Penantian Kinara

Penantian Kinara
Surat dari Malda


__ADS_3

Kinara tersedu saat melihat kedua orang itu pingsan ternyata karena kepergian Malda yang tidak berkabar pada mereka semua.


Ali dengan sigap membopong Lana menuju ke ranjang Zia. Sedang Maura dipapah oleh Kinara dan Zia untuk mereka tidurkan di ranjang yang sama dengan Lana tadi.


Malik ingin ke kamarnya ingin mengambil sesuatu tetapi terhenti saat melihat secarik kertas yang tadi berada di tangan Mami nya.


Malik memungut kertas itu dan membacanya dengan sedikit kuat.


Suasana malam yang begitu lengang, membuat suara lirih Malik terdengar oleh semuanya.


"Teruntuk Papi Lana dan Mami Kinara."


Ketiga orang itu mematung saat mendengar suara lirih Malik.


"Maaf.. Jika hanya surat ini sebagai perantara diri Kakak untuk kalian berdua. Kakak tidak ingin merusak hari bahagia Mami dan Papi. Kalian berdua baru saja berkumpul bersama setelah enam tahun terpisah," leher Malik tercekat membaca surat itu.


Pandangan mata itu mengabur seketika dengan dada yang begitu sesak.


"Kakak tidak ingin mengganggu kalian berdua. Maka dari itu, Kakak mengambil keputusan ini sendiri. Kakak harus pergi malam ini juga. Maaf.. Jika kakak pergi tanpa mengabari kalin semua. Terutama mami Kinara dan Paapi Ali."

__ADS_1


Bibir Malik bergetar.


"Kakak tau, jika kalian tadi bertengkar karena kalian berdua tidak ada yang boleh pergi untuk emngantar kakak ke malyasia.."


"Apa? Apa maksudnya itu!" seru Kinara naik satu oktaf karena terkejut dengan ucapan Malik.


"sabar.. Dengar dulu apa yang malda sampaikanselanjutnya. Bacakan saja, Nak." titah Ali pada malik.


Pemuda kecil mirip Lana itu mengangguk pasraha dengan air mata terus bercucuran.


"Bukan maksud kakak Su'udzon. Tetapi Kakak sekilas mendengar pertengkaran kalian berempat. Mami Maura dan Kinara bilang, kalian tidak mau Papi pergi untuk mengantar kakak jika kalian tidak kembali lagi. Cukup sudah selama ini kalian jauh dari Papi. Tetapi sekarang tidak lagi.. Hiks.."


Lana, Maura, Ali dan Kinara tersentak mendengar ucapan Malik.


"Kedua Mami ku tidak mengizinkan kedua Papi Untuk mengantar kakak untuk ke Malaysia jika kalian tidak bisa kembali dengan selamat," lagi. Leher Malik tercekat.


Ia terus terisak. Sementara ke empat orang dewasa itu tergugu. "Nggak sayang,. Kamu salah paham sama Mami. Bukan itu maksud Mami, Nak.." lirih Kinara merasa bersalah.


Ia tidak menyangka jika pertengkarannya di balkon tadi terdengar oleh Malda hingga menyebbakan anaknya itu pergi dengan cara kabur seperti ini.

__ADS_1


"Haaaaaa.. Aaaaa Malda... Kembali..." raung Lana di pelukan Ali.


Kinara seperti orang linglung saat ini. Ia tertawa tetapi menangis. Ali tidak sanggup melihatnya.


Ia memeluk kedua orang saudara itu dengan erat. Sementara Maura dipeluk erat oleh Zia yang kini kembali tersedu saat surat terakhir dari Malda itu dibacakan.


"Maka dari itu, kakak mengambil keputusan ini. Jangan marah sama kakak dan juga sama adek Zia. Ia hanya menuruti ucapan kakak agar tidak memberitahu kalian berempat. Kakak tidak mau merusak kebahagiaan kalian semua.."


"Kakak pergi Pi, Mi. Jaga diri kalian. Kapanpun kalian ingin ke Malaya atau Malaysia, kakak menyambut hangat kalian disana. Semoga Allah melindungi kalian semua. Entahlah dengan kakak. Takdir tidak ada yang tau. Jika memang ini takdirku, maka cukup sampai disinilah kebersamaan kita semua."


Kinara dan lana meraung memanggil nama Malda.


"tidaaaaaaakkkk... Maldaaaaaaa!!!"


"Aaakkkkhhhhtttt... Sakit... Papiii... Mamii.. Biarkan kakak pergi!!!!" pekik Malda di dalam pesawat dengan mata terpejam.


"Ajal tidak ada yang tau. Jika ada umur panjang kita pasti akan bertemu lagi. Semoga kalin selalu bahagia. Papi lana.. Terimaksih sudah mengurus kakak selama ini. Kakak banyak mengucapkan terimakasih yang tak terhingga untuk papi. Semoga Allah membalsnya dengan surga kelak. Begitu pun untuk mami Kinara. Mami Kinara, mami terbaik yang pernah ku temui. Terimakasih. Jangan menagis. Dan jangan marah sama kakak. Kakak Pergi. Kakak sangat menyayangi kalian semua.. Sangat. Salam hangat, Puan Maldalya Al amirullah syam! Hiks.. Hiks,.. Kakaaaakkkk"


"Haaaaaaa..... Tidaaaaaakkkkk."

__ADS_1


__ADS_2