Penantian Kinara

Penantian Kinara
Adopsi


__ADS_3

Selesai dengan urusan belalai gajah, kini Gading sedang di obati lukanya oleh dokter khusus untuk para prajurit tentara.


''Sudah. Sebaiknya.. anak ini harus di bawa kerumah sakit besar untuk mengobati luka dalam dan juga psikisnya. Jika terlalu lama maka akan berakibat fatal pada keberlangsungan masa depannya!''


Deg!


Deg!


''Apa maksud mu Mutia??'' tanya Ali pada dokter Mutia.


Dokter yang sama selama dua tahun ini selalu mengikuti Lana dalam bertugas. ''Ya. Gading mengalami luka parah pada saluran penghasil masa depan nya. Kamu harus segera bertindak jika ingin Gading selamat! Bawa dia kerumah sakit hari ini juga. Aku melihat alat produksi nya terluka parah. Jika tidak segera di obati maka akan berakibat fatal padanya. Salah satunya...''


''Apa??''


''Impoten!''


Ddduuaaarrr...


Serasa runtuh dunia Ali. Ia terkejut bukan main. Begitu juga dengan Lana. Gadis cantik berhijab sebaya Maura itu belum menikah hingga saat ini karena begitu mencintai seseorang.


Cinta dalam diamnya membuat ia tidak ingin menikah dengan siapapun. Dan kemana pun pemuda itu pergi, maka ia pun akan mengikuti nya.


''Gading tidak bisa dirawat disini. Ia harus dibawa kerumah sakit! Rumah sakit dengan fasilitas lengkap. Dan itu hanya dapat di Jakarta dan Singapura. Kamu harus mengobatinya segera jika kamu ingin menyelamatkan nya!''


Deg!

__ADS_1


Deg!


Serasa dihantam palu Godam, hati Ali begitu sakit saat melihat putra angkat yang baru beberapa jam ini ia rawat ternyata begitu terluka parah. Bahkan tanah kuburan Abi nya pun belum kering.


''Ya Allah.. apa yang harus aku lakukan?? Bang??'' kata Ali pada Lana. Ia menatap Lana dengan mata berkaca-kaca.


Lana mendekati Ali dan mengusap bahu Ali untuk menenangkan nya. ''Satu-satu nya cara agar kamu bisa membawa pulang Ali ke Medan, hanya dengan mengadopsi nya. Kita harus mengurus surat adopsi Gading sebelum keluar dari tanah Papua ini. Dan itu pun terjadi saat masa tugas kita sudah memasuki satu tahun lebih dua bulan. Dan saat itulah kita bisa pulang ke Medan.''


Tubuh Ali merosot seketika saat mendengar penjelasan Lana. ''Jadi.. aku tidak bisa membawanya pulang ke Medan sekarang Bang??''


Lana menggeleng, ''Maaf Ali.. ini keputusan dari sana. Kita tidak bisa membantah keputusan ini. Untuk sementara Abang hanya bisa menyarankan mu untuk merawat Gading disini saja. Rawat dia dengan baik. Dan berikan kasih sayang padanya. Jangan biarkan dia sendiri. Mutia.''


''Saya Bang.''


''Baik, aku akan melakukan sebisaku. Selebihnya hanya Allah yang yang bisa memutuskan nya.''


Lana tersenyum, sedang Ali menatap nanar pada Putra kecilnya itu yang baru beberapa jam ia angkat menjadi putra.


''Ali..'' panggil Lana.


''Kita harus mengurus surat adopsi Gading. Hanya kurang dari setahun saja maka kita akan kembali ke Medan dan mengobati Gading. Besok, aku akan mengabari Nara tentang hal ini.''


Lana tersenyum, ''Ya. Kamu harus mengabarkan hal ini. Kita berdua harus keluar dari camp menuju ujung bukit sana agar bisa berbicara dengan Keluarga kita. Entah mengapa aku merasa jika Maura saat ini pasti sudah melahirkan. Anakku...''


Deg!

__ADS_1


Deg!


Dokter Mutia menggigit bibirnya untuk menahan rasa sesak yang sedang mendera dirinya. Ia tau, ini salah. Tapi ia sangat mencintai Lana sedari pertama mereka bertemu dua tahun lalu.


Yang sayang nya Lana sudah menikah dengan pujaan hatinya di kota Medan. Sedang Ia harus menahan rasa cinta itu seumur hidupnya dalam diam.


Ali menghela nafasnya saat melihat Gading yang tertidur lelap dengan kaki mengangkang. Karena luka di bagian an** nya di obati oleh Mutia tadi.


Sempat bocah kecil itu menangis karena merasakan perih nya obat yang masuk ke lubang pembuangan air besar yang sudah membengkak itu.


Gara-gara ulah orang berkulit hitam yang menyukai anak laki-laki dibawah umur untuk menjadikan sasaran pelampiasan naf suu bejatnya.


Ali begitu sedih Kala mengetahui jika saluran pembuangan air kecil Gading pun ikut terluka. Belum lagi seluruh tubuhnya yang dipenuhi luka lebam.


Dan yang lebih menyakitkan lagi, jika Gading di vonis mandul. Tidak bisa memilki keturunan. Karena kandungan tempat menghasilkan bibit unggul nya terluka parah.


Ali menangis di sisi bangkar Gading. Gading terjaga saat merasakan tangan Ali yang bergetar karena menangis sambil memeluknya.


''Ya Allah.. kasihan sekali putraku.. apa yang bisa aku perbuat untuk bisa menyembuhkan nya? Hiks.. sayang.. Abang butuh kamu. Abang harus lakukan apa pada putra kita?? Kinara...'' lirih Ali sambil memeluk tubuh Gading.


Mata bocah kecil itu pun ikut mengembun. ''Papi.. papi sangat baik padaku.. semoga kelak, Abang bisa menjaga mereka berdua. Mami.. seperti apapun Mami disana, Abang sangat ingin melihat wajah Mami untuk pertama kalinya. Wajah seseorang yang akan membuat Abang selalu tersenyum dan tertawa. Begitu kata Abi dulu. Ya Allah.. jika boleh Abang meminta.. sembuhkan lah Abang.. agar Papi tidak bersedih lagi. Abang sayang Papi Ali.. sangat sayang... Abang sayang Papi..'' lirih bocah kecil itu sambil membalas pelukan tangan Ali.


Ia merasakan kehangatan pada diri Ali sebagai Papi angkat nya. Begitu pun dengan Ali. Entah perasaan dari mana, Ali merasakan jika hubungan nya dengan Gading bukan hanya sekedar putra angkat saja. Tapi lebih dari segalanya.


Seperti sudah terhubung dan begitu dekat dengan nya.

__ADS_1


__ADS_2