
Tiga bulan berlalu bagi Ali begitu cepat. Saat ini ia dan Lana masih saja berkutat dengan para penyusup ilegal itu.
Sudah hampir sebulan ia sama sekali tidak menghubungi putra angkatnya yang sedang berada di Jakarta.
Ia melamun saat sedang bertugas. Lana menghela nafasnya. ''Bersabarlah. Kita akan pulang ke Medan lima bulan lagi. Dan tiga bulan dari sekarang, Gading akan di jemput oleh adek untuk dibawa pulang kerumah kalian. Untuk itu.. bersabar lah.'' Ucap Lana menenangkan Ali yang sedang duduk termenung di camp nya saat ini.
Tangan itu terus bergerak menyusun segala peralatan untuk pergi lagi besok pagi. Tapi tidak dengan hati dan pikiran nya. Pikiran dan hatinya berkelana entah kemana.
Ia mengingat sang istri, orang tuanya, kedua adiknya dan juga putra kecilnya. Gading. Bocah kecil itu begitu membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari mereka berdua.
Tapi apa hendak dikata jika jalan hidup mereka memanglah seperti itu. Beruntungnya Ali, Nara begitu sigap menangani Masalah Gading. Sekali ia memberikan pesan melalui ponsel yang ia pesankan kepada Renaldi melalui ponsel Gading yang ia beli sebelum berangkat ke Jakarta, istri kecilnya itu menuruti perintah nya dengan baik.
Hanya saja.. rasa rindu itu selalu menyiksa dirinya Setiap saat dan setiap waktu Ali selalu Merindukan Nara. Entah kenapa, hari nya begitu kacau mengingat mimpi yang begitu menakutkan terjadi satu Minggu yang lalu.
Mimpi buruk yang merubah hidupnya menjadi sedikit tidak tenang dan gelisah.
''Bersabarlah. Kita akan pulang ke Medan lima bulan lagi. Dan tiga bulan dari sekarang, Gading akan di jemput oleh adek untuk dibawa pulang kerumah kalian. Untuk itu.. bersabar lah.'' Ucap Lana menenangkan Ali yang sedang duduk termenung di camp nya saat ini.
Ali tetap diam. Ia tidak menyahuti ucapan Lana. Hatinya begitu gelisah saat ini. Entah kenapa, ia pun tidak tau. Yang jelas perasaan nya mendadak gelisah.
Puk, puk.
''Ali??''
''Hah iya Bang!'' sahut Ali begitu terkejut saat Lana menepuk bahunya begitu kuat.
''Jangan melamun.. kuatkan dirimu. Kamu harus sabar dan tenang. Jangan pikirkan mimpi itu. Itu hanya bunga tidur, hem?'' kata Lana pada Ali.
Ali mengangguk patuh walau hati dan pikiran masih terasa gamang. ''Baik Abang.. hanya gelisah sedikit sih. Itu aja kok.'' Sahut Ali.
Dengan segera ia berlalu pergi meninggalkan Lana yang sedang berusaha menekan sesak di dadanya melihat Ali tidak bersemangat ingin pulang ke Medan karena sejauh mimpi hingga ia dirundung pilu seperti itu.
''Abang nggak tau Li.. apakah mimpi itu benar atau tidak. Tapi yang jelas tabir rahasia dibalik mimpi itu memang benar adanya. Abang sendiri sudah merasakannya. Abang harap, apapun yang terjadi padamu, kamu bisa tabah. Karena inilah ujian di dalam pernikahan Kalian berdua. Biduk rumah tangga kalian berdua sedang di uji oleh yang maha kuasa. Semoga kalian berdua bisa menghadapinya bersama-sama..'' lirih Lana begitu sendu saat mengingat mimpi Ali satu Minggu yang lalu. Mimpi yang sama tiga bulan yang lalu, seminggu lalu kembali menghampiri Ali.
__ADS_1
Mimpi itu seperti nyata untuk Ali. Hingga ia begitu gelisah dan takut ingin pulang. Pikiran-pikiran buruk menerpa dirinya. Hah. Setan itu memang suka membisikkan sesuatu yang buruk pada kita tentang pasangan kita ataupun mimpi yang kita alami.
Jangan hiraukan. Karena tujuan utama nya adalah menyesatkan kita. Kalau bisa perkuat hati. Ikhlaskan yang akan terjadi. Karena memang itulah jalan takdir nya.
Lana berjalan memasuki camp nya untuk mandi karena sudah masuk waktu ashar. Hari ini ia dan Ali tidak bertugas karena baru kemarin mereka berdua selesai bertugas. Untuk hari ini mereka libur dulu. Besok, baru lanjut lagi.
Sementara di Medan sana, Nara pun ikut merasakan kegelisahan yang sama. Entah apa yang terjadi pada dirinya ia pun tidak tau. Yang jelas saat ini ia begitu gelisah memikirkan sang suami nan jauh disana yang sedang bertugas.
''Ya Allah.. ada apa sama Abang ya? Kok aku kepikiran terus sih? Kan waktu Abang pulang tinggal dua bulan satu minggu lagi. Dan Minggu besok aku akan menyusul Gading ke Jakarta bersama Mami dan Papi. Ada apa ya? Ishh... kok gelisah gini sih. Kalau saja jaringan ada di hutan sana pastilah enak ngomong sama Abang! Lah ini?? Ck! Ah, lebih sholat Sunnah aja deh. Biar hati tenang!'' katanya pada diri sendiri.
Hari ini adalah hari Minggu terakhir ia berada disekolah setelahnya ia akan libur panjang sambil menunggu ujian di fakultas USU mulai dibuka.
Nara keluar menuju mushola sekolah. Saat ini sudah memasuki pukul 11 lewat dua puluh lima menit.
Nara masuk ke mushola bertepatan dengan sang ketua OSIS juga masuk ke dalam mushola itu. Mereka berdua berpapasan tapi tidak saling bertegur sapa.
''Nara!'' panggil Zaskia sahabat Nara
Zaskia nyengir kuda. Ia menyikut lengan Nara dan menunjuk dengan dagu jika ada ketua OSIS mereka juga disana.
''Apa sih?'' tanya Nara semakin kesal dengan kelakuan sahabatnya ini.
''Itu...'' tunjuknya pada ketua OSIS mereka. Lebih tepatnya mantan ketua OSIS.
Nara menghela nafasnya. ''Iya.. aku tau.. terus, Aku harus apa coba? Harus deketin dia gitu? Minta maaf? Sedang aku aja nggak tau salah aku dimana! Dia nya malah yang diemin aku!'' kesal Nara pada Zaskia.
Zaskia terkikik geli. ''Biar aku yang coba ngomong sama Adam. Aku yakin, dia lagi kesal sama kamu. Saat terakhir kepulangan mu yang di jemput oleh seorang Om Om, Adam menjadi kesal gitu sama kamu. Kayaknya dia cemburu deh! Secara kan kita tau kalau kalian berdua itu akrab banget? Belum lagi tiap kali ada tugas pastilah kamu orang yang dicari untuk menjadi rekannya.''
Nara menghela nafasnya. ''Apa urusannya sama dia coba?! Wong akunya nggak pa pa tuh di boncengan sama yang lain?! Ishh..'' kesal Nara.
Hatinya yang sedang kesal kini bertambah kesal karena perkataan Zaskia sahabat nya. Nara menangis tersedu mengingat sang pujaan hati yang jauh disana.
''Hiks.. Abang...'' lirih Nara sambil terus terisak.
__ADS_1
Ia yang bertujuan ingin sholat Sunnah malah dikacaukan oleh ucapan Zaskia yang membuat beban pikiran nya bertambah. Seseorang dibalik dinding itu menghela nafasnya.
''Aku akan bicara padanya. Kayaknya dia kesal banget ya sama aku??'' gumamnya sambil keluar dari ruang bilik wudhu laki-laki.
Ia berjalan pelan menuju di mana Nara berada. Ia menghela nafas lagi saat mendekati Nara yang sedang terisak dan sedang di tenangkan oleh Zaskia sahabat nya.
''Ra...''
Deg!
''Adam!'' seru Zaskia karena terkejut melihat pemuda tampan calon perwira itu mendekati Nara dan duduk di sebelahnya.
''Maafkan aku Ra.. aku salah paham padamu.. maaf..'' lirihnya dengan menunduk.
Nara tidak peduli. Ia masih saja terisak dengan kepala ia sembunyikan di kedua lututnya.
''Ra .. maafkan aku...'' lirihnya lagi.
Nara menoleh dengan mata merah karena menangis. ''Pergilah. Tinggalkan aku sendiri! Aku ingin sendiri! Jangan mengganggu ku! Aku sedang kesal pada semua orang!'' ketusnya dengan wajah tajam menatap Adam dan Zaskia.
''Ra..''
''Pergi Dam! aku ingin sendiri! Jangan ganggu aku! Kamu juga Kia! kalian bisa nya hanya bisa membuatku kesal saja! Pergi!'' ketus Nara semakin kesal kepada sahabat nya ini.
Adam dan Zaskia menurut dan pergi dari hadapan Nara. Sementara Nara semakin tersedu setelah mengusir kedua sahabatnya.
''Ya Allah.. kuatkan aku.. lindungi suamiku dimana pun ia berada.. aku begitu merindukan nya.. hiks .. lindungi diri nya.. dari segala marabahaya yang sedang mengincar nya..'' lirih Nara di dalam hati.
Begitu juga dengan Ali. Ia pun ikut tersedu di sajadah nya saat ini. ''Ya Allah.. Engkau pemilik alam semesta dan seluruh isinya.. apapun yang terjadi ke depannya aku ikhlas. Karena ini adalah takdir untukku. Jaga istri dan anakku. Dan juga seluruh keluarga ku. Kuatkan mereka sampai aku kembali ke tempat dimana rumah ku berada.. lindungi kami disini ya Allah..'' lirih Ali dalam hati.
Lana yang melihatnya pun ikut menangis. Mimpi itu begitu mengganggu keadaan Ali saat ini. Semoga saja Ali kuat begitu juga dengan Nara.
Amiiinnn..
__ADS_1