
Selesai dengan makan malamnya, kini mereka duduk bersama lesehan di tempat mereka makan tadi. Seluruh hidangan pembuka dan penutup, sudah tidak ada lagi. Lantai itu bersih sekarang.
Hanya ada Malda yang bermain disana. Bocah satu setengah tahun itu sibuk dengan mainannya setelah tadi kenyang makan disuapi oleh Maura ketika mereka makan.
Kini, mereka semua duduk saling berhadapan mengelilingi Lana, Maura, Ali dan Nara. Terutama komandan Kevin.
Melihat atasannya itu Lana merasa jengah dan muak. Terlihat sekali jika wajah itu begitu enggan meminta maaf padanya. Maura menahan tangan Lana sedari tadi agar tidak gegabah.
Lana sangat ingin pergi dari rumah itu sedari selesai makan. Karena pandangan mata seluruh anggota komandan Kevin menatap nya dengan sinis.
Maura sedang menunggu waktu yang tepat. Nara menatap seluruh orang-orang itu dengan tatapan datarnya. Ia tau, jika saat ini mereka semua sedang mencemooh Abangnya. Lana.
''Ehm, Maulana. Saya ingin minta maaf atas perkataan saya tadi siang di kantor Jendral. Maafkan saya, karena telah menuduh istrimu dengan yang tidak-tidak. Saya mohon maaf, karena telah mengatai istrimu. Padahal istrimu tidak seperti itu. Semua ini hanya salah paham. Maafkan saya Maulana.'' Pintanya dengan wajah datar terkesan malas.
Lana, Maura, Ali dan Nara tau itu. Tapi mereka tidak ingin menjawab ucapan komandan Kevin. Mereka berempat dipandang hina disana.
''Ya,'' sahut Lana dengan dingin.
Wajah datar itu begitu kentara terlihat saat ini. Komandan Kevin tersenyum sinis. Maura mengepalkan kedua tangannya.
''Jika anda tidak berniat tulus untuk meminta maaf kepada suami saya, sebaiknya tidak usah meminta maaf yang akhirnya bisa mempermalukan diri anda sendiri.''
Deg!
Deg!
Komandan Kevin terkejut. Sementara Maura begitu geram dengan komandan Kevin yang memandang rendah Suami dan keluarganya. Tatapan mata sinis begitu jelas terlihat. Dan Maura? Tidak suka itu.
__ADS_1
Sekali ini ia ingin bicara sesuai dengan versinya. Kali ini sudah ada perjanjian antara dirinya dan Lana tadi saat mereka belum datang berkunjung kerumah atasan suami nya ini.
''Permintaan maaf yang tulus itu Tidak disertai dengan tatapan sinis. Tapi dengan tatapan tulus langsung dari hati. Saya heran dengan Anda komandan Kevin. Dari dulu hingga sekarang, anda selalu tidak menyukai suami saya. Ada apa komandan? Apakah suami saya pernah mengganggu ketenangan hidup Anda? Sehingga membuat anda selalu saja salah paham kepada suami saya?'' lanjut Maura lagi.
Membuat komandan Kevin yang tadinya masih tersenyum sinis ke arah Lana, kini beralih menatap nya. Komandan Kevin menatap nya dengan tajam. Maura balas dengan tersenyum sinis untuknya.
Bu Amanda yang baru saja tiba dari dapur, terkejut melihat perubahan raut wajah semua tamu di rumah itu. Terutama sang suami. Matanya itu menatap tajam pada Maura dan Lana.
Ia menghela nafasnya. ''Papi... sudahlah. Minta maaf yang tulus padanya. Apakah masa lalu kelam mu belum selesai hingga saat ini? Lupakan! Lupakan semuanya. Aku ingin kita berdamai. Tidak saling bermusuhan seperti ini. Tolong.. demi kesejahteraan keluarga dan hubungan mu dengan nya..'' lirih Ibu Amanda pada komandan Kevin.
Komandan Kevin menatap tajam pada Ibu Amanda. ''Diam kamu! Ini urusanku! Bukan urusanmu! Tugasmu sudah selesai, begitu juga dengan ku. Tugasku meminta maaf padanya sudah aku selesai kan. Apalagi mau mu?'' Ketusnya begitu dingin kepada Ibu Amanda.
Ibu Amanda menunduk. Sakit sekali hatinya, saat sang suami berkata ketus seperti itu padanya. Apa salahnya dalam hal ini. Padahal tujuannya baik. Agar komandan dan prajurit itu bisa akur.
Maura mengepalkan tangannya. ''Sudah cukup kami disini. Ibu Amanda, terimakasih atas jamuan makan malamnya. Sepertinya anda butuh waktu untuk bisa menenangkan diri. Ibu Amanda, terimakasih atas jamuan nya malam ini. Kami permisi untuk pulang. Ayo bang, kita pulang. Assalamualaikum, Ibu Amanda dan komandan Kevin yang terhormat. Semoga kesalahan yang sama Tidak terulang lagi. Karena jika ini terulang lagi, semai itu sudah membuktikan jika Anda memang tidak pantas menjadi seorang pemimpin! Kita pulang!'' Ketus Maura begitu dingin dan menusuk relung hati komandan Kevin.
''Cih! Calon jendral apanya dia?! Pembunuh iya! Ia rela membunuh komandannya sendiri demi ingin menempati jabatan nya! Aku muak selalu berhadapan dengan pria seperti mu! Sedari dulu, kelakuan mu sok Suci! Padahal busuk! Tak ubahnya burung gagak pemakan bangkai. Kau bertemu dengan nya karena ingin memakan dagingnya! Muak aku melihatmu! Jika bukan karena permintaan Papi mertuaku, maka aku tidak akan pernah berbicara sepatah katapun denganmu. Pembunuh berwajah malaikat! Yang tega membunuh seseorang demi mewujudkan keinginan nya!''
Deg!
Deg!
Deg!
Lana dan Maura berhenti di tempat saat mendengar celutukan komandan Kevin yang begitu membuat Lana murka. Tangannya mengepal erat. Ia berbalik dan menghadap pada komandan Kevin. Begitu juga dengan kedua adiknya.
Mbak Sus yang paham, langsung saja membawa Malda keluar. Agar perdebatan orang dewasa itu tidak dilihat oleh anak kecil seperti Malda.
__ADS_1
''Dengar baik-baik komandan Kevin. Saya datang kesini untuk memenuhi undangan istri Anda! Bukan untuk mendengar tuduhan tak berdasar yang Anda tuduhkan untuk saya! Sedari dulu, sudah saya katakan! Bukan saya pembunuh komandan Jaya! Beliau tertembak karena mencoba menyelamatkan korban Anda komandan Kevin! Apakah anda ingin membuka aib anda disini komandan Kevin? Jika itu yang Anda inginkan, maka akan saya lakukan!'' tekan Lana penuh amarah.
Wajahnya saat ini merah padam. Ia mengepalkan kedua tangannya. Maura memegangi kepalan tangan yang begitu erat terkepal itu.
''Bang??''
Lana tidak menyahuti. Hatinya begitu panas setiap kali komandan Kevin menuduhnya seperti itu.
Kejadian sepuluh tahun yang lalu masih berbekas di ingatan nya hingga saat ini. Lana menghela nafas berulang kali. Untuk mengurangi rasa sesak, emosi yang sudah di ubun-ubun.
''Istighfar.. Bang.. jangan biarkan dirimu dikuasai amarah. Jangan mempermalukan diri mu disini. Karena itulah yang dia inginkan!'' bisik Maura begitu lirih di telinga Lana.
Seakan tuli, Lana tidak mendengarkan nya. Wajah nya begitu menakutkan saat ini untuk dilihat. Maura sebagai istri, tidak pernah pernah melihat Lana segitu marah nya akan tuduhan komandan Kevin untuknya.
Komandan Kevin tersenyum sinis melihat api kemarahan yang sudah menguasai dirinya saat ini. Nara bisa mencium aroma perdebatan panjang disini. Ia masih ingin melihat, apakah Lana bisa mengendalikan emosinya seperti yang dulu pernah ia ajarkan kepada Nara saat Nara juga marah seperti Lana saat ini.
''Abang Pasti bisa! Adek percaya sama Abang!'' bisik Nara saat mendekati Lana dan memegang kepalanya tanahnya itu dnwgn erat.
Lana menoleh dan menghela nafas panjang. Walau pun wajah itu masih terlihat dingin sekali, tetapi karena Nara, Lana bisa lebih sedikit tenang.
💕💕💕💕
Gimana tuh, bisa nggak ya bang Lana mengontrol amarahnya??
Apa yang akan Nara lakukan setelah ini??
Ikuti terus kelanjutan nya! 😉
__ADS_1