
Ali tertawa saat merasakan jika seluruh tubuhnya kini di cubit halus oleh Kinara karena merasa malu di goda olehnya.
"Udah ih sayang. Lihat tuh ke empat anak kita sedang melongo melihat Mami nya begitu bar bar menerkan Papi mereka hingga jatuh terguling ke tanah seperti ini?" godanya lagi
Bukannya bangkit, Kinara malah semakin mengeratkan pelukannya. Bau harum tubuh Ali yang masih sama.
Wangi nafasnya pun masih sama. Hanya tubuh itu aja yang berbeda karena terlihat lebih kekar lagi daripada dulunya.
Kinara bisa merasakan jika otot perut Ali begitu keras saat ini. Ia semakin sesegukan. Gading terkekeh begitu pun dengan Ali.
Lana pun masih tertawa melihat sang adik menerkam suaminya hingga jatuh ke tanah dengan tubuh keduanya saling berpelukan.
"Bangun sayang. Bang Lana lagi liatin kita loh. Belum lagi tamu Papi? Mereka saat ini terkejut melihat kita tiduran disini. Kalau mau tiduran bersama Abang, nanti malam saja di kamar kita!"
Bugh!
Ali tertawa. Kinara bangkit dengan segera dari tubuh Ali dan duduk lesehan di tanah disampingnya.
Ali pun bangkit. Ia tersenyum melihat wajah Kinara. Ali mendekati wajah Kinara dan mengecup dahinya dengan sayang.
__ADS_1
Kecupan lama setelah mereka terpisah selama enam tahun lamanya. Lana tersenyum.
Kinara pun tersenyum, tetapi air mata itu terus mengalir di kedua pipi halusnya yang kini sudah semaklin chubby setelah enam tahun berlalu.
Kinara sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Ali rasanya tidak puas-puas menatap wajahnya itu.
Kinara kembali memeluk tubuh Ali saat Ali membisikkan kata cinta dan sayang untuknya. Keduanya tersedu lagi.
Cukup lama terpisah jarak dan waktu. Bahkan dirinya pun sudah di anggap tiada. Tetapi lihatlah faktanya saat ini.
Ali masih hidup dan masih sehat bahkan saat ini lebih tampan dari dulunya.
Kinara terkekeh, ia pun melepaskan pelukannya dari Ali dan segera berdiri di ikuti oleh Ali.
Masih sempat juga Ali membersihkan baju Kinara yang kotor akibat terjatuh tadi. Kinara tersipu malu.
Ternyata kebiasaan Ali tidak pernah berubah. Walaupun Ali terpisah darinya, Ali masih tetap sama dengan Ali yang dulu.
Lana mendekati Ali dengan mata berkaca-kaca. Ali tersenyum melihat Abang ipar serta seseorang yang sangat berjasa di hidupnya itu.
__ADS_1
"Apa kabar saudaraku? Kami sudah sangat lama menantikan kepulanganmu. Hampir saja terjadi jika kamu terlambat sedikit saja," lirih Lana di telinga Ali.
Ali tersenyum dan menepuk lembut tubuh Abang iparnya yang selama ini begitu menyayangi dan melindungi Kinara.
"Alhamdulillah, seperti yang Abang lihat. Aku masih baik-baik saja kok. Hanya saja.. Aku terlambat untuk pulang kesini karena ada seseorang yang harus ku tolong terlebih dahulu. Dan karena beliaulah aku masih hidup, Bang." Balas Ali dengan segera mengurai pelukannya dari tubuh Ali.
"Di mana orang itu? Abang ingin berterimakasih padanya." kata Lana lagi
"Mereka saat ini sudah berada di tempat yang semestinya Bang, Nanti aku ceritakan. Sebaiknya kita temui dulu lima orang yang berdiri di depan pintu itu. Yang kayak aku ini setan kali ya? Hingga mereka berwajah pucat seperti itu."
Lana dan Kinara tertawa. Ali mendekati Papi Gilang dan Mami Alisa. Ia tersenyum pada semua orang yang ada disana.
"Assalamu'alaikum Mak, Papi.. Abang pulang. Maaf jika agak sedikit terlambat. Abang harus menyelesaikan tugas abang dulu baru bisa pulang. Selama ini Abang udah sering kok bolak balik Medan. Tapi tidak bisa singgah dan menemui kalian. Karena memang ada hal yang sangat tidak bisa di tunda. Dan sekarang, Abang sudah kembali. Tugas Abang disana sudah selesai. Tidak akan pergi lagi. Sama seperti Bang Lana yang akan menjadi seorang pengusaha sukses!" imbuhnya dengan sedikit tertawa dan dibalas tawa juga oleh Lana.
Lana mendekati iparnya dan itu dan merangkulnya. Ali tersenyum, ia menggamit tangan kedua paruh baya yang kini berkaca-kaca melihatnya.
Grep!
Kedua orang itu memeluk Ali dengan erat. Ali pun demikian. "Hiks.. Kamu kembali Nak? Alhamdulillah ya Allah.. Pi. Putra kita kembali! Suami Kinara sudah pulang! Adek.." lirih Mami Alisa pada Kinara.
__ADS_1
Kinara tersenyum, ia pun mendekati sang Mami dan memeluk ketiga orang itu dengan erat.