
Setelah pembicaraan Lana dan Kinara yang sudah seminggu berlalu, kini Kinara dan Ali sedang berjalan-jalan di pantai Sri Mersing.
Mereka berdua menyewa rental mobil untuk menuju ke sana yang berjarak dua jam empat puluh lima menit dari tempat mereka jika menggunakan jalan tol.
Kinara dan Ali tidak menceritakan apapun kepada Lana saat pergi. Saat ini Lana dan Maura sedang kelimpungan mencari adik dan iparnya itu.
Karena komandan mereka ingin makan malam dirumah Lana bersama istri dan anak mereka.
Untuk gading sendiri, sudah Ali antarkan kerumah Kak Annisa. Karena putra sulungnya itu ingin bermain dengan Tania.
Annisa memakluminya. Karena Ali sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang nantinya akan membuat Kinara sedih kembali seperti dulu.
Dan kini, pasangan pengantin Lama rasa baru itu sedang berjalan di tepian pantai sambil bergandengan tangan dan saling merangkul.
Bisa dilihat dari kejauhan perbedaan usia Ali dan Kinara. Ali yang terlihat seperti pria dewasa, sedang Kinara seperti keponakan bagi Ali.
Tetapi yang jeli memandang nya pasti akan tau, jika saat ini mereka berdua itu pasangan. Di tempat yang sama pernah Annisa dan Tama datangi dulunya.
Kinara terkekeh saat mengenang cerita Annisa tentang ular itu. Othor pun 🤣.
Ali semakin erat memeluk tubuh Kinara sambil berjalan. ''Sayangku?''
''Hem? Apa Bang?'' tanya Nara dengan suara lembutnya. Ia tersenyum melihat Ali.
Ali pun ikut tersenyum, ''Abang bahagia bisa bersama mu. Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Abang sebelumnya bahwa Abang akan menikah dengan adik rekan serta sahabat Abang sendiri. Bang Lana merupakan guru buat Abang. Darinya lah Abang banyak belajar tentang arti hidup. Pertama kali melihat wajah datarnya itu Abang sangat ingin bersikap sama seperti nya!''
Kinara tertawa. ''Kok gitu?'' tanya Kinara masih dengan tertawa.
__ADS_1
Ia mengingat bagaimana wajah Papi Gilang yang begitu dingin dan datar pada setiap orang. Dan itu di ikuti oleh Lana. Kinara tertawa lagi.
Ali pun ikut tertawa. ''Bang Lana sangat berjasa dalam hidup Abang sayang. Karenanya Abang bisa bertemu dengan istri tercinta Abang ini. Bidadari surgaku. Cup!'' Ali mengecup kening Nara membuat gadis kecil yang sudah berubah menjadi wanita itu memejamkan matanya.
Semilir angin berhembus mengibarkan gamis Kinara dengan hebatnya. Ali memegang ujung gamis yang hampir tersingkap ke atas itu.
''Abang ingin ngomong sesuatu sama kamu. Tapi.. Abang harap kamu jangan kecewa dan marah sama Abang.''
Deg!
Kinara mendongak melihat Ali. ''Ada apa? Apakah sesuatu yang sangat serius? Tentang kita??'' tanya Kinara dengan banyak pertanyaan hingga membuat Ali terkekeh.
Ali mengecup pipi kanan dan kiri Kinara karena gemas. ''Iya, ini memang tentang kita. Ini mengenai.. tugas Abang!''
Deg!
''Tugas?''
''Ya, tugas Abang masih di perpanjang hingga tahun depan...'' lirih Ali dengan suara tercekat membuat Kinara tersentak.
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..
Kinara mundur dua langkah. ''Tu-tugas lagi?? Ta-tapi apa yang terjadi Bang? Abang bilang kan udah selesai?'' lirih Kinara dengan bibir bergetar.
Ali maju satu langkah mendekati Kinara. Ia memeluk erat tubuh sang istri yang kini bergetar karena menangis.
''Maaf sayang.. Abang pun baru tau saat kita sudah berada di Papua dulu. Abang pun sama. Tetapi harus gimana lagi? Bukankah tugas seorang abdi negara ini adalah tugas Abang dan juga bang Lana? Ini pilihan kami bukan? Dan kamu juga sudah siap menanggung resikonya..''
__ADS_1
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..
Serasa dihantam petir dunia Kinara. Tubuh Kinara berguncang hebat. ''Adek nggak mau pisah sama Abang lagi. Hiks.. sudah cukup hiks tersiksa selama ini. Hiks.. dan sekarang hiks.. Abang ingin pergi lagi?? Hiks.. hiks.. tega Abang! Tega Abang padaku!''
Deg!
Berdenyut sakit jantung Ali saat mendengar sang pujaan hati menangis tersedu di pelukan nya. Kinara memeluk erat tubuh tegap Ali yang semakin nyaman terasa disaat angin kencang berhembus.
Ali pun ikut menangis. ''Maafkan Abang sayang.. ini pun berat buat Abang. Ini merupakan tugas Abang dan bang Lana untuk yang terakhir kalinya. Kami berdua sudah sepakat setelah ini tidak akan mengambil tugas ini lagi walau dengan cara apapun komandan dan jendral membujuk kami. Kami berdua pun sangat terpaksa melakukannya. Tetapi inilah yang harus kamu lakukan.. maafkan Abang sayang.. kami cuma diberikan waktu lima puluh hari saja sedangkan sekarang sudah sebulan kita bersama. Tersisa dua puluh hari lagi..'' lirih Ali semakin erat memeluk tubuh Kinara yang hampir ambruk di pasir putih di tepi pantai Sri Mersing itu.
Kinara sungguh tidak kuasa menahan rasa sakit dihatinya. Menjauh dari Ali selama satu setengah tahun saja hampir membuat nya gila.
Dan ini? Satu tahun lagi? Kinara tidak sanggup. Ia lebih baik ikut bersama Ali dari pada harus ditinggal seperti ini lagi.
Sungguh, ini ujian terberat di dalam hidupnya. Disaat ia sedang cinta-cinta nya pada sang suami, malah ia mendapatkan kabar kalau Ali harus kembali bertugas lagi ke perbatasan demi memenuhi janjinya.
Kinara luruh dari pelukan Ali dan terduduk di pasir pantai. Ali pun sama. Walau masih dengan saling berpelukan, tetapi keduanya tetap jatuh ambruk karena tidak sanggup menahan hati satu sama lain.
Jika Kinara berat karena separuh hatinya akan pergi. Sedangkan Ali, hatinya sakit melihat sang istri menangis tersedu karena nya. Tapi apa yang harus ia perbuat. Inilah jalan hidupnya.
''Sa-sayang.. udah.. jangan menangis.. Abang sakit melihatmu seperti ini.. senyum sayang.. hiks.. senyum...'' lirih Ali di telinga Kinara.
Kinara tidak sanggup menjawab ucapan Ali. Ia lebih memeluk erat tubuh hangat yang akan pergi meninggalkan nya dalam waktu dua puluh hari lagi.
Hati istri mana yang tidak sakit jika kenyataan nya seperti ini. Pastilah sangat sakit. Sakit karena akan ditinggal pergi, padahal Kinara berpikir jika ia dan Ali akan membina rumah tangga mereka tanpa berpisah seperti ini lagi.
💕
__ADS_1
Mampir yuk kesini.