Penantian Kinara

Penantian Kinara
Bersama kita teguh, bercerai kita rubuh


__ADS_3

"Bangun Nak. Ayo makan dulu baru setelah ini kamu katakan apa yang sebenarnya terkadi. Ayo!" ajak Mami Alisa sebagai jalan penengah diantara mereka semua.


Lana yang masih tersedu tidak sekalipun ia ingin melepaskan putri kecil yang selalu membuatnya tertawa dikala ia ditinggal nikah oleh Maura. Yang ternyata tidak jadi itu.


Kinara memegang lengan Lana. Ayo Bang. Kita makan dulu. Baru nanti adek ceritakan. Inilah yang kami tidak inginkan jika Abang tau. Abang pasti akan shock seperti ini. Malda sangat menyayangi Abang makanya ia tidak ingin mengatakan kepergiannya pada semua orang. Ia takut jika Abang kecewa dan terpuruk karena ia harus kembali ke Malaysia." Ujar Kinara dan diangguki oleh Malda yang kini berada di dalam pelukan Lana.


Lana tidak ingin sekalipun melepaskan Malda. Ia takut, jika melepaskan Malda. Maka putri kecilnya itu akan pergi tanpa berkabar padanya.


Malda mendongak melihat wajah sang Papi yang kini begitu sembab. "Kita makan ya Pi? Kakak lapar. Ayo. Kita makan bersama-sama dengan keluarga yang lain. Jangan menangis. Jadikan moment ini sebagai moment terakhir kita bersama. Kakak akan selalu mengingat Papi nanti. Kapan pun Kakak merindukan Papi, maka Kakak akan pulang kesini. Dan begitu pun Papi, ya?" bujuknya pada Lana yang kini sesegukan sambil memeluk dirinya.


Lana tidak malu lagi pada semua orang. Ia dianggap cengeng. Biarlah. Ia tidak peduli. Yang ia pikirkan sekarang ini bagaimana caranya ia harus bisa menahan Malda lebih lama lagi bersama nya.


"Papi?? Ayo!" Ajaknya lagi tetapi Lana bergeming.

__ADS_1


Malda bangkit duluan dan ia yang membantu sang Papi untuk berdiri. Sementara Lana sudah tidak sanggup lagi intuk berdiri.


Kakinya lemas bagai tak bertulang. Dadanya sesak saat melihat senyum teduh putri angkatnya itu.


Lagi dan lagi air mata itu semakin beruraian. Malda dibantu Kinara untuk membawa Lana ke tempat duduknya.


Tiba disana, dengan sigap Malda mengambilkan nasi serta lauk pauk yang Lana sukai. Ia menyuapi sang Papi dengan penuh kasih sayang.


Semua yang melihat itu pun ikut menangis. Mereka bisa merasakan apa yang Lana dan Malda rasakan saat ini.


"Hiks.. Lagi Pi. Kakak tambah ya? Hiks.. Makan yang banyak. Biar Papi kuat dan bisa menolong Kakak nanti jika suatu saat Kakak mendapat masalah.." ucapnya tetisak-isak.


Lana mengangguk dengan mulut terus mengunyah sementara air mata terus saja mengalir.

__ADS_1


Entah berapa sembab sudah wajah tampan itu. "Papi nggak mau kamu pergi, Nak. Tetap disini ya sama Papi?? Kita akan bersama-sama lagi seperti dulu. Papi tidak ingin berpisah darimu. Sedari kecil kamu tidak pernah jauh dari Papi. Papi lah yang mengurus mu. Sejak kamu dilahirkan. Papi yang merawatmu setiap harinya hingga kamu berusia satu setengah tahun. Jangan pergi, Nak. Tega kamu tinggalin Papi?? Hem? Hiks.." ucapnya masih dengan terisak.


Malda menggeleng, "Kakak tetap harus pergi Pi. Tugas Kakak sudah menunggu disana. Kakak mohon.. Ikhlaskan kepergian Kakak ya? Kakak tidak akan pernah melupakan Papi dan juga sekuruh keluarga kita. Kalian segalanya bagiku. Tak kan tergantikan. Kita tidak pernah terpisah Pi. Ingat slogan ini nggak, Bersama kita teguh bercerai kita rubuh."


"Kakak tidak ingin terpisah dari kalian semua. Maka dari itu mari kita bersatu untuk bisa berkumpul lagi seperti ini. Untuk sementara Kakak harus pergi. Papi boleh kok iku Kakak? Lagipun disana Kakak memang membutuhkan Papi. Papi Ali dan Om Fathir! Hanya kalian yang bisa membantu Kakak nantinya. Mau kan ya kalian bertiga menemani Kakak untuk kembali ke Malaysia?"


Lana, Ali dan Fathir yang baru saja bersama sang Istri yaitu Mbak sus Tia kini tertegun mendengar permintaan Malda.


Lana tersenyum dan mengangguk cepat. "Papi akan menemani kamu nanti. Tenang saja. Mari kita makan. Nanti dirumah kita bahas ini bersama Papi Ali!"


Ali mengangguk.


Semuanya bernafas lega saat ini.

__ADS_1


__ADS_2