Penantian Kinara

Penantian Kinara
Bang Lana Diserang!


__ADS_3

''Hemm.. Abang tidak pernah menyesal bisa menikah denganmu, sayang. Sungguh! Jual ini adalah yang paling Abang tunggu selama ini.. hemm.. udah jam sebelas lewat tiga puluh. Tidur yuk??'' kata Ali pada Nara.


Nara tak menyahut. Yang terdengar hanya suara dengkuran halus. Ali Terkekeh. ''Hemm.. dasar! Abang ngajakin ngobrol supaya kita lebih akrab, malah kamunya tidur. Cup! Selamat malam sayang..''


''Selamat malam Abang..'' lirih Nara dengan berbisik. Hanya dirinya yang bisa mendengarnya.


Nara semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh tegap Ali. Rasa nyaman itu menelusup ke dalam hati keduanya. Mereka berdua terbuai ke alam mimpi.


Sepasang pengantin baru beda usia yang sangat jauh, kini bersatu dalam hubungan dunia dan akhirat. Bersatu untuk selama nya. Mereka berdua yang begitu kelelahan dalam menyalami seluruh tamu, kini terlelap begitu saja setelah tadi berbagi cerita.


Di kamar sebelah.


Rayyan dan Algi baru saja terlelap saat suara ponsel berdering begitu kencang. Algi yang sudah terbuka ke alam mimpi tidak mendengar lagi. Sedang Rayyan, pemuda perjaka dua anak itu begitu terganggu tidurnya saat dering ponsel itu mengganggu pendengaran nya.


Triiingg..


Triiingg..


Triiingg..


''Ck! Siapa sih?? Ganggu aja! Hadeeeuuhh... mana udah tengah malam lagi. Ck!'' decaknya begitu kesal dengan suara ponsel yang terus berdering.


Rayyan menyibak selimut dan turun ranjang. Mendekati celana panjang nya yang tersampir di sofa kamar hotel. Kebiasaan Rayyan kalau ingin tidur selalu memakai celana pendek selutut tanpa CD. Terkadang pun hanya memakai sarung, sama seperti kebiasaan Sang Papi.


Pemuda berusia 23 tahun itu berdecak sebal saat melihat nama yang tertera disana adalah nama Maura.


''Ck! Apa sih Kak? Udah malam loh..'' decaknya lagi. Walau pun begitu, Rayyan tetap mengangkat panggilan dari Maura itu.


''Assalamu'alaikum, Ray! Kejalan komplek perumahan mangga dua! Kami diserang disini!'' kata Maura satu kali tarikan nafas.


Deg!


Rayyan terkejut, ''Waalaikum salam, baik kak! Ray bilang Papi dulu ya? Hati-hati! Assalamualaikum! Waduh!! Gawat! Bisa bahaya ini! Papi!'' serunya setengah panik.


Ia bergegas memakai celana panjang nya. Tanpa ia bangunkan Algi, Rayyan berlari ngacir ke kamar Papi Gilang dan Mami Alisa. Rayyan berlari ke ujung ruangan dimana kamar kedua orang tuanya.


Tanpa permisi, Rayyan mendobrak pintu yang memang tidak terkunci itu. Membuat dua paruh baya yang sedang duduk tafakur di sajadah itu terjingkat kaget.


Brruuaakk..

__ADS_1


''Astaghfirullah!!


''Botol ayam pecah!!'' ucap Mami Alisa begitu terkejut.


Papi Gilang menoleh pada Mami Alisa. Mami Alisa menoleh ke belakang. Rayyan yang baru saja jatuh terduduk itu terbengong mendengar ucapan Mami Alisa ketika terkejut.


Wanita paruh baya itu sampai memiringkan tubuh nya melihat Rayyan. Papi Gilang tertawa, begitu juga dengan Rayyan. Mami Alisa mendelik kesal pada putra sulung Papi Gilang itu.


''Hahaha .. Mami Kenapa?? Lagi ingat apa? Kok bisa jadi botol ayam pecah?? Hahahaha..'' ucap Rayyan sambil tertawa-tawa.


Begitu juga dengan Papi Gilang. Pemuda paruh baya itu begitu geli hatinya ketika mendengar suara sang istri menjadi latah gara-gara Rayyan mendobrak pintu.


Mami Alisa berdecak sebal. ''Kamu sih! Seharusnya tuh ya, kamu ketuk pintunya dan mengucapkan salam! Bukannya mendobrak pintu! Yang kayak terburu-buru aja! Memangnya ada apa sih?'' sewot wanita psruh baya yang memakai mukenah berwarna putih bersih itu.


Rayyan melototkan matanya saat mengingat pesan Maura baru saja. ''Bang Lana dan kak Maura dijalan mangga dua! Mereka butuh bantuan kita! Mereka di serang!''


Deg!


''Apa?!'' pekik dua paruh baya itu begitu terkejut.


''Ya, mereka berdua di serang! Hanya itu yang kak Maura katakan! Ayo, Pi!''


''Ayo, ayo! Bangunin Ali di kamar sebelah! Kita tidak bisa berdua saja! Tidak menutup kemungkinan jika mereka lebih banyak dari kita bukan?!''


Dan mereka terkekeh-kekeh bersama. ''Putra kamu itu sama persis seperti Lana! Hanya beda wajahnya saja yang mirip denganku! Ck! Bisa-bisanya wajah nya itu berubah saat sudah beranjak dewasa. Padahal ketika kecil dulu, wajahnya itu begitu mirip denganmu!'' kata Papi Gilang pada Mami Alisa.


Mami Alisa tertawa. ''Gimana bisa mirip denganku? Wong, Mak nya aja lain? Yang ngadon iya, sama orangnya!'' seloroh Mami Alisa sambil tertawa ngakak saat melihat wajah Papi Gilang merengut masam.


''Ck! Iya, iya! Putraku! Bukan putramu! Baiklah, Aku pergi dulu! Cup! Assalamualaikum!''


''Waalaikum salam, semoga kalian semua dalam lindungan Allah SWT.''


''Aminn..'' sahut Papi Gilang, ia kemudian berlalu meninggalkan kamarnya dan menuju kamar pengantin baru yang ada di ujung sana.


Sementara Rayyan langsung saja berlari ke kamar dimana Ali dan Nara berada. Tiba di pintu kamar itu, tanpa rem Rayyan menubruk pintu itu hingga kejedug pintu.


Membuat pintu kamar pengantin baru itu begitu gaduh.


Plaaakkk..

__ADS_1


Brruukkk..


''Allahu Akbar!!'' pekik Rayyan saat merasakan tubuhnya terpental ke belakang.


Ia meringis menahan sakit. ''Ck! Adek! Kok di kunci sih Pintunya? Sakit ini badan Abang! Ishhh..''


Duk!


Duk!


Duk!


Saking kesalnya, Rayyan menendang pintu itu hingga berulang kali. Papi Gilang yang terkejut melihat jatuh terjengkang kebelakang mendekati putra sulungnya itu.


''Kamu kenapa?? Gagal masuk???'' goda Papi Gilang saat mengamati pintu Kamar Nara dan Ali tertutup rapat. Papi Gilang terkekeh.


''Ck! Diam Papi! Bantuin! Sakit ini body tepos Abang! Mana badan udah cungkring! Malah terjatuh pula! Lah si adek, pintunya kok di konci sih?!'' sungut Rayyan begitu kesal.


Papi Gilang sudah tertawa terbahak melihat keadaan putra sulung nya itu. Ucapan Rayyan itu begitu geli ia dengar.


Sementara di dalam kamar pengantin baru itu, Ali mengerjabkan matanya saat mendengar suara gaduh dari depan pintu kamar nya.


''Jam berapa ini? Kok ribut banget sih di depan pintu? Sayang.. bangun dulu. Itu ada apa di depan pintu? Suaranya seperti Papi dan Rayyan deh.'' Katanya pada Nara yang baru saja terbangun.


''Hoaaammm.. baik, akan adek lihat dulu. Ada apa rupanya. Hooaamm.. masih ngantuk!'' celutuk Nara sambil turun dari ranjang dan mendekati pintu kamar mereka.


Ali Terkekeh mendengar ucapan Nara. Ia pun bergegas turun. Dengan segera memakai celana panjang dan baju kaos oblong miliknya.


Setelahnya, ia pun berdiri di belakang Nara yang masih berdiri mematung dengan kepala tersender di pintu. Ali terkekeh lagi.


''Awas dulu, sayang. Biar Abang buka pintunya. Barang kali memang penting!''


''Hem..'' sahut Nara dengan mata terpejam.


Ia tidak ingin mendengar apapun. Yang saat ini ia butuhkan adalah kasur empuknya. Setelah melihat Nara tidur kembali, Ali Dengan segera membuka pintu kamar mereka.


Ceklek!


''Ayo, Lana dan Maura dalam bahaya! Mereka saat ini di serang di jalan komplek perumahan mangga dua!''

__ADS_1


Deg!


''Apa?!''


__ADS_2