
"Sudah.. Mami nggak boleh nangis. Kalau Mami lemah, adek pun ikut lemah. Mami jantung rumah ini. Adek mohon.. Mami harus kuat, ya? Adekaja bisa. Kenapa Mami dan yang lainnya nggak bisa? Hidup itu tidak selesai walau satu orang pergi. Kita yang di tinggalkan masih harus melanjutkan hidup bukan? Bukankah yang hidup pun akan mati kelak?"
Lagi dan lagi semuanya tertegun. Kini Gading yang mendekati Kinara. "Hiks.. Mami..." lirihnya dengan terisak dan memeluk erat kaki Kinara.
Kinara melihat ke bawah di mana kakinya saat ini sedang di peluk erat oleh Gading. Ia tersenyum sangat manis sekali. Tidak terlihat raut wajah sendu dan penuh duka. "Dengarkjan Mami sayang. Papi memang sudah tidak ada. Tetapi kamu masih punya Mami, Opa, Oma dan semua Uwak mu. Kamu tidak sendirian Nak. Mari kita pulang kerumah kita. Kita tetap harus melanjutkan hidup walau tanpa Papi kamu. Ya? Kamu dengar? Kamu masih ingin sekolah kan? Masih ingin bersama Mami kan?" tanya Nara pada bocah kecil yang sama kurusnya seperti Kinara saat ini.
Gading mengangguk dan langsung saja mengecup wajah Kinara Hingga membuat Kinara dan yang lainnya tertawa. "Mami jangan lagi kayak kemarin. Abng nggak mau Mmai kayak gitu lagi. Hiks.. Kalu Mmai nggak makan, maka Abang pun nggak akan makann! Hiks.." isak Gading hingga Kinara memeluknya dengan erat.
Ia tersenyum, "Mami janji sayang. Mami akan bersama kamu dirumah. Dan hari ini kita harus pulang kerumah kita. Jangan sedih, kalau kamu sedih. Mami pun akan ikutan sedih?" ucap Kinara dengan wajah sendunya.
__ADS_1
Gading menggeleng, secepat kilat ia mengusap aia mata dan tersenyum manis pada Kinara. Hingga semua orang yang melihatnya pun jadi tertawa karena ulah Gading.
Tetapi tidak dengan satu orang pemuda disana yang menatp nanar padanya. "Abang tau, kamu tidak semudah itu menerima kenyataan Kinara. Abang yakin, pasti ada sesuatu yang membuatmu hingga kamu bisa berubah secepat ini. Tapi tak apa. Melihat mu tersenyum dan tertawa seperti ini sudah mengurangi rasa khawatir di hati kedua orang tua kita. Abang sangat mengenal mu Dek. Kita hidup dan tumbuh bersama mulai dari dalam kandungan Mami. Jadi.. Kamu tidak mungkin secepat itu berubah jika bukan karena sesuatu. Tapi apapun itu.. Semoga kamu bisa kuat dan sabar menanti kepulangan suami mu. Entah kenapa, firasat Abang mengatakan jika suami kamu itu masih hidup? Ini firasat atau apa sih? Kok yang kayak betul aja sih aku ini! Haishhhhh.. Ck!" Batinnya bersungut-sungut sendiri.
Tetapi bibir tipis mirip Papi Gilang itu tersenyum melihat adik serta semua orang yang ada disana. Sebenarnya, dirinya sama juga seperti Kinara.
Tetapi karena keyakinan hatinya yang kuat, maka ia masih bisa hidup dan bernafas hingga saat ini. Padahal istrinya baru saja pergi meninggalkannya yang entah karena apa. Alasan yang tidak logis menurut Algi.
"Tentu nak. Jika kamu tidak bisa kesini. Maka kami berdua lah yang akan kesana. Tak apa. Pulanglah. Papi yakin kamu pasti bisa melewati ini. Kunci nya sabar dan tawakal, itu saja. Jaga kandunagn mu dengan baik. Jika kamu menginginkan sesuatu, kabari Mami, Papi dan abang kamu Algi. Kami siap kapan pun kamu membutuhkan kami," jawab Papi Gilang begitu mantap.
__ADS_1
Hingga membuat Kinara tersenyum haru pada cinta pertama nya itu. Ia mendekati papi Gilang dan memeluknya. Setelahnya, ia mengecup pipi sang Papi dibalas dengan kecupan sayang di dahinya.
"Adek pulang. Ayo Bang, kak. Kita pulang! Motor adek, Abang yang bawa ya?" katanya pada Lana.
Lana mengangguk dan tersenyum, "Tentu. Pulanglah dulu dengan Kakak mu. Abang akan mengikuti kalian dari belakang."
"Oke!" sahut Kinaar denagn segera menggamit tanagn mami dan Ppai dan juga Algi.
Algi menatapnay dengan mata berkaca-kaca. Kinara memeluknya. "Abang nggak usah khawatirkan Adek. Jaga Mami dan Papi. Buat mereka selalu bahagia. Cukup kita sendiri yang merasakan kehilangan tetapi jangan tunjukkan kepada orang lain jika kita sedang terluka, hem?" bisiknya di telinga Algi.
__ADS_1
Membuat Algi memejamkan matanya dan memeluknya semakin erat dibalas erat oleh Kinar