
"Baiklah, Besan. Sebaiknay istirhat dulu malam ini. Besok pagi baru kita lanjutkan lagi obrolan kita yang tertunda. Ayo Mi. Tunjukkan dimana kamar Besan kit!" ucap Papi Gilang pada Mami Alisa
Beliau mengangguk, "Mari Besan! Kita ke kamar. Yang lain juga ya?" kata Mami Alisa pada adik-adik Ali.
Ummi Siti sedari tadi terus saja menatap Kinara. "Emm.. Nak? Ummi boleh tidur sama kamu nggak?"
Kinara tersenyum, "Boleh Ummi. Tapi kita tidak tidur berdua saja. Ada kak Annisa dan juga anaknya di dalam. Mami juga loh.. Apa Ummi mau?"
Ummi siti mengangguk, "Ya. Tak apa Nak. Selama Ummi disini Ummi ingin tidur bersama kamu. Kalau puan kiat satu kamar 'kan lebih bagus? Kamu tidak akan kesepian nanti," jawab Ummi Siti membuat semuanya terkekeh.
"Ya sudah, mari Besan. Untuk para Papi dan kamu Bang. Kalian semau tidurnya di luar. Tak apa kan ya? Karena kamar Gading saat ini sedang di tempati oleh Mbak sus dan juga dan juag si gadis-gadis cantik ini." ucap mami Alisa pada adik Ali yang perempuan.
"tak apa mi. Dimana pun kamu bisa tidur kok. Sudah terbiasa bagi kami berdua." Ujar adik kedua Ali.
Mmai Alisa tersenyum. "Ayo kita masuk. Kakak kayak nya udah duluan deh tadi. Lagi sensian dia saam abang nya!" celutuk Mami membuat semuanya tertawa kecuali Kinara.
__ADS_1
Ia bergegas masuk karena terinagt dengan satu benda peninggalan ali yang Lana berikn padanya tadi.
Kinara masuk duluan ke dalam kamar dan mengambil ransel sang suami yang ia letakkan di dalam lemari.
Mami Alisa pun menngikutinya dan juga Ummi siti mengikuti Kinara yang telah lebih dulu masuk. Sedang kedua adik Ali, Mami Alisa arahkan langsung ke kamar Gading.
Mami Alisa dan Ummi Siti masuk saat Kinara ingin keluar lagi. "Mau kemana nak? sudah malam loh?" tegur Mami Alisa pada Kinara
"Nggak. Adek nggak kemana-mana kok. Adek ingin ke dapur sebentar." Jawab Kinara denagn segeraiangin berlalu.
"ingin ke dapur kenapa ranmsel suami kamu ikut kamu bawa? Ingin kamu cuci akh? Udah malam dek! Udah ah! Besok aja. Ayo, istirahat dulu." Katanay lagi pada LKinara yang semakin jauh berjaln ke dapur. "Mami sama Ummi dluan aja. Nnati adek nyusul kok." sahutnya sudah mengilang di balik pintu dapur.
Tiab di dapur denagn segera Kinar membuak ransel itu.
Deg!
__ADS_1
Jantung Kinara berdebar saat menyentuh kotak beludru pemberian Ali melalui Lana. Tanagn Kinaar bergetar dengan mata yang sudah mengembun.
Kinara mengambil kotak itu dan memeluk nya dengan erat. "hiks.. Abang.. Kenapa sesakit ini kehilanagn mu? Kenapa disaat kabar bahgia datang di dalm ruamh tangga kita, Abang malah opergi meninggalakan ku? Apakaha ku sanggup tanpa mu Bang? Walaupaun yang lain ada bersama ku. Tetap saja hnya kamu yang aku ingin kan.. Bang Ali.. Hiks.. Sakit! Sakit sekali.. Haaa... aaaa.." isak Kinara begitu menyayat hati
Paoi gilang yang curiga dengan gelagat Kinara tadi langsung saja mengikutinya. Setibanya di dapur, ia terkejut melihat Kinara yang bergumam sambil menangis.
"hiks.. Jika bagi orang lain aku terlihat kuat dan tegar itu semua ku lakukan agar keluarga kita tidak bersedih Abang. Tetaoi aku? Hhhatiku tidak bisa ku pungkiri. Aku begitu terluka dan sangat kehilangan mu. Hhhaaa.. aaaa.. Papi.. Mami... Andai kalian tau.. Hiks.. Hhhaaaa,, aaa.. Sangat sakit terasa.. Hingga sulit hiks untuk bernafas! Hiks.. Bang Ali.. Aku terpaksa kuat dan tegar demi anak kita! Hiks.. Aku bisa apa tanpa mu Bang? Aku bisa apa??" isak Kinara yang membuat Papi Gilang tidak sanggup lagi untuk tidak memeluk putra bungsunya itu.
"Sayang.." panggil Papi Gilang dengan segera memeluk tubuh kurus Kinara yang semakin terisak dan bergetar karena menangis.
"Hiks.. Pa hiks.. Pi.. Adek hikss.. Nggak hiks.. Ku uu aatt.." isak Kinara di dalam pelukan Papi Gilang yang kini juga ikut menangis.
Ia tidak menyangka jika sang putri bungsu ternyata begitu rapuh. Saking rapuhnya ia tidak bisa untuk berdiri lagi.
Nara jatuhh ambruk ke lantai bersama Papi Gilang yang juga ikut menangis. Menangisi Ali yang entah dimana keberadaan nya saat ini.
__ADS_1