Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kesalahan yang sama


__ADS_3

''Abang tidak bisa berbohong lagi sekarang! Cukup! Cukup sudah Abang berbohong kepada kami semua! Kali ini adek tidak akan tinggal diam!'' lanjut Nara lagi setelah lama kamar ruang inap itu hening.


Algi menggeleng. ''Jangan Dek.. cukup kamu saja yang tau.. jangan lagi yang lain.. Abang mohon..'' pinta Algi dengan wajah memelas nya.


''Nggak!!! Adek nggak mau bohong lagi!!! Abang pikir enak hidup dalam kebohongan?! Adek tersiksa Abang! Cukup Abang menuruti kemauan si brengsek tak bertanggung jawab itu! Tugas Abang sudah selesai padanya saat ayahnya di nyatakan meninggal dunia bukan karena Abang! Tapi karena penyakitnya! Cukup! Jangan membuat adek marah Abang! Sekali adek marah Abang nggak akan bisa menenangkan nya! Sudah berulang kali adek katakan! Mengaku dan akui semua itu kepada kedua orang tua kita! Tapi Abang tidak mau! Abang lebih suka berbohong dari pada jujur kepada kedua orang tua kita!''


Deg!


Deg!


Deg!


Semua yang ada di sana terpaku di tempat karena perkataan Nara. Apalagi kedua paruh baya itu. Ia menatap anaknya dengan wajah tak terbaca.


Nara menyusut cairan kental yang sudah menetes di tangannya. Ali dengan sigap memberikan sapu tangannya pada Nara. Nara menyambut nya.


Sssrrrrooottt...


Suara cairan kental itu Nara keluarkan dari hidungnya. Ali Terkekeh. Nara menatap lagi pada Algi. Ia belum puas, sebelum semuanya tuntas untuk ia buka.


Rahasia dua tahun lalu yang sengaja ia buka hari ini. Algi menangis dan menggeleng. ''Tolong sayang.. jangan.. biar Abang saja yang menanggung nya.. jangan kedua orang tua kita..'' pinta Algi dengan sangat mengiba.


''Enggak!! Sekali enggak tetap enggak! Adek macam apa aku ini, yang dengan sengaja membiarkan saudaraku sendiri harus menanggung kesalahan yang tidak pernah ia perbuat? Adik macam apa aku yang tega membiarkan Abang ku tersiksa dengan kondisinya sekarang ini. No more Abang! NO MORE!!'' tekan Nara begitu tegas.

__ADS_1


Ali sampai bergidik ngeri saat melihat kemarahan Nara. ''Sayang..'' panggil Papi Gilang.


''Stop Papi! Papi belum tau apa yang terjadi dengan Abang ! Adek tau semuanya! Adek tau semuanya! Abang!'' tunjuk Nara pada Algi.


''Abang bukan pelaku dari tabrak lari itu. Tapi Abang yang bertanggung jawab! Abang di tekan oleh anak korban tabrak lari yang dilakukan oleh putranya sendiri dengan dia membawa motor gede milik mu! Kau yang tertuduh bang Algi! Tapi dialah pelaku dari semua itu! Dia sengaja menjebak mu! Agar kehidupan mu bertambah sulit ! Kau di jebak olehnya untuk menanggung dosa yang ia perbuat pada Tiara! Sementara Tiara tidak tau, jika pemuda yang telah menodai nya adalah pacarnya sendiri! Itu yang ingin kamu tutupi dari ku Bang Algi?!?!'' Seru Nara dengan nada suara melengking tinggi.


Mami Alisa jatuh terduduk. Sedangkan Papi Gilang mengeraskan rahangnya. ''Kau di tuduh melakukan kejahatan yang tidak pernah kau lakukan! Kau sengaja di peralat olehnya untuk mengeruk uangmu! Selama dua tahun ini sudah berapa banyak uang yang kau habiskan untuknya! huh?! Ratusan juta bang Algi! Kau rela banting tulang untuk memenuhi semua keinginan penjahat itu! Kau ingin bilang apa huh?! Demi kedua orang tuanya?! Orang tua yang mana?! Orang tuanya sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu karena dirinya! Dirinya lah pembunuh kedua orang tuanya! Tapi ia melempar semua tuduhan itu padamu karena kau berada disana di saat pembunuhan terjadi! Kau saksinya!! Kenapa kau mau di bodohi olehnya Bang Algi!!!! Kenapa????... hiks .. adek sayang sama Abang! Makanya tanpa sepengetahuan Abang, adek selalu meminta uang lebih sama Mami, Papi dan Bang Lana! Bahkan Bang Ragata dan kak Ira pun tau tentang hal ini! Karena Bang Raga lah yang menangani Tiara saat ia mengandung saat ini dirumah sakit Kak Ira... aaaaaa...'' Nara tersedu di dalam pelukan Ali.


Ali pun ikut menitikkan air matanya. Mami Alisa sudah tak sanggup mendengar lagi tentang kenyataan pahit yang saat ini sedang di alami oleh putra bungsunya.


''Apa salahku dimasa lalu ya Allah.. hingga kedua putraku menanggung kesalahan yang sama??? Putraku....''


Brruukkk..


''Mamiii!!!'' pekik Algi


Tapi masih dalam perawatan. ''Mamiii.. hiks.. maafkan Abang Mami.. Abang terpaksa melakukan nya! Jika tidak, keluarga kita dalam bahaya! Abang takut jika dia melukai keluarga kita terutama Mami. Papi ingat nggak tentang kasus penganiayaan terhadap Mami satu tahun yang lalu?'' tanya Algi pada Papi Gilang.


Papi Gilang menatap Algi dengan wajah datar. ''Ya, itu semua karena Abang menolak keinginan nya untuk memberikan uang! Gara-gara Abang menolaknya, Mami yang jadi sasaran nya! Belum lagi toko Mami juga dirampok oleh mereka, Pi! Abang harus apa Pi?? Biarlah Abang keluar uang banyak, asalkan Mami tidak celaka! Semua ini untuk Mami, Pi.. untuk Mami.. hiks.. hiks..'' Isak Algi sambil memeluk Mak Alisa.


Ia tak peduli dengan tubuhnya yang masih sakit, yang di pikirankan sekarang adalah sang Mami. Surga nya.


Lana mengepalkan kedua tangannya. ''Baik, semua bukti sudah terungkap disini. Abang hanya perlu berbicara kepada gadis yang bernama Tiara, karena dialah saksi dari semua kejadian yang menimpa mu saat ini. Bukan begitu Algi??'' tanya Lana dengan suara dinginnya.

__ADS_1


Algi mengangguk. ''Papi! Ayo, kita selesaikan masalah ini! Jangan dibiarkan berlarut-larut! Pemuda sialan itu pasti akan kabur jika kita tidak bergerak cepat. Ali! Ayo, bantu Abang! Kita selesaikan masalah ini segera. Sayang, urus Mak sama kedua adik kita. Abang pergi dulu.'' imbuhnya


Maura mengangguk. ''Ya, hati-hati. Jika sudah, segera kabari kami.''


Lana mengangguk. Ia pergi setelah Maura mengecup tangannya dan juga tangan Papi Gilang. ''Jaga Mak untuk Papi. Jika sudah sadar, katakan yang sebenarnya padanya,'' kata Papi Gilang mengingat kan Maura.


''Tentu, Pi! Hati-hati!''


''Ya, assalamualaikum..''


''Waalaikum salam..'' sahut Maura dan Nara.


Sementara Algi masih sibuk berbisik lirih di telinga Mak Alisa. ''Maafkan Abang, Mi.. maafkan Abang.. Abang terpaksa.. sssttt...'' desis Algi


Nara menarik nya dan ia dudukkan di bangkar miliknya. Algi kesakitan saat merasakan jarum infus di tangan nya begitu menusuk daging kurusnya saat ini.


''Sudah, Abang istirahat aja dulu. Jangan berfikir yang macam-macam. Maaf.. kalau adek buka semua ini. Adek sayang sama Abang. Makanya adek terpaksa mengatakan nya kepada keluarga kita. Lihatlah tubuhmu? Begitu kurus dan tidak terawat. Abang sibuk mencari uang untuk menutup kejahatan penjahat itu! Adek nggak rela jika Abang diperlakukan seperti itu! Adek sayang sama Abang!'' ketus Nara dengan bibir bergetar.


Algi tersenyum namun menangis. Ia memeluk Nara dengan erat. ''Abang juga sayang sama adek. Sayang... sekali. Terimakasih sayang. Terimakasih! Cup!'' Algi mengecup kening Nara dengan air mata berlinang an.


Mami Alisa dan Maura tersenyum melihat dua saudara kembar yang saling menyayangi itu. ''Nak??''


''Mamiii!!'' sahut kedua nya.

__ADS_1


Mami Alisa tersenyum. Ia turun dari bangkar nya dan menuju Algi di papah oleh Maura. Tiba disana, ia memeluk kedua anaknya itu dengan sayang.


Maura tersenyum. Ia mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya. Satu masalah terselesaikan.


__ADS_2