirih Ali dalam hati.


Kakinya terus berjalan mengikuti langkah tegap Lana. Tidak menoleh kemana pun dan tetap lurus ke depan. Hari ini sampai dua Minggu ke depan, mereka tidak akan memegang ponsel sedikitpun.


Tugas yang mereka pikul kali ini begitu berbahaya. Nyawa taruhannya dalam masalah ini. Lana dan Ali hanya bisa pasrah saat tugas ini menunjuk mereka. Karena ini adalah tugas negara yang wajib mereka ikuti. Karena mereka merupakan Andi negara.


Dan saat ini, mereka akan pergi ke perbatasan lagi. Ingin memberantas musuh mereka yang begitu nekad ingin melarikan diri dari jalur hutan belantara.


Lana dan Ali yang sudah terbiasa menghadang musuh dan juga keluar masuk hutan, akhirnya di panggil kembali tiga Minggu yang lalu.


Semua itu atas permintaan dari Papinya ibu Amanda. Jendral Sudirman yang memanggil mereka lagi. Karena selama ini ia sudah tau seperti apa sepak terjangn Lana di dalam hutan belantara saat menghalau dan menyergap para penyusup ilegal itu.

__ADS_1


Dan hari ini setelah satu Minggu berada dirumah sakit, akhirnya Lana bertugas kembali. Semua ini demi bakti dan tugasnya.


Sedangkan Mami Alisa dan Papi Gilang sedang dalam perjalanan menuju ke Medan. Mereka akan tiba nanti malam pukul tujuh. Algi yang akan menjemput mereka di bandara Kuala namu. Di temani oleh supir mereka.


Pukul tujuh malam. Pesawat dari Papua mendarat di kota Medan dengan selamat. Mami Alisa dan Papi Gilang turun dengan segera saat melihat Algi sudah menunggu mereka berdua.


''Assalamu'alaikum, Mami, Papi!'' sapa Algi sembari mendekati kedua orang tuanya itu.


''Waalaikum salam.. ayo. Kami harus kerumah kakakmu. Pasti saat ini mereka berdua sedang sangat khawatir. Tiara tak apa kan kamu tinggal tadi??'' tanya Mami Alisa pada Algi.


Algi tersenyum dan menggeleng. ''Tiara sudah bisa tinggal sendiri, Mi. Lagipun kan ada satpam disana?''


Mami Alisa dan Papi Gilang mengangguk setuju. Kemudian mereka dengan segera berangkat pulang menuju kediaman Maura untuk melihat keadaan menantunya itu.


Di sepanjang perjalanan, Algi banyak bertanya. Tapi hanya disahuti dengan sepatah dua kata saja oleh Mami Alisa. Tidak dengan Papi Gilang.


Papi Gilang lebih banyak diam setelah pulang dari Papua. Menjenguk Lana. ''Ada apa dengan mereka berdua? Kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu disini??''' gumam Algi dalam hati.

__ADS_1


Ia memandang dua paruh baya beda usia itu dari kaca spion depan. Ada yang aneh. Tapi entah apa. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan kedua abang nya itu. Eh, Lana aja maksudnya.


Sedang Ali kan adik iparnya?? Hadeeeuuhh ... umur tua dipanggil adik ipar. Sedang dia di panggil Abang. Ck. Algi menggelengkan kepalanya. Hadeeeuuhh...


__ADS_2