Penantian Kinara

Penantian Kinara
Mimpi bang Lana


__ADS_3

''Bangun Nak! Kamu masih ingin tidur seperti ini?! Mak udah nungguin kamu selama dua hari loh.. ih bangun!'' seru Mak Alisa dengan suara naik satu oktaf.


Papi Gilang dan Ali terkekeh-kekeh melihat Mak Alisa begitu kesal terhadap Lana. Ia menarik tubuh Lana dan menghempaskan nya ke ranjang pasien hingga berulang kali.


''Ishh....baaa..nguuunnn...!!'' seru Mak Alisa semakin gusar karena sudah lebih dari dua jam ia menunggu namun, Lana tidak kunjung bangun.


Lana merasa dirinya sedang di taman bunga yang begitu luas. Seperti taman bunga milik Mak Alisa di rumah mereka di kota Medan. Lana berjalan menyusuri taman itu hingga menemukan Ayah Emil, Nara dan Ali, begitu juga dengan Mak Alisa dan Papi Gilang.


Mereka menoleh padanya saat melihat Lana mendekati mereka semua. ''Ayah?? Ayah kenapa?? Kenapa berdarah seperti ini? Loh, Ali?? Ali kenapa?!'' pekik Lana saat melihat Ali terkapar tak bernyawa di pelukan Nara yang sedang menangis pilu.


''Dek?? Kamu kenapa? Kok nangis?? Loh, loh? Kamu sedang hamil?! Kok bisa?! Bukannya Ali belum lagi menyentuhmu bukan?! Kenapa ini? Ada apa ini?! Mak!'' panggil Lana pada Mak Alisa.


Mak Alisa menatap Lana dengan wajah berseri dan tersenyum manis padanya. ''Papi??'' panggil Lana lagi pada Papi Gilang.


''Jaga kakak dan adikmu Bang.. kami harus pergi. Tempat kami bukan disini. Mungkin ayah yang dulu pergi??''


Deg!


Lana terkejut. ''Nggak! Mak nggak boleh pergi! Ini ada apa sih?! Ada yang bisa jelaskan tidak?! Ini, ini kenapa lagi?! Ali kenapa, Dek?! Ali kenapa?!'' seru Lana dengan suara meninggi.


Nara menoleh padanya. ''Hiks, suami adek, Bang! Ia jatuh ke jurang saat bertugas, tapi tidak bisa pulang karena tubuhnya tersangkut di batu karang. Dan saat di temukan pun, keadaannya jadi seperti ini! Hiks.. bang Ali.. nggak! Abang nggak boleh ninggalin Adek! Abang harus bangun! Bangun Bang! Gimana dengan anak kita?!'' pekik Nara sembari mengguncang tubuh Ali yang tidak berdaya.


Lana tertegun. ''A-ali ja-jatuh ke-ke ju-jurang?! Kok bisa?!'' seru Lana


Ia mendekati ayah Emil yang terdiam dengan raut wajah pucat. Ayah Emil menepuk bahu Lana dan menunjukkan sesuatu di balik pohon itu.


''Adek...''


Deg!


''Adek?? adek yang mana??'' tanya Lana kebingungan.

__ADS_1


Ayah Emil menunjuk Annisa yang sedang menangisi Tama juga. Lagi, Lana tertegun. ''I-ini ada apa sih?! Kok bisa begini semuanya?! Ada apa?! Kenapa kalian seperti ini?! Kenapa ayah, Mak, Papi, adek Annisa dan bang Tama ada disini?! adek Nara juga?! Ada apa ini ya Allah.. ada apa huh?!'' seru Lana lagi.


Tak ada yang menyahuti ucapan Lana semua nya terdiam seribu bahasa. Lana masih saja tertegun dengan kedua saudara dan kuah ketiga orang tuanya.


Entah Kenapa ahatinay begitu tidak nyaman dengan yang ia lihat ini. ''Pulanglah nak. Tempat mu bukan disini. Tapi di rumah mu. Jaga Kakak dan adikmu. Terutama Nara dan Annisa. Mereka sangat butuh dirimu saat ini. Kami harus segera pergi. Ayo Bang, Papi! Kita pergi!'' Kata Mak Alisa pada kedua suaminya.


Ayah Emil tersenyum dan mengangguk, begitu juga dengan Papi Gilang. Mereka bertiga bergandengan tangan menuju cahaya putih yang baru saja ada. Entah darimana cahaya itu, Lana pun tak tau.


Yang jelas, kedua orang tuanya pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Wajah ketiganya begitu berseri-seri seperti bulan purnama yang sedang penuhnya.


''Ayah? Mak? Papi?? Kalian mau kemana?? Kenapa kalian tinggal kan Abang disini? Tunggu dulu!'' cegat Lana.


Ia berdiri menjulang tepat dihadapan kedua orang tuanya yang sedang tersenyum menatap nya sedang Lana menatapnya dengan raut wajah kebingungan.


''Pi??'' panggil Lana pada Papi Gilang.


Pai Gilang tersenyum dan mendekati putra mau itu. Ia memeluk putra sulungnya itu dengan sayang. ''Nak.. waktu kami hampir tiba. Maka dari itu, kami harus pergi. Papi harap, kamu bisa menjaga Kakak dan kelima adikmu dengan baik. Jaga dan sayangi mereka seperti kami menyayangi mu. Kamu ayah bagi mereka. Kamu pengganti Papi dan Ayah Emil, hem? Bawa pulang Ali untuk Nara satu tahun lagi. Jika tidak bisa, suruh Ali untuk kabur agar bisa menemui Nara..'' lirihnya dengan wajah tertunduk


Papi Gilang mengangguk. Papi Gilang melepaskan pelukannya dari tubuh Lana. Kemudian mereka bertiga pergi bersama ke cahaya putih itu.


''Tunggu Mak! Ayah! Papi! Abang masih bingung! Ini ada apa sih?! Kalian mau kemana?!'' seru Lana sambil berlari mengejar letih orang itu yang semakin menghilang dalam cahaya kabut putih itu.


''Nggak! Kalian nggak boleh pergi! Masa' iya Abang baru dapat berita bahagia malah menjadi bencana sih?! Adek!'' serunya saat mengingat Nara dan Annisa.


Ia berlari dengan kencang menuju Nara dan Annisa.


Deg!


Lana berhenti di tempat. Ia tidak melihat siapa pun disana. ''Adek! Nara!! Annisa!! Kalian di mana!!! Abang disini!!!'' seru Lana sambil berteriak mengelilingi taman itu.


Taman yang sangat persis seperti taman bunga Mak Alisa di kota Medan. ''Kalian kemana sih?! Ini ada apa sebenarnya?!'' pekiknya semakin merasa tidak tenang.

__ADS_1


Lana berjalan kesana kemari untuk mencari kedua adiknya. Tapi tidak juga ia temukan. Lelah harus mengelilingi seluruh taman, Lana berhenti di sebuah pohon rindang.


Matanya terpejam saat merasakan hembusan angin sepoi-sepoi menyentuh tubuhnya yang lelah karena mengejar kedua orang tuanya.


''Bang?? Kamu dengar Mak bukan?! Kamu kenapa nggak bangun sih?! Ishh.. ini udah malam loh.. katanya tadi mau makan manisan di colek bumbu rujak? Ini sudah Mak buatkan. Bangun Nak.. kamu mau ninggalin Mak??''


Deg!


Deg!


''Mak!'' Seru Lana dalam tidurnya.


Ia kebingungan saat melihat sekitar bahwa dirinya saat ini sedang berada di rumah sakit. Mak Alisa menatap sendu padanya. Lana terkejut lagi.


''Mak?? Ini beneran Mak Abang??'' tanya Lana dengan raut wajah kebingungan.


Papi Gilang terkekeh, Ali pun demikian. ''Ya iya atuh, Bang! Ini tuh istri Papi. Mak kamu. Mak Alisa. Kok lupa sih? Apa.. karena kamu tidurnya terlalu lama, makanya kamu jadi amnesia??'' lagi dan lagi Papi Gilang Terkekeh.


Lana masih kebingungan. Ia melihat Ali yang kini sedang tersenyum padanya. Begitu juga dengan Mak Alisa. Namun, raut wajah tuanya itu begitu sendu.


Lagi, Lana bertambah sesak dadanya. Tatapan mata sendu itu begitu nyata terlihat sekarang. Lana masih kebingungan. Ia sedang menebak-nebak arti dari mimpinya baru saja.


''Apa maksud dari mimpi itu? Kenapa Mak pergi bersama kedua suaminya. Ayah dan Papi? Kenapa juga dek Annisa menangisi bang Tama? Lalu Ali? Ali terlihat begitu segar saat ini. Kenapa di mimpi itu begitu terlihat, jika Ali begitu pucat? Jantungnya sangat lambat berdetak saat aku merasakan nya tadi? Ada apa ini?? Kenapa dengan mimpi ini? Ada apa??''' Lana terus bergumam di dalam hati.


Matanya menelisik ketiga orang yang sedang tertawa di hadapan nya saat ini. Ada apa? Tabir rahasia apa yang sedang di kirimkan kepadanya ini?


Entahlah. Cuma Tuhan yang tau.


💕💕💕💕


Bagi yang udah baca, boleh di scroll aja ya. Tapi jangan lupa like nya!

__ADS_1


__ADS_2