Penantian Kinara

Penantian Kinara
Tugas yang gagal


__ADS_3

Karena lelah memijat Ali, akhirnya Nara pun ikut tertidur disamping Ali. Nara sadar saat kantung kemih nya tersangka penuh.


''Sudah jam 12 lewat?'' gumamnya. Ia bangunkan Ali untuk melakukan ibadah mereka yang tertunda.


Ali bangun dan langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu mereka mulai melakukan sholat isya yang tertinggal dan disambung dengan sholat tahajud.


Hujan diluar masih mengguyur bumi. Hingga mengakibatkan genangan air dimana. Udara begitu dingin, membuat semua ummat manusia bergelung dalam selimut hangat nya.


Begitu juga dengan Ali dan Nara. Pengantin baru itu sudah berada di dalam selimut untuk saling menghangat kan tubuh Mading di cuaca yang begitu dingin hingga mereka terlelap kembali.


Keesokan harinya.


Ali kembali bertugas bersama Lana. Tapi ada yang aneh dengan dua pria dewasa itu.


Mereka berdua saling tertawa mengingat kejadian dimana mereka saling gagal dalam bertugas. Mereka tertawa terbahak karena mengingat naseb mereka yang begitu tragis.


Pengantin baru tapi tidak bisa seperti pengantin baru yang lainnya. Ingin bersenang-senang dengan sang istri tapi terkena palang merah. Itu untuk Lana.


Lain lagi dengan Ali. Ali bahkan lebih parah. Ia harus menahan diri agar tidak menyentuh sang istri sampai waktu yang di tentukan.


Ali sampai urung uringan sendiri jadinya. ''Ck! Abang masih enak! cuma sepuluh hari! lah aku? Dua tahun lagi euuyy.. bisa berkarat ini pusaka saking lamanya masuk sarang! Ck! Naseb.. naseb...'' keluh Ali pada Lana.


Lana tertawa terbahak.


''Hahaha.. kamu memang harus puasa Li. Hahaha... sabar...'' kata Lana sengaja meledek Ali. Ali merengut.


Darimana Lana tau? Semua itu terbuka saat Maura tak sengaja melihat tanda merah yang ada di leher Ali. Ali sangat malu. Ia tidak bisa menyembunyikan wajah merona nya pada mereka berdua.


Lana dan Maura mengejek Ali habis habisan. ''Hahaha... sudah buka gembok ternyata adek, Bang! Tapi jalannya kok nggak kayak pingguin ya?'' kata Maura dengan wajah polosnya.

__ADS_1


Sedangkan Ali melototkan matanya. Ia menatap horor pada Maura. Maura terkekeh, ''Kenapa sih, liatin Kakak kayak gitu? Bener kan yang Kakak bilang?? Kamu belum berhasil jebol tanggul! Tapi sudah berhasil icip-icip si polos Nara?''


Ali melototkan lagi matanya. Wajahnya semakin merah karena malu.


Buhahahaha...


Lana tertawa terbahak mendengar ucapan Maura untuk Ali. Ia tak menyangka jika Ali begitu mesum otaknya saat bersama adiknya yang super polos itu.


Lana dan Maura tertawa bersama. Ali Hanya bisa menghela nafasnya melihat tingkah pasangan pengantin baru yang begitu absurd menurutnya.


''Hadeeuuuhh.. habis dah Abang, dek! diledekin sama kedua Kakak kamu ini?? Hem.. ck!'' gerutu Ali pura-pura pasrah


''Hahaha... ternyata kamu sudah bisa meracuni adek Abang, ya Ali?? Hahaha... cepat sekali kamu mengajarinya! Gimana?? Sudah berhasilkah??'' goda Lana lagi pada Ali.


Ali terkekeh tapi merengut. ''Apanya yang udah Abang! Di ajarin sih udah! 'Kan seperti yang aku bilang tadi? Harus nunggu! dua tahun lagi!'' ketus Ali yang semakin membuat Lana dan Maura tertawa terbahak.


Ali berdecak sebal namun terkekeh karena melihat Lana yang sudah tertawa dan tidak terdiam seperti tadi lagi. Ia lebih menyukai Lana yang tertawa dibandingkan jika Lana berdiam diri saja.


''Hem.. kayaknya Abang juga tidak berhasil ya bertugas tadi malam??'' ledek Ali balik pada Lana.


Lana yang sedang tertawa terbahak berhenti tertawa seketika. Ia berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Maura pun jadi salah tingkah. Ali tersenyum lebar. ''Hahaha.. Abang pun sama kan kayak aku??? Nggak berhasil juga jebol tanggul, eheeemm...!! hahahaha...'' Ali tertawa terbahak saat melihat Lana dan Maura salah tingkah bersama.


Mereka menunduk malu, sedangkan Ali semakin gencar menertawai nya. ''Hahaha.. belum jebol juga ternyata!! Hahaha... ternyata tugas malam yang Abang bilang itu tidak jadi??? Kenapa?? Si jago merah kah?? Atau... si palang merah???''


Lana melototkan matanya. Sementara Maura berlari ke dapur untuk bersembunyi karena malu dengan ucapan Ali yang benar adanya. Ia berlari ke dapur dengan tergesa-gesa.


Lana yang melihat itu melongo. Sedangkan Ali, ia tertawa terbahak saat menyadari jika tebakan nya itu benar adanya.

__ADS_1


Buhahahaha...


Pecahlah sudah tawa Ali. Lana semakin malu dihadapan Ali, adik ipar sekaligus rekan nya ini. Tugas yang katanya tadi malam ia ceritakan ternyata tidak berhasil juga. Padahal Lana sudah jumawa sama Ali.


Bahwa ia akan sukses besok pagi karena sudah mendapatkan sumber vitamin dari Maura. Eh Ternyata?


''Hahaha... tugas yang gagal!! hahaha...'' puas sekali Ali bisa menertawakan Lana balik. Setelah tadi kan dan Maura yang menertawakan dirinya.


Sekarang gantian, Ali yang berhasil menggoda Lana. ''Pantas saja waktu itu muka abang kayak air butek! Keruh tak berbentuk! Ternyata eh, ternyata.. gagal bertugas karena palang merah toh.. hahaha... tadi malam bukan main senangnya muji diri sendiri bisa! Noh, takabur kan Abang! hahahaha...'' Ali semakin gencar menggoda balik, atasan sekaligus Abang ipar nya itu.


Sementara Maura tertawa cekikikan di dapur seorang diri karena mendengar ledekan Ali untuknya dan juga Lana.


Entah apa yang terjadi jika Nara juga ada disana. Maura tidak akan bisa membayangkan jika Nara akan memukul Ali habis habisan karena telah berhasil membuka rahasia mereka.


Bukan rahasia sih, tapi karena ketahuan oleh Maura. Ck! Dasar Maura! Sungguh mata yang begitu terang. Padahal, bintang-bintang itu tersembunyi. Hanya mata yang jeli saja yang tau.


Ya seperti kakak iparnya ini. Bisa-bisa nya ia tau sesuatu yang tertutup itu. Hingga sesuatu yang tersembunyi itu pun bisa terlihat di matanya.


Mereka asik tertawa dengan hal masing-masing. Sambil melempar ledekan dan canda bersama. Hingga tak terasa waktu Nara pulang sekolah pun sudah tiba.


Nara pulang sekolah langsung kerumah Lana. Karena ia tau, jika sang suami pasti sudah berada di sana menunggu nya bersama kedua kakak tersayang nya.


Ia berjalan gontai. Sedari di sekolah tadi, ia sudah merasakan tidak enak badan. Hatinya terbesit satu nama.


Yaitu saudara kembar nya. ''Apakah Abang sakit?? Biasanya hak seperti ini akan terjadi jika Abang sakit. Maka aku pun akan merasakan sakit.'' Keluh Nara dalam hatinya.


Cuaca yang begitu terik ia paksa untuk lewati. Dengan tubuh yang semakin tidak seimbang, ia melangkah masuk menuju rumah Lana. Dari luar saja ruang itu sudah begitu riuh dengan gelak tawa Lana abangnya dan juga Ali suaminya.


Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas suara tawa itu begitu keras hingga terdengar sampai keluar.

__ADS_1


__ADS_2