
Mereka semua tiba dirumah Kinara sudah pukul sepuluh malam. Kinara dan Dokter Andini segera masuk setelah Pak supir yang bernama Herman itu sudah membuka pintu rumahnya.
Kinara membawa mereka masuk.
Pak supir pun ikut masuk. Kinara sengaja membawa serta Pak supir itu karena hanya beliau yang bisa di tugaskan dalam hal ini.
Kinara sangat butuh bantuannya. Dan pak Herman pun bersedia. Beliau bersedia membantu Kinara dalam hal acara Aqiqahan si kembar nanti di sebuah pesantren.
Hanya ia dan keempat anaknya saja. Karena Kinara tau, Lana pun akan mengadakan Aqiqahan untuk kedua bayi kembarnya.
Maka dari itu seluruh keluarga pasti akan di sibukkan dengan perihal aqiqahan anak Lana saja.
Mereka bertiga pun mendapat tugas masing-masing dari Kinara. Sebenarnya Kinara tidak ingin melibatkan dokter Andini dan dokter Erina.
Tetapi mereka memaksa. Kinara terpaksa mengiyakannya.
Pukul sebelas lebih dua puluh menit barulah mereka pulang dari rumah Kinara. Dokter Andini pun sempat memberikan saran untuk Kinara agar mencari Baby Sitter.
__ADS_1
Kinara mengangguk setuju. Ia tidak perlu khawatir lagi dengan biayanya. Karena dapur Kinara selama ini sudah beroperasi dengan baik selama lima bulan ini.
Semua itu atas usaha nya sendiri yang keluarganya pun tidak tau.
Besok pagi salah satu asisten di dapurnya akan datang untuk membahas perihal aqiqahan itu. Dan juga istrinya Pak herman besok subuh akan datang untuk mengurus dirinya.
Untuk malam ini Kinara harus bisa mengurus ketiga bayinya di temani oleh Gading saja. Pak Herman tidak tega melihatnya.
Ia pun berinisiatif, selama baby sitter untuk bayi kinara belum lagi tiba. Ia dan istri yang akan menginap disana.
Hampir saja ketahuan jika Kinara tidak cepat membuka pintu untuk kedua orang itu masuk.
Lana berdiri dihadapan rumah Kinara. "Kamu kemana dek? Apakah kamu sudah melahirkan? Tetapi dimana? Abang sudah mencarimu di seluruh rumah sakit. Tetap saja nama kamu tidak tertera disana. Dirumah sakit Kak ira juga nggak ada? Abang baru pulang dari mencari mu, dek.. Kamu di mana? Abang harus ngomong apa sama Ali, jika suatu saat suami kamu kembali dan mendapati kamu sudah tidak tinggal dirumahnya lagi? Kamu kemana sih dek? Kenapa ponsel mu dan ponsel Ali mati?? Abang harus cari kamu kemana dek?? Hiks.. Kinara...." lirih Lana sembari duduk di depan pintu rumah Kinara.
Sedang Kinara membungkam mulutnya agar tidak terdengar suara isak tangis dari dalam rumah. Kinara berdiri dengan kaki bergetar di belakang pintu itu.
Bu Hasna yang kasihan melihatnya berdiri di dalam ruangan gelap membawa Kinara masuk ke dalam kamar dimana si kembar sudah menangis karena merasakan sang Mami yang kini sedang menangis.
__ADS_1
Lana berdiri saat mendengar suara tangisan bayi. Ia menoleh ke pintu rumah Kinara.
Sepi.
"Tadi ada suara bayi? Tapi kok menghilang? Apa jangan-jangan.. Adek udah melahhirkan? Terus, ia sengaja mengurung diri? Tapi untuk apa? Apakah untuk menghindariku? Atau seluruh keluarga kami? Tapi kenapa?? Kenapa dek? Kamu memang sengaja menghindar dari Abang dan keluarga kita kan?? Kenapa dek? Kenapa??" lirih Lana dengan air mata yang sudah bercucuran deras.
Sementara di dalam kamar, Bu Hasna dan Kinara sedang mendiamkan ketiga bayi itu. Salah satunya di pegang oleh Gading.
Si bungsu. Yang langsung terdiam ketika Gading menyenandungkan sholawat di telinga si bungsu yang cantik itu.
Kinara dan bu Hasna tertegun. Kinara menatap dalam pada kedua orang itu. Sekilas ia mengingat kisah Annisa dengan Bang tama juga duluna seperti ini.
Gading menagis saat melihat bayi kecil itu menangis. Tetapi akan tersenyum saat melihat bayi kecil itu tersenyum padanya.
Kinara terus saja menerka-nerka. Akankah kejadian dari kak Annisa akan terulang kembali kepada anaknya? Jika itu sampai terjadi, akankah keluarga mereka menerimanya?
Kinara sangat senang jika memang jodoh si bungsu adalah Gading. Putra angkatnya dan Ali. Kinara jadi senyum-senyum sendiri saat membayangkan kekocakan dirumah itu jika sampai hal yang sama terjadi pada Annisa sang kakak, akan terulang kembali kepada anaknya.
__ADS_1